Tak Biasa Biasa Saja (idul adha edition, part I)

Pagi itu biasa-biasa saja. Sang mentari seperti biasa beranjak dari ufuk timur saban pagi. Sebagaimana biasanya, ia memancarkan cahayanya yang berwarna kemuning keemas-emasan yang menjamah tiap sudut bongkah bumi. Namun, kawan, pagi yang biasa itu hadir dengan sesuatu yang tidak biasa hari ini. Ia datang seraya memperdengarkan tembang berisi untaian takbir, tahmid, dan tahlil. Sungguh ada nuansa religius yang dia ciptakan. Sayup-sayup, terdengar embikan kambing di antara lantunan dzikir itu. Jutaan umat Islam tengah mabuk dalam euforia hari raya kurban…

Sholat pun sudah biasa. Tak selayaknya seorang muslim untuk tidak terbiasa dengannya. Dua raka’at dengan surat al-A’la di awalnya dan surat al-Ghasyiyah di akhirnya pun biasa terdengar tengah hari saban jum’at. Hanya saja, ada yang tak biasa. Jumlah takbirnya lebih banyak dari jumlah biasanya. Lokasinya pun di halaman luar kampus beratapkan langit. Dan yang luar biasa, ada pembunuhan besar-besaran setelah berakhirnya khutbah hari raya itu! Tiga kepala sapi dan tiga kepala kambing jawa telah terpisah dengan raganya. Darah pun tumpah ruah membanjiri tanah kampus kami. Pohon-pohon mangga menjadi saksi bisu atas kejadian yang menyayat hati itu. Mata anak-anak kecil yang melihatnya sedari tadi pun berkaca-kaca. Bukan karena iba, tapi karena mereka kagum melihat mamalia besar itu takluk dan sudah tak bernyawa dengan sebuah pisau kecil. Kejadian berdarah ini berlangsung selama beberapa hari. Hari yang sering disebut sebagai hari mutilasi sedunia…

Sejak ku kenakan seragam putih abu-abu, menjadi panitia suatu acara adalah hal biasa dan sangat biasa sekali. Bukanlah hal yang patut dibanggakan. Berbagai macam jabatan pernah ku emban hingga sekarang. Namun hari itu, aku berstatus sebagai sekretaris panitia kurban. (Tahun-tahun sebelumnya pencuci jeroan di kali, hehe) Kedengaran sangat biasa, bukan? Tapi sebenarnya, jabatan itu luar biasa. Karena pada tahun sebelum-sebelumnya tidak ada yang namanya sekretaris dalam penyelenggaran hewan kurban. Jadi, otomatis aku harus berjibaku menjadi pionir dalam dunia ketik-mengetik ala idul adha tersebut. Sehingga seorang dosen mengatakan tahun ini lebih keren lantaran surat pemberitahuan berwarna yang disematkan di kantong daging kurban. Ah, biasa-biasa saja…

Hal yang biasa jika ada masyarakat luar berkunjung ke kampus kami. Dari sekedar ingin melihat-lihat, bermain, hingga meletakkan barang dagangan di kantin kampus. Meskipun populasinya semakin berkurang sejak kedatangan satpam, sang trouble solver, tapi tetap saja ada masyarakat luar masuk ke lingkungan kampus kami. Setidak-tidaknya tukang bangunan, karena masjid kampus kami memang sedang mengalami renovasi besar-besaran. Aku masih ingat betul wajah kampus kami yang rindang sebelum pembangunan-pembangunan ini dimulai dua tahun silam, Namun hari itu ada yang benar-benar tak biasa. Tepatnya selepas sholat zhuhur. Ada dua ratusan masyarakat luar yang hilir mudik masuk ke kampus kami dengan menggenggam sebuah kupon kecil. Kupon kecil yang subuh kemarin telah aku beri stempel untuk mencegah penggandaan kupon ternyata telah berada di tangan-tangan mereka! Mereka merampasnya dariku! Aku pun harus memberikan mereka sekantong daging sapi sebagai tebusannya agar aku mampu mendapatkan kupon-kupon yang telah susah payah aku ketik itu kembali ke pangkuanku…

Sarapan, makan siang, dan makan malam adalah tiga orang sahabatku yang sudah sangat aku kenal. Aku sudah sangat terbiasa dengan mereka. Sangat, sangat, sangat, dan sangat biasa-biasa saja. Anehnya, aku tak pernah bosan dengan mereka. Bayangkan, kawan, sudah dua puluh tahun aku selalu bersamanya. Seingatku, aku tak pernah meninggalkan mereka bertiga sekaligus walau hanya sehari saja sejak aku mengenalnya. Ironis jika membayangkan betapa banyak makhluk sepertiku di luar sana tak seberuntung diriku. Sudah seharusnya kita mensyukuri nikmat-nikmat yang telah Allah Ta’ala limpahkan kepada kita dengan cara mengesakannya dan tidak menyekutukannya dalam beribadah. Karena itu adalah puncak rasa syukur. Akan tetapi, tetapi, dan tetapi, hari itu ada yang tak biasa. Semua serba daging! Ada sate, tongseng, dendeng, sup, gulai, rendang, dan semua menu yang berbahan dasar daging yang aku tak tahu apa namanya itu menemaniku bersama ketiga sahabatku itu. Bahkan aku mendapat tujuh potong rendang khusus buatan teman-temanku padangiyun! Ajiib! Daging adalah hal yang tak biasa kau temukan di dapur asrama kami. Lain halnya jika kau terbiasa mengunjungi sebuah rumah makan masakan padang di dekat alun-alun kota untuk memesan rendang…

Hal yang tak biasa lainnya:

  • Seumur hidupku, baru kali ini melihat penyembelihan kurban selama 4 hari berturut-turut. Dan mungkin rekor akan bertambah jika saja titah sang rektor yang berkeinginan membeli lagi beberapa ekor kambing dari hasil penjualan kulit hewan kurban diwujudkan…
  • Serangan laron yang sangat dahsyat mendadak menyerang lampu-lampu di kampus kami. Bagi mahasiswa lama sepertiku mungkin itu hal biasa. Tapi jumlah kali ini lebih banyak. Kerusakan terdahsyat menimpa lampu di asrama baru dekat tempat wudhu’ dan aula atas yang dijadikan sebagai masjid. Beruntung kami sigap dan berhasil mematahkan serangan laron-laron yang terbang seperti pesawat tempur jepang yang menyerang AS pada Perang Dunia II itu. Hasilnya sungguh gemilang, mereka luluh-lantak dengan sendirinya dan kami meraih kemenangan. Kami kira peperangan telah berakhir dengan bertebarannya sayap-sayap anai kecil itu. Tapi ternyata serangan kembali datang hari-hari berikutnya. Kelekatu yang menyebalkan…
  • Hampir dua tahun tukang bangunan menulis kisah baru dalam agenda pekerjaan hidup mereka dengan kampus kami sebagai latar ceritanya. Perpustakaan, kantor lantai dua, kelas baru, aula, asrama baru dua tingkat, dan sekarang masjid, telah menjadi saksi bisu atas perjuangan keras mereka memeras keringat dan membanting tulang. Namun ada sebuah tragedi kecil yang tak biasa. Tepat hari terakhir dari hari-hari tasyriq kemarin, seorang tukang bangunan jatuh dari ketinggian 2 meter lebih. Dia menghujam ke bumi yang kala itu adalah tangga semen sehingga dia berdarah-darah dan mesti dilarikan ke rumah sakit terdekat…
  • Jika saja sekarang tahun 2006 atau 2007, mungkin saja es krim bukanlah barang langka bagiku. Hampir setiap hari minggu, aku bersama kedua temanku, Diran dan Julyus, mengakhiri akhir pekan yang penat dengan bersantai ria. Kami menghabiskan hari libur pekanan itu dengan memanjakan perut, menyantap sepiring bakso atau es krim vanila plus coklat, dan seabrek kegiatan-kegiatan pembunuh sepi lainnya. Namun sejak merantau ke tanah Jawa, aku perlahan jauh dari es krim. Terlebih lagi sejak tamat SMA, gigiku suka nyut-nyutan. Tapi alhamdulillah, di sebuah malam di hari tasyriq, aku sempat menyantap es krim secara tak terduga. Sepulang menjalankan tugas sebagai agen majalah elfata, aku bersama temanku, Irfan, mampir di sebuah cafee yang bernama fizh cafee. Eh, ada pempek Palembang juga lo! Naluri wong kito galo-ku pun muncul. Namun ku urungkan niat nasionalisme-ku itu. Di malam yang dingin dengan genangan hujan, aku menyantap es krim vanila murah, melepas kerinduan, di sebuah cafee full colour yang bertuliskan free wipi, tepat di depan Telkom. Oh, suasana yang melankolis..

To be continue..

13 Dzulhijjah 1432 H / 9 November 2011 M
Sebuah pagi yang biasa-biasa saja di penghujung hari tasyriq

 

Penulis : Roni Nuryusmansyah
Artikel : kristalilmu.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *