Tebarkan Salam

Islam adalah agama yang paripurna. Ia tidak hanya merajut ikatan antara seorang hamba dengan Rabb-nya saja, melainkan ia juga merangkai ruang korelasi antar sesama umat manusia di dunia. Tak heran jika begitu banyak adab-adab yang Islam ajarkan kepada umatnya, melalui kalamullah dan lisan Rasul-Nya.

Salah satu adab yang indah, etika yang memesona, dan akhlak yang sangat dianjurkan di dalam Islam ialah menebarkan salam. Salam adalah ungkapan doa agar Allah senantiasa meliputi seseorang dengan keselamatan, kasih sayang, dan keberkahan-Nya. Sungguh sebuah harapan tulus bertabur kebaikan.

Agar kita semakin termotivasi menebarkan salam, alangkah baiknya kita menilik sejenak beberapa keutamaan yang mampu digapai dengan menebar salam.

Perintah Ar-Rahman
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah engkau memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum engkau meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.” (QS. An-Nur: 27)

Di dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengajarkan sebuah adab yang agung yaitu mengucapkan salam. Allah Ta’ala memerintahkan hambanya tatkala hendak masuk ke dalam rumah orang lain agar meminta izin dan mengucapkan salam setelahnya. Hendaknya ia meminta izin tiga kali, jika tidak direspon, maka selayaknya ia beranjak dari rumah tersebut.

Bahkan, dalam banyak hadis disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga memerintahkan para sahabat untuk menebarkan salam. Satu di antaranya adalah apa yang dituturkan oleh Barra’ bin Azib radhiyallahu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami dari dengan tujuh perkara.” Lalu beliau menyebut satu di antaranya, “Mengucapkan salam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pilar Syiar Islam
Salam adalah tonggak kokoh dalam syiar Islam. Bahkan ia merupakan ciri khas seorang muslim. Salam bagaikan satu di antara sekian barometer yang membedakan umat Islam dengan umat selainnya.

Diceritakan bahwa seseorang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya, “Amalan apakah yang paling baik di dalam Islam?” Beliau pun menjawab, “Engkau memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal maupun tak engkau kenal.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis di atas menunjukkan betapa besarnya keutamaan menyebarkan salam kepada khalayak ramai, baik yang dikenal maupun tidak, tanpa mengkhususkan kepada individu atau person tertentu. Sampai-sampai Nabi menyifatinya sebagai amalan yang paling baik di dalam Islam, setara dengan memberi makan orang yang kelaparan.

Jalan Menuju Surga
Menebarkan salam juga termasuk satu di antara kunci-kunci surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjanjikan surga untuk mereka yang gemar menebar salam, “Wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam di antara kalian, berilah makan sambunglah tali silaturahmi dan salatlah ketika manusia tidur malam, maka kalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Tirmidzi, sahih)

Menebar salam merupakan satu di antara sekian jalan-jalan kebaikan yang mampu mengantarkan seorang hamba menuju surga. Sebagian ulama berpendapat bahwa hadis di atas menunjukkan bahwa tersebarnya salam di suatu daerah merupakan indikator tegaknya keamanan dan terjaganya keselamatan di daerah tersebut.

Hak Sesama Muslim
Satu di antara sekian hak sesama muslim adalah mengucapkan salam. Penyebutan hak di sini menunjukkan betapa sangat dianjurkannya amalan tersebut sehingga tidak sepantasnya ditinggalkan oleh seorang muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hak muslim atas muslim yang lain ada enam: (1) Apabila engkau bertemu dengannya, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, maka penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, maka berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila ia bersin lalu memuji Allah dengan mengucapkan ‘Alhamdulillah’, doakan ia dengan mengucapkan ‘Yarhamukallah’; (5) Apabila ia sakit, jenguklah ia; (6) Dan apabila ia meninggal dunia, iringilah jenazahnya hingga ke pemakamannya.” (HR. Muslim)

Renungkanlah bagaimana Rasulullah menggandengkan mengucapkan salam dengan perbuatan penuh keutamaan lainnya semisal menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, dan hak sesama muslim yang lain.

Menuai Cinta
Menebar salam, menuai cinta. Cinta karena Allah adalah ikatan keimanan yang paling kuat. Dan di antara perekat cinta adalah saling menebarkan salam.

Salam adalah benih persahabatan dan pupuk persatuan. Ia mampu memadamkan api permusuhan, melenyapkan kedengkian, dan meluluhlantakkan kebencian. Sebagaimana ia juga mampu menumbuhkan bulir kasih, menimbulkan rasa sayang, dan menghadirkan cinta.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda menjelaskan hal itu, “Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian  beriman. Dan kalian tidaklah beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)

Perhatikan bagaimana kesempurnaan iman disandingkan dengan kecintaan karena Allah dan bagaimana tumbuhnya kecintaan dikaitkan dengan tersebarnya salam di antara sesama insan.

Penyempurna Iman
Iman itu bertingkat-tingkat. Ia bisa bertambah dengan ketaatan hingga sebesar gunung. Ia juga bisa bisa berkurang karena maksiat hingga lenyap tak bersisa meski hanya secuil. Iman memiliki tujuh puluh lebih ranting keimanan yang dengannya iman bisa mencapai titik akhir, sempurna. Salah satu penyempurna iman ialah menebarkan salam.

‘Amar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Tiga perkara yang apabila ketiga-tiganya dimiliki oleh seseorang maka telah sempurnalah imannya: (1) Bersikap adil pada diri sendiri; (2) Menebarkan salam kepada setiap orang; (3) Dan berinfak di saat kondisi pas-pasan.” (HR. Bukhari)

Bertabur Berkah
Salam adalah ungkapan penghormatan yang bertabur berkah. Hal itu dipertegas oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya yang artinya, “Apabila kalian memasuki rumah-rumah, hendaklah kalian mengucapkan salam (kepada penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, dengan salam yang bertabur berkah dan yang baik dari sisi Allah.” (QS. An-Nur: 61)

Hendaknya sebagai muslim sejati, kita mengedepankan ucapan salam karena ia adalah ucapan penghormatan dari sisi Allah yang bertabur berkah lagi baik, daripada ungkapan selamat pagi dan yang semisal dengannya.

Tiga Puluh Pahala
Jika seseorang mengucapkan salam dengan sempurna, maka ia akan meraih 30 pahala. Berbeda halnya dengan seseorang yang mengucapkan salam tidak dengan lafal sempurna. Hal itu berdasarkan apa yang diceritakan oleh ‘Imran bi Hushain radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengisahkan, “Seseorang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum.” Nabi menjawab salamnya dan ia pun duduk. Lalu Nabi pun bersabda, “Sepuluh.” Kemudian datang lagi orang kedua seraya memberi salam, “Assalamu ‘alaikum warahmatullah.” Ia pun duduk salamnya dijawab oleh Nabi. Nabi kembali bersabda, “Dua puluh.” Kemudian datang lagi orang ketiga dan mengucapkan salam, “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Nabi pun menjawabnya salamnya dan ia pun duduk. Lalu Nabi bersabda, “Tiga puluh.” (HR. Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad)

Warisan Para Nabi
Siapa sangka salam yang biasa lisan kita lontarkan sudah ada sejak zaman Nabi Adam ‘alaihissalam. Ia adalah sekeping mozaik warisan para Nabi terdahulu. Bahkan Allah Ta’ala menjadikannya salam atau penghormatan umat manusia, keturunan Nabi Adam.

Dikisahkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bercerita, “Ketika Allah menciptakan Nabi Adam, Allah befirman kepadanya (yang artinya), “Pergilah dan ucapkan salam kepada mereka (yaitu sekumpulan malaikat yang tengah duduk). Kemudian simak apa yang mereka ucapkan kepadamu. Karena ia adalah salammu dan salam keturunanmu.” Maka Adam ‘alaihissalam pun berkata, “Assalamu ‘alaikum.” Malaikat pun menjawab, “Assalamu ‘alaika warahmatullah.” Mereka menambah dengan ucapan “warahmatullah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sudahkah sampai kepadamu (wahai Muhammad) cerita tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? Ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan salam. Ibrahim pun menjawab salam. Mereka itu orang-orang yang belum dikenalnya.” (QS. Adz-Dzariyat: 24-25)

Sudah selayaknya, seorang muslim sejati ketika mengetahui suatu amalan dengan selaksa keutamaan, maka hatinya akan tergerak untuk mengamalkannya. Akhir kata, kita memohon kepada Allah agar diberi kemudahan untuk senantiasa menebarkan salam sehingga dapat meraup begitu banyak keutamaan yang ada di dalamnya.

Penulis: Roni Nuryusmansyah
Akurator: Ustadz Muhammad Yassir, Lc

*) Tulisan ini pertama kali dimuat oleh Buletin Al-Hikmah, edisi 43 tahun I, April 2013, Masjid Al-Barkah, Cileungsi, Bogor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *