UAN Dalam Kacamata Islam + Kiat Islami Sukses Menghadapi UAN

Ujian Akhir Nasional yang sering disingkat dengan UAN  ialah sistem yang ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Nasional (DEPDIKNAS) untuk diterapkan di sekolah-sekolah dalam rangka melihat penguasaan para siswa terhadap pelajaran yang disampaikan oleh para guru kepada mereka, selama mereka duduk di bangku sekolahnya dan untuk melihat siapa di antara mereka yang berhak untuk melanjutkan study-nya ke jenjang berikutnya.

Kalau kita memandang ketetapan ini dengan kacamata Islam, niscaya kita akan menemukan bahwa ketetapan ini tidak bertentangan sedikit pun dengan konsep Islam. Bahkan hal ini dianjurkan.

Di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut di atas adalah Allah Ta’ala mengabarkan kepada kita di dalam Surat Al-Baqarah bahwasanya Dia akan menguji hamba-Nya dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, untuk melihat siapa di antara mereka yang bersabar. Allah Ta’ala  berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

‘Dan Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar.” (QS. Al Baqarah: 155)

Dan di dalam Surat Al-Kahfi, Allah juga mengabarkan kepada hamba-Nya bahwasanya Ia akan menguji hamba-Nya untuk melihat siapa di antara mereka yang paling bagus amalannya. Allah Ta’ala  berfirman,

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya untuk Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amal perbuatannya.” ­(QS. Al Kahfi : 7)

Di dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  juga sering menguji para sahabatnya dengan melemparkan pertanyaan kepada mereka sebagaimana yang diriwayatkan dari sahabat yang mulia Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ.

Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Sesungguhnya di antara pepohonan itu ada sebuah pohon yang tidak gugur daunnya, yang mana dia adalah perumpamaan seorang muslim. Maka kabarkanlah kepadaku pohon apakah itu?” Sebagian para sahabat menjawab, “Ia adalah pohon yang ada di perbukitan.” Abdullah bin Umar berkata, “Sempat tebersit di dalam hatiku, ia adalah pohon kurma. Akan tetapi aku merasa malu untuk mengungkapkannya.” Kemudian para sahabat pun berkata, “Katakanlah kepada kami pohon apakah itu, wahai Rasulullah?’ Beliau pun menjawab, “Ia adalah pohon kurma.” (HR. Bukhari).

Sistem uji-menguji tersebut juga merupakan sunahnya para ahlul hadis. Sebagaimana apa yang dilakukan ahlul hadis dari Baghdad terhadap Imam Bukhari. Yang mana mereka mengacak seratus hadis dengan memindahkan sanad yang satu dengan sanad yang lain, dan teks yang satu dengan teks yang lain. Kemudian mereka menyodorkannya kepada Imam Bukhari untuk menguji kekuatan hafalan beliau. Kemudian beliau pun menempatkan sanad dan teks hadis tersebut pada tempatnya dan tidak ada kesalahan sedikit pun.

Dari ayat–ayat Alquran, hadis, dan sikap ahlul hadis tersebut menunjukkan bahwa sistem uji–menguji tersebut tidaklah tercela dalam syariat. Bahkan dianjurkan dan telah dikenal dan dipraktikkan oleh para pendahulu kita sejak 13 abad yang silam.

Kiat-Kiat Sukses Dalam Menghadapi UAN

1.  Shidqun Niyah (Niat yang benar: ikhlas)
Artinya, kita harus meniatkan bahwasanya apa yang akan kita jalani ini tidak lain hanya semata-mata mencari rida Allah dan menaati peraturan yang berlaku di negara kita. Dengan demikian, apa yang kita lakukan ini bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala.

Dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung dari niatnya, dan sesungguhnya seseorang hanya mendapatkan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya dinilai kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya dinilai dengan apa yang ia niatkan.” (HR.Bukhari-Muslim).

2. Selalu Mendekatkan Diri kepada Allah Ta’ala
Yaitu baik dengan amalan yang wajib atau pun dengan amalan yang sunah, sehingga dengan demikian kita mendapat pertolongan Allah Ta’ala. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ 

“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku,maka Aku mengumumkan perang  kepadanya. Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang aku lebih cintai daripada apa yang aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya , maka Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, menjadi penglihatannya yang dengannya ia melihat, menjadi tangannya yang dengannya ia memegang, menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Aku berikan, dan jika ia meminta perlindungan, Aku pasti melindunginnya. Aku tidak pernah ragu terhadap sesuatu seperti keraguan-Ku untuk mencabut jiwa seorang mukmin yang tidak menyukai kematian, dan Aku tidak ingin menyakitinya”. (HR.Bukhari)

3. Ikhtiar (Berusaha)
Yaitu dengan belajar sungguh-sungguh dan  mengerahkan segala daya dan upaya untuk menjadi yang terbaik. Sebagaimana pepatah Arab: Man Jadda Wajada. Barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti ia mendapatkannya.

4. Optimis (Percaya diri) dan Tidak Mudah Pesimis (Putus asa)
Yaitu percaya diri dan yakin bahwa kamu bisa dan lulus dengan hasil yang baik. Bahkan dengan hasil yang terbaik dan tidak mudah putus asa. Sebagaimana Nabi Ya’kub ‘alaihissalam berkata kepada anak-anaknya,

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

” Wahai anak-anakku, pergilah kalian. Carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya. Dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang kafir.” (QS. Yusuf : 87)

5. Tawakal kepada Allah Ta’ala
Yaitu dengan menyerahkan segala usaha, daya, dan upaya yang kita lakukan selama ini kepada Allah dan berbaik sangka kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

 وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ 

“Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan cukupkan keperluannya.” (QS. Ath-Thalaq : 3)

6. Berdoa
Yaitu kita meminta kepada Allah Ta’ala agar Allah mudahkan segala urusan kita dan memberikan kita yang terbaik, baik ketika UAN atau pun sebelum UAN. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Rabb-mu berfirman (yang artinya), “Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku perkenankan doamu.” (QS.Ghafir: 60)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

عن علي رضي الله عنهم قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : الدعاء سلاح المؤمن و عماد الدين و نور السماوات و الأرض

“Doa itu adalah senjatanya seorang mukmin, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi.” (HR. Hakim)

Hal-Hal yang dilarang baik sebelum, ketika, dan sesudah UAN

1. Tidak berbuat syirik (menyekutukan Allah)
Yaitu dengan datang kepada kuburan, kemudian meminta kepada penghuni kuburan tersebut agar dimudahkan dalam menjawab soal, maka ini tidak boleh bahkan haram karena ini termasuk kesyirikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah berfirman (yang artinya), “Aku adalah Zat yang paling tidak butuh terhadap sekutu. Barangsiapa yang menyekutukanku maka Aku tinggalkan ia dan sekutunya.” (HR. Muslim)

2. Tidak boleh berbuat curang
Yaitu entah dengan cara menyontek, membeli soal, dan yang semisal dengannya, karena termasuk kecurangan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang berbuat curang maka bukan termasuk golongan kami.”  (HR.Ibnu Majah)

3. Bernazar
Yaitu dengan mengatakan,  “Seandainya saya lulus, saya akan berpuasa satu minggu, atau bersedekah..” atau yang semisal dengan ungkapan ini. Maka ini tidak boleh karena dilarang oleh Rasulullah.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّذْرِ وَقَالَ إِنَّهُ لَا يَرُدُّ شَيْئًا وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنْ الْبَخِيلِ

Dari Ibnu Umar, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dari bernazar. Kemudian lantas bersabda, “Sesungguhnnya nazar itu tidaklah menolak sesuatu sedikit pun, dan bahwasanya nazar itu hanya keluar dari mulut orang yang bakhil (kikir).” (HR.Bukhari)

4. Saling coret-mencoret  baju setelah lulus
Perbuatan ini dilarang dalam Islam, karena ia merupakan bentuk tasyabbuh terhadap orang kafir (dan orang fasik -editor). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 من تشبه بقوم فهو منهم 

” Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. Abu Daud)

5. Niyahah (Meratap)
Yaitu baik menangis dengan suara lantang, memukul pipi, merobek-robek baju, atau lebih-lebih dengan bunuh diri ketika tidak lulus UAN –na’udzubillahi min dzalik, ini termasuk perbuatan jahiliyah.

Mudah-mudahan tulisan yang sederhana ini bermanfaat sekaligus sebagai cambuk bagi diri penulis pribadi, teman-teman seperjuangan, serta kaum muslimin pada umumnya. Wallahu a’lam bisshawab.

Penulis: Lalu Adiatman rahimahullah.. (Semoga Allah melapangkan kuburnya, dan menjadikan tulisan ini pemberat amal kebaikannya)
Editor: Roni Nuryusmansyah

*) Dikutip dari note (catatan) facebook penulis

Selasa, 17 Dzulhijjah 1434 H / 22 Oktober 2013 M
Ketika rinai-rinai hujan mewarnai senja tiap petang..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *