Tanda-Tanda Hasad

Di antara penyakit kronis yang kerap kali menjangkiti seorang penuntut ilmu adalah hasad, iri, dengki, dan semisalnya. Banyak ayat Alquran dan hadis Nabi yang mencela dan melarang sifat hasad.

Allah Ta’ala berfirman,

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ

“Apakah mereka hasad terhadap manusia karena karunia yang telah Allah berikan kepadanya?” (QS. An-Nisa: 54)

Begitu juga sabda Nabi,

وَلَا تَحَاسَدُوا

“Janganlah kalian saling hasad!” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saking berbahayanya hasad, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah menuturkan, “Dikatakan bahwa tidak ada seorang pun yang selamat dari hasad. Akan tetapi orang mulia menyembunyikannya dan orang yang hina menampakkannya.” (Al-Fatawa 1/124-125)

Nah, berikut ini ada beberapa tanda-tanda hasad. Siapa tahu penyakit ini telah menggerogoti diri kita sehingga kita pun bisa bertindak cepat mengobatinya sebelum kita binasa olehnya.

Pertama, kita senang dengan kesalahan saudara kita.
Orang yang hasad sangat bahagia dan jumawa jika orang yang ia hasadi itu melakukan kesalahan dan kekeliruan. Ia mengira kesalahan orang yang ia hasadi adalah pembenaran terhadap dirinya. Ia menyangka kekeliruan orang yang ia hasadi meninggikan derajatnya. Padahal sama sekali tidak.

Kedua, kita senang dengan ketidakhadiran saudara kita (rival/saingan dalam belajar).
Ketika kita merasa senang dengan kehadiran teman kita yang saling duduk belajar bersama, menuntut ilmu dari seorang guru yang sama, dan kedua-duanya memiliki keutamaan, maka dalam diri kita ada rasa hasad. Kita menganggap absennya saingan atau rival kita itu adalah bukti kekalahannya dan tanda kemenangannya atasnya. Padahal, lagi-lagi, sama sekali tidak.

Ketiga, kita senang saat saudara kita diejek dan dihina.
Jika kita merasakan kepuasan tersendiri ketika mendengar teman kita diejek atau diremehkan, maka kita sudah terjangkiti penyakit hasad. Bahkan kadang kala ia membiarkan temannya tersebut dicaci dan dimaki, tanpa adanya nahi mungkar. Padahal, jika menggunjing orang awam saja tidak boleh, bagaimana dengan menggunjing teman kita yang merupakan seorang penuntut ilmu.

Keempat, kita menyindir saudara kita saat kita ditanya tentang suatu permasalahan.
Kerap kali seorang yang hasad saat ditanya tentang permasalahan agama ia merasa ini adalah suatu kesempatan emas untuk mengurangi kemuliaan orang yang ia hasadi. Ia menyindir dengan bahasa halus dan indah, bahkan kadang ia mencelanya terang-terangan.

Kelima, kita tidak suka jika saudara kita diminta menjawab pertanyaan, diminta berbicara, atau dipuji oleh guru kita.
Di antara indikator kuat adanya hasad adalah kita tidak suka orang yang kita hasadi dimuliakan, baik dengan dilontarkan kepadanya pertanyaan, dimintai pendapatnya, dan lain sebagainya. Padahal hal itu tidak lantas menjadikannya lebih mulia secara mutlak, bukan?

Keenam, kita meremehkan faedah atau ilmu yang disampaikan saudara kita.
Kadang kita mendapati sebuah permasalahan yang pelik ketika menuntut ilmu. Kita membuka lembaran demi lembaran kitab, tapi tak jua menemukan jawabannya. Nah, saat itu datanglah orang yang kita hasadi dengan membawakan jawaban yang memuaskan. Ketika kita bukannya berterima kasih atau menyanjung, malah menilai remeh apa yang ia sampaikan berarti kita sudah divonis memiliki sifat hasad. Karena orang hasad tidak suka menampakkan kekagumannya terhadap orang yang ia hasadi.

Ketujuh, kita berusaha menyalahkan ucapan saudara kita tiap kali ia bicara.
Jika kita sering mencari ketergelinciran perkataan teman kita, kesalahannya dalam bicara, ini berarti sinyal kita sudah ditimpa sifat hasad. Terlebih lagi jika kita suka memahami ucapannya dan menariknya kepada hal yang dinilai salah.

Kedelapan, kita tidak menyandarkan keutamaan kepadanya, tidak pula faedah yang kita dapat darinya.
Seperti kasus keenam, ketika seorang yang hasad mendapatkan faedah dari temannya yang ia hasadi ia akan menutupinya, bahkan tidak menyandarkan faedah tersebut kepada temannya. Tidak pula menyebut-nyebut keutamaan yang ada pada dirinya.

Jika kita mulai merasakan satu dari delapan hal di atas terdapat dalam diri kita, maka waspadalah-waspadalah. Warning! Segeralah mendoakan kebaikan untuk ia yang kita hasadi. Akuilah keutamaan dan kelebihan yang ia miliki. Berbuat baiklah terhadapnya. Semoga Allah mengikis hasad di hati-hati kita.

*) Disadur dari kitab Ma’alim fi Thariq Thalab al-‘Ilmi, hal. 90-92, karya Syekh Abdul Aziz as-Sad-han hafizhahullah

Palembang
Kamis petang, 11 Ramadan 1437 H / 16 Juni 2016 M | 17:22
Dapat makanan untuk berbuka puasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *