Sholat Gerhana

Beberapa waktu yang silam, kampus kami mengadakan sholat istisqo’ alias minta hujan. Hasilnya sangat memuaskan. Tak usah menunggu 12 jam, langit telah menurunkan butiran-butiran hujan yang membasahi pepohonan yang telah kering kerontang akibat kemarau panjang. Nah, beberapa waktu yang lalu, tepatnya di malam minggu, sebuah malam kelabu bagi jomblo dan sebuah malam cari mangsa baru bagi playboy, kampus kami kembali mengadakan sholat, namun bukan meminta hujan karena hujan turun hampir tiap senja. Akan tetapi, sholat khusuf alias gerhana bulan. Kalo gerhana matahari namanya sholat kusuf. Sholat ini terdiri dari dua raka’at dengan dua kali rukuk di dalam satu raka’at. Jadi, di dalam sholat ini terdapat empat kali sujud dan empat kali rukuk. Kronologinya, ketika selesai membaca surat Al-Fatihah dan surat yang panjang, bertakbir dan rukuk. Lalu bangkit dari rukuk dan membaca surat Al-Fatihah dan surat lain. Setelah itu, kembali rukuk, sujud, dan duduk di antara dua sujud seperti biasa hingga berdiri. Kemudian rukuk setelah bacaan surat telah selesai, bangkit lagi dan kembali membaca Al-Fatihah seperti biasa hingga tasyahud akhir. Sholat ini sebaiknya diisi dengan bacaan surat yang panjang. Bahkan ada sebuah riwayat mengatakan bahwa Rasulullah membaca surat al-Baqarah. Sehingga Imam Syafi’i menganjurkan agar surat yang dibaca  di raka’at pertama adalah surat Al-Baqarah dan Ali Imran. Lalu di raka’at kedua adalah surat dengan panjang seperti seratus lima puluh ayat dari surat Al-Baqarah dan surat dengan panjang seperti lima puluh ayat dari surat Al-Baqarah.[1] Namun, alangkah lebih baiknya lagi melihat kondisi makmun. Jika ada makmum yang tua renta dan tidak sanggup untuk berdiri lama, maka tidak termasuk kebaikan memanjangkan bacaan. Adapun jika di lingkungan penuntut ilmu yang notabene penghuninya adalah remaja yang kuat dan mampu berdiri lama, tak ada salahnya. Seperti kampus kami yang mengadakan sholat ini hampir dua jam lamanya.

Jika kebanyakan kita malah senang dengan kehadiran gerhana matahari atau bulan, berbondong-bondong membawa teleskop ke atas bukit dan gunung, mengabadikannya dalam bingkai poto, Rasulullah berbeda. Beliau justru merasa khawatir dan mengumpulkan para sahabatnya untuk melaksanakan sholat berjama’ah. Karena sejatinya, gerhana adalah suatu tanda kebesaran Allah. Allah menampakkan kelemahan makhluknya dengan kejadian tersebut. Allah memperingatkan manusia untuk tidak berlaku sombong dan berbuat zhalim di muka bumi, karena sejatinya manusia itu lemah. Jika Allah berkehendak, Allah tidak hanya menutup cahaya  matahari dan bulan beberapa menit saja. Namun Allah mampu menghalangi cahaya kedua makhluk-Nya itu dalam jangka waktu yang lama. Bayangkan jika itu terjadi. Manusia pasti akan mengalami keadaan yang luar biasa sulitnya. Padahal Allah hanya menahan satu nikmat saja; cahaya matahari atau bulan. Tidak dua ataupun lebih. Pantaskah manusia congkak dan angkuh di hadapan Allah, Dzat Yang Maha Kuasa, padahal sejatinya manusia adalah makhluk yang lemah? Sekali-kali, tidak!

Di masa Rasulullah, gerhana matahari terjadi ketika anak Rasulullah, yaitu Ibrahim, meninggal. Karena itu, sebagian sahabat mengira bahwa gerhana terjadi karena kematian seseorang. Maka, ketika sholat gerhana telah usai, Rasulullah pun berkhotbah dan memperingatkan akan kesalahan sebagian orang yang menisbatkan gerhana karena lahir atau wafatnya seseorang. Beliau bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Dia tidaklah tertutup (maksudnya terjadinya gerhana) disebabkan lahir atau matinya seseorang di antara kalian. Apabila kalian melihat gerhana, maka berdoalah kepada Allah dan dirikanlah sholat sampai dia tersingkap (gerhana usai) dan bersedekahlah kalian.”[2] Ini adalah hal yang banyak terjadi di masyarakat kita pada umumnya. Menyandarkan sesuatu kepada suatu hal yang tidak ada kaitannya. Seorang bertamu karena tadi kupu-kupu masuk ke rumah, rumah tangga seorang yang berantakan karena menikah terlebih dahulu dari kakaknya yang lebih tua, bayi sungsang karena sang ibu suka tiduran di bawah pintu, dan hal-hal yang tak logis lainnya. Padahal Islam telah mencela hal-hal seperti ini. Islam menghapus tradisi masyarakah jahiliyah yang menyandarkan kesialan kepada suatu hal yang tidak ada kaitannya. Jika mereka ingin melakukan perjalanan jauh, lalu melihat burung terbang ke arah kiri, mereka membatalkan perjalanan tersebut karena takut terjadi apa-apa. Jika melihat burung ke arah kanan, mereka merasa bersemangat dan berkeyakinan bahwa perjalanan mereka akan baik-baik saja. Juga sebagaimana mereka mengatakan bahwa hujan turun karena bintang ini dan bintang itu. Tak ada bedanya dengan sebagian masyarakat yang mengatakan aku sial karena hari ini tanggal 13, hari rabu adalah hari kesialanku, sejak aku memakai kalung antik ini rezekiku selalu lancar, dan perkataan-perkataan sejenis. Semoga kita mampu berlepas diri dari ajaran kaum jahiliyah tersebut.

Memang sudah seharusnya kita terus menggali pelajaran dan hikmah yang terkandung di dalam setiap kejadian. Tak terkecuali gerhana. Ternyata gerhana ini memberikan kita berbagai macam catatan dalam agenda kehidupan seorang insan untuk menuju derajat ihsan.

 

 

Pekatnya malam di minggu tenang
Ahad, 29 Muharram 1433 H / 25 Desember 2011 M

Penulis: Roni Nuryusmansyah
Artikel: www.kristalilmu.com

 

__________
[1] Lihat kitab Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd
[2] HR. Bukhari dan Muslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *