Tak Biasa Biasa Saja (idul adha edition, part II)

Ternyata, hari yang tak biasa-biasa itu belum berakhir, kawan! Selepas mencuci terpal yang bau amis daging kambing, aku pun pulang setengah sempoyongan ke arah asrama. Namun di tengah jalan, aku yang belum memasang antikompor berhasil dikompori temanku, Muhajir, untuk bergabung dalam ekspedisi menuju pantai Pasir Putih di Situbondo bersama 26 mahasiswa lainnya. Aku mengangguk tanda terima. Dengan tas exsport yang seharusnya untuk laptop, aku pergi rihlah. Perjalanan dadakan itu pun dimulai. Mobil yang kami sewa menelusuri punggung gunung dengan jalan-jalan berkelok bertepikan jurang. Pemandangan yang sama ketika pertama kali merantau ke Jember saat melewati Malang. Alam pun memamerkan keelokannya. Sungguh Maha Kuasa Allah yang telah menciptakan pemandangan secantik ini. Manja mataku dibuatnya.

Akhirnya, sebelum langit senja mengucapkan “sayonara”, kami telah tiba di tepi daratan tanah Situbondo. Aku menginjak pasir tepi selat Madura itu, berjalan menuju bebatuan-bebatuan di ujung pantai. Aku menemukan seekor bintang laut kecil. Aku pun menuju sebuah dermaga usang yang kakinya dikerumuni hewan-hewan laut. Di ujung dermaga, aku menatap laut di kaki langit sore seraya bergumam, “Selamat tinggal hari-hari tasyriq. Semoga tahun depan kita dapat bersua lagi.” Samar-samar, suara adzan maghrib pun mulai terdengar.

Jika ada soal ujian esai yang isinya: “Sebutkan perbedaan antara pantai papuma Jember dan pantai pasir putih Situbondo!”, maka aku akan jawab:

–          Jika dilihat dari lokasi, jelas beda. Papuma menghadap ke samudera Hindia alias selatan tanah Jawa. Sedangkan pasir putih berada di sisi selatan selat Madura alias utara dataran Jawa.

–          Dari segi keindahan, semua punya kelebihan. Papuma terlihat eksotis dengan batuan-batuan besar yang terkikis samudera. Ombaknya tinggi dan menggulung. Menyeret dan menarik apa saja yang berada di ujung jarinya yang dingin. Jika engkau berenang di sana, itu artinya engkau bersedia saku celanamu penuh berisikan pasir. Pasir putih lebih kalem dengan cool style-nya. Ia menyembunyikan keindahannya di dasar laut yang berupa terumbu karang yang aduhai dan ikan-ikan cantik full colour yang amat menyejukkan mata. Namun kau harus merogoh kocek dan mengeluarkan uang lima ribu (katanya itu harga khusus mahasiswa kere kayak kami) untuk naik perahu dan berlayar ke tengah laut untuk menikmati keindahannya. Uniknya, kedua pantai ini berada di antara laut dan bukit.

–          Kalo bicara fasilitas, musholla di Papuma lebih nyaman ketimbang di Pasir Putih. Di Papuma juga bisa naik boom-car atau apa istilahnya. Aku punya pengalaman buruk dengan kendaraan aneh yang satu ini. Papuma menyediakan pelayanan outbond dan sejenisnya seperti yang tertera di papan besar dekat musholla. Di pasir putih, rumah makannya terkesan lebih mewah. Ada dermaga yang menjorok ke laut. Dan penyedia perahu untuk berlayar cenderung banyak karena suasana ombak yang tenang dan tak suka berkoar.

Malam itu kami menyalakan api unggun. Ada yang memasak air buat minum kopi dan ada yang memanggang sate buat makan malam. Daging-daging yang tertusuk lidi itu menebarkan aromanya ketika bara api mulai menghanguskan kulitnya yang merah itu sehingga menghitam sehitam langit malam itu. Seiring berjalannya malam, laut pun semakin pasang. Aku pun membantu kak Ghufron untuk membuat benteng pasir agar air pasang tak memadamkan api unggun kami! Donald atau yang sering disebuk Mak Dang, si paman besar, memberi kami instruksi agar memperkokoh benteng kami yang terus menerus diterpa ombak. Aku benar-benar lelah. Tak pelak, setelah makan malam, aku mulai mencari posisi untuk tidur. Aku tidur di ujung terpal yang dibentangkan di tepi pantai, bertemankan desiran ombak dan dengungan nyamuk. Sungguh tak nyenyak. Terlebih lagi suara obrolan teman-temanku amatlah nyaring. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tak mau ambil pusing. Tak peduli.

Dini hari aku memutuskan untuk bangkit dari tidurku yang tak memuaskan itu. Sayup-sayup terdengar obrolan teman-temanku tentang pengalaman-pengalaman mistis. Obrolan aneh itu dipimpin oleh duo Dedi. Benar-benar pembicara dan pendengar yang tangguh. Di tepi sana bola kaki yang kami bawa pun tak bosan ditendang-tendang. Beberapa dari kami sudah terbuai dalam tidur yang aku rasa juga tak nyenyak. Sebagian tidur di musholla di bawah hembusan kipas angin dengan nyamuk-nyamuk yang sangat buas. Aku pun meneruskan tidurku. Alhamdulillah, kali ini amat sangat nyenyak. Aku bahagia. (Sebahagia ketika pesanan bukuku datang dari kak Fadhli saat sedang asyik menulis tulisan ini, hehe)

Pagi-pagi sekali, aku terbangun. Sebenarnya, kelas kami berencana pergi ke suatu tempat untuk melihat dengan mata kepala yang mana fajar shodiq dan yang mana fajar kadzib. Tapi karena berbagai hal, rencana itu tak terealisasikan. Ufuk timur tertutup bukit sehingga aku tak bisa melihat perbedaan dua saudara kembar itu. Aku selalu membawa kompas untuk mengantisipasi percakapan dengan orang Jawa yang selalu menjelaskan arah dengan mata angin, tak kenal kanan dan kiri. Kompas bermerk eiger itu setia tergantung di handphone usangku.

Aku duduk berdua dengan seorang supir angkot yang menemani kami berpergian di sebuah rumah makan. Aku menyantap segelas wedang teh dan bapak itu secangkir wedang kopi. Kami berbicara ngolor-ngidul. Ujung-ujungnya kami membahas fenomena kejahatan di transportasi darat yang marak terjadi di Jawa Timur. Itu salah satu faktor kereta api menuju Situbondo tak lagi dijalankan. Minuman hangat di pagi itu menjadi awal dari sebuah hari yang dingin bermandikan air laut.

Setelah kerinduan yang mendalam kepada mie instan terlampiaskan pada sarapan pagi itu, kami pun menyewa perahu layar. Seorang bapak tua menawari kami melihat keindahan alam bawah laut pantai itu. Air laut yang jernih mampu membuat kami bisa melihat dasarnya dengan mata telanjang. Semakin menjorok menjauhi daratan, terumbu karang mulai terlihat. Mulai dari imitasi berupa bebatuan yang ditumbuhi karang, hingga terumbu karang asli yang dengan manisnya berjuntaian ke atas. Ikan-ikan pun memamerkan keunikannya tersendiri. Ada yang bergaris-bergaris dengan corak warna berbeda menyerupai bendera. Ada yang memiliki tato merah di dekat matanya. Ada yang memiliki ekor panjang yang berwarna kuning. Jangan tanya namanya apa karena aku pasti tak tahu.

Bapak tua itu sedari tadi tak jenuh mendeskripsikan keeksotisan pantai ini. Aku taksir bapak itu sudah bertahun-tahun kerja di sini, hingga dia tahu persis letak bangkai speed boat yang karam di lautan.

“Sebenarnya Dik, harga lima ribu itu hanya khusus untuk mahasiswa seperti kalian..”, dia membuka pembicaraannya lagi.

“Terlebih lagi perantau seperti kami, ia kan Pak?” celetukku.

“Haha, ia. Kalian dari Padang kan?” tanyanya.

“Ia Pak, ada dari Padang, dari bla bla, dari bla bla”, jawab temanku.

“Aku dari Palembang, Pak!” aku menyela lagi.

Mungkin, jika bapak itu tak berbicara tentang bulu babi dan ubur-ubur, temanku akan langsung loncat ke laut yang semakin dalam itu. Walau aku melihat dengan kotak kaca agar lebih jelas, dasarnya semakin menjauh dan samar-samar. Kami pun akhirnya kembali ke tepi.

Sisa waktu hari itu, kami berasyik ria sepenuhnya. Ada yang berlayar dengan perahu kecil yang kami sewa empat puluh ribu untuk seharian penuh (Ingat, ini tarif mahasiswa loh!) seraya memancing ikan. Hari itu temanku asal Bangka, Ilham, menjadi rajanya dalam hal mancing-memancing. Ada yang bermain sepak bola di tepi pantai. Ada yang bermain voli di dalam air yang kami sebut voli laut. Ada yang berenang dan belajar renang. Aku tak bisa berenang karena itu aku mencoba bergabung dengan kelompok yang belajar berenang. Ada yang memanen hewan berjalan miring sespesies dengan kepiting yang sangat mengerikan. (Ujung-ujungnya tawanan laut itu kami bebaskan karena tak ada yang berani memanggangnya). Ada juga yang memesan nasi bungkus untuk makan siang kami.

Seraya menunggu makan siang datang, aku yang telah mandi di WC berbayar, berbaring di pinggir pantai sambil bersandar dengan tumpukan tas. Terik matahari kian menyengat. Nampak jelas pasang surut pantai ini dalam beberapa jam saja. Akhirnya, pesanan kami datang. Nasi bungkus berlaukkan ayam goreng kala itu menjadi menu terakhir kami di pepasiran putih tersebut. Deru ombak terasa syahdu di telinga. Seolah membisikkan salam terakhir kepada kami, 27 petualang kecil.

Kemuning senja seolah berduka. Kami kini telah tiba di depan gang di mana kampus kami berada. Perjalanan yang dipandu sang ketua, Saifullah, pecinta alam sejati itu, akhirnya kandas dengan menyisakan kenangan indah. Sekarang, kami tengah mengantri untuk mendapatkan snack penutup berupa jus buah. Tentu saja pilihanku tertuju pada jus alpokat. Sedotan terakhir dari jus buah berwarna hijau itu seolah menutup galeri kisah tak biasa yang aku lalui. Lusa, periode perkuliahan kembali bergulir. Artinya, kehidupan seorang mahasiswa sepertiku akan biasa-biasa saja, kembali seperti sedia kala.

 

Catatan:

Sesuatu yang biasa-biasa saja bisa jadi luar biasa tanpa tengara maupun prediksi sebelumnya. Sesuatu yang biasanya besar bisa jadi kecil dan sesuatu yang biasanya kecil bisa jadi besar. Misalkan saja amal seseorang manusia yang kecil bisa menjadi besar karena baiknya niat dan amal yang besar bisa menjadi kecil atau bahkan tak bernilai karena buruknya niat.

Alam akan selalu menerapkan sistem seleksinya. Mereka yang tak mampu beradaptasi dengan hal-hal tak biasa dalam hidupnya hanya akan menjadi pecundang. Seorang manusia akan selalu mengalami fase kehidupan yang selalu berdinamika. Seorang anak kecil akan menjadi dewasa dan menempuh ajang pendidikan yang bertingkat-tingkat selalu lebih tinggi. Lalu mendapatkan pekerjaan sebagai mata pencaharian hidupnya. Menikahi wanita dan menjadi kepala rumah tangga. Memiliki anak dan menjadi seorang ayah. Begitulah seterusnya. Bayangkan saja, jika kita tak mampu beradaptasi dengan hal yang tak biasa, yang berbeda dengan kebiasaan kita sebelumnya? Maka kita akan begitu-begitu saja, takut untuk mencoba sesuatu yang baru (dalam konotasi positif tentunya) dalam hidup kita. Banyak dari mereka berfisik dewasa tapi tak sejalan dengan kematangan berpikirnya. Banyak dari mereka yang stress karena tak kuat menanggung beban sebagai seorang ayah. Dan masih banyak lagi. Tentunya kita semua tak mau menjadi salah satu dari mereka.

Bersungguh-sungguhlah dalam menjalani semua hal meskipun itu biasa di matamu. Karena bisa jadi kelak suatu saat kau tak akan memperoleh kesempatan untuk bersama hal itu lagi sehingga yang tersisa hanyalah penyesalan karena kau tak memberikan yang terbaik untuk hal biasa tersebut. Janganlah engkau meremehkan hal-hal yang biasa karena bisa jadi itu luar biasa untuk orang lain. Kuatkan mentalmu, asah kemampuanmu, matangkan pikiranmu karena bisa jadi kau akan dihadapkan dengan sesuatu yang tak biasa. Karena hari esok adalah rahasia yang tak seorang makhluk pun mampu menguaknya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

 

 

15 Dzulhijjah 1432 H / 11 November 2011 M

Selepas acara pembubaran panitia kurban
Di penghujung liburan singkat (karena besok udah mulai kuliah)
Di sebuah purnama tanggal 11.11.11

 

Penulis : Roni Nuryusmansyah
Artikel : kristalilmu.com

Comments

  1. By Abu Ayman Abdurrahman

    Reply

    • By Roni Nuryusmansyah -admin-

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *