The Second: Shafar

Tak terasa, bulan-bulan mulia telah berlalu. Kini kita tiba di sebuah bulan yang bagiku identik dengan ujian dan liburan semester ganjil. Karena seperti tahun lalu, kampus kami mengadakan ujian akhir semester ganjil beserta liburannya di bulan ini. Sebuah bulan yang menjadi runner-up dan selalu meraih medali perak. Jika diibaratkan dengan arena balap, maka dia selalu menyandang gelar nd, singkatan dari second, di belakang namanya. Dialah bulan Shafar, sebagaimana tertera pada judul di atas.

Secara bahasa, Shafar artinya sunyi atau kosong. Dinamakan demikian karena sunyinya rumah-rumah dari penghuninya karena keluarnya mereka untuk berperang dan bepergian.[1] Tidak ada keistimewaan khusus di bulan ini. Namun, ada suatu hal unik yang harus kita garis bawahi. Masyarakat jahiliyah dahulu merasa sial dengan kehadiran bulan Shafar. Bahkan sebagian mereka takut untuk bepergian dan membangun rumah sebagaimana dahulu mereka takut mengadakan acara pernikahan di bulan Syawwal.[2]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas menolak keyakinan ini. Beliau bersabda, “Tidak ada merasa sial dengan Shafar.”[3] Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar mengatakan bahwa yang dimaksud Shafar di sini ialah bulan Shafar.[4] Contoh lain yang masing mengakar kuat di hati-hati kaum muslimin saat ini adalah anggapan sial terhadap angka 13, memotong kuku di malam hari, berkedipnya mata sebelah kiri, pecahnya perabotan, dan hal-hal serupa.

Versi lainnya, sebagian kita masih meyakini bila ada burung gagak melintas di atas maka itu pertanda akan ada orang mati. Emangnya burung gagak malaikat maut apa? Bila burung hantu berbunyi pertanda ada pencuri. Burung hantunya kayak detektif aja, bisa ngebedain yang mana yang mau mencuri yang mana pulang malam. Bila mau bepergian, lalu di jalan menemukan ular menyeberang maka pertanda kesialan sehingga perjalanan harus diurungkan. Ular pun jadi pelampiasan kesialan. Kasian.

Sebaiknya, hendaknya kita bertawakal yakni menyerahkan segala urusan sepenuhnya hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla tanpa melirik kepada selain-Nya. Karena hanya Dialah yang menetapkan takdir seluruh makhluk-Nya. Tidak ada dedaunan yang jatuh dari pohonnya melainkan atas kehendak-Nya. Dengan demikian, insya Allah kita akan melangkah penuh optimis.

 

Selasa malam, 2 Shafar 1433 H / 27 Desember 2011 M
Ketika seperdua malam telah berlalu..

 

Penulis: Roni Nuryusmansyah
Artikel: www.kristalilmu.com

 

__________
[1] Bida’ wa Akhtha’, hal. 251
[2] Taisir ‘Aziz Hamid, hal. 380
[3] HR. Bukhari, 5757, dan Muslim, 2220
[4] Latha’iful Ma’arif, hal. 74

Comments

  1. By RRT

    Reply

    • By Roni Nuryusmansyah -admin-

      Reply

  2. By ard

    Reply

    • By Roni Nuryusmansyah -admin-

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *