Setangkai Padi VS Tong Kosong

Ketika kita masih duduk di bangku SD, guru-guru kita terkadang menyampaikan petuah berupa pepatah-pepatah yang mengandung untaian mutiara hikmah. Salah satu di antaranya adalah pepatah padi; semakin berisi semakin menunduk. Ini adalah sebuah kiasan yang indah dari sifat rendah hati. Ada juga pepatah yang merupakan kiasan dari sifat sombong seperti tong kosong nyaring bunyinya. Pepatah-pepatah tersebut memberikan kita pelajaran agar kita meniru padi yang selalu tawadu’ alias rendah hati dan tidak menjadi tong kosong yang takabur lagi sombong.

Sebagai seorang penuntut ilmu, hendaknya kita menghiasi hati dengan indahnya sifat rendah hati. Rendah hati berbeda dengan rendah diri. Rendah diri atau minder merupakan sifat tercela, sedangkan rendah hati merupakan sifat terpuji. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai sifat ini, “Tidaklah seseorang berendah hati karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”[1]

Rasulullah memberikan syarat “karena Allah”, disebabkan tak sedikit manusia berendah hati bukan karena Allah. Mereka berendah hati karena ingin dipuji sebagai orang yang tawadu’, rendah hati, jauh dari sifat sombong, dan lain sebagainya. Padahal Allah Ta’ala Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hati manusia. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dia mengetahui mata-mata yang berkhianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” [QS. Al-Mukmin: 19]

Oleh karena itu, jika ada seseorang yang rendah hati karena ingin dipuji ustadz, disanjung teman-teman, maka orang tersebut tidak termasuk dalam kategori orang yang rendah hati karena Allah. Seseorang yang menampakkan dirinya seolah-olah orang yang rendah hati mungkin bisa saja menipu manusia, tapi ia tak akan pernah mampu menipu Allah. Karena sejatinya, Allah Ta’ala mengetahui ketulusan hati kita, apakah kita benar-benar tawadu’ karena Allah atau karena selain-Nya. Allah akan meninggikan orang yang rendah hati karena-Nya dan menghinakan orang yang rendah hati untuk selain-Nya. Semoga Allah menjaga hati kita dari sifat rendah hati yang tidak tulus.

Tak diragukan lagi, bahwa sifat rendah hati adalah sifat yang dicintai manusia dan kebalikannya yaitu sifat sombong adalah sifat yang dibenci manusia. Karenanya, dalam sejarah, manusia memuji orang yang tawadu’ dan mencela orang yang sombong. Lihatlah bagaimana kecongkakan Fir’aun dan keangkuhan Qarun menyebabkan nama mereka berdua jauh dari pujian, hina di mata manusia. Padahal, orang-orang yang sombong itu menginginkan kedudukan yang tinggi. Namun karena salah jalan, Allah justru merendahkan mereka di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, Allah meninggikan orang-orang yang tawadu’ di dunia dan di akhirat.

Sejatinya, nikmat yang kita miliki jika tidak kita rawat dengan baik maka akan membuahkan kesombongan. Nikmat tersebut bisa berupa ilmu, harta, kedudukan, dan lain sebagainya. Karena itu, berhati-hatilah wahai penuntut ilmu, karena ilmu yang kita pelajari selama ini pun bisa melahirkan kesombongan di dalam hati.

Syaikh Bakr Abu Zaid menyebutkan beberapa contoh kesombongan beberapa penuntut ilmu, “Sikap kurang ajarmu terhadap gurumu adalah bentuk kesombongan dan keenggananmu menerima ilmu dari orang yang berada di bawahmu juga merupakan bentuk lain dari kesombongan.”[2] Sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Shalah, bahwa Waki’ bin Jarrah rahimahullah pernah berkata, “Seorang penuntut ilmu tidak akan mencapai kemuliaan hingga ia mau mengambil ilmu dari yang sebaya dengannya, dari orang yang berada di atasnya dan juga di bawahnya.”[3]

Oleh karena itu, tak sepantasnya seorang penuntut ilmu merasa malu, enggan, dan gengsi untuk mengambil ilmu dari penuntut ilmu yang lebih muda atau lebih sedikit jam terbangnya dalam menuntut ilmu. Amat disayangkan jika ada sebagian ikhwah yang mengkotak-kotakkan asatidzah dan membeda-bedakan mereka berdasarkan umur, gelar, titel, status, dan lain sebagainya. Seyogyanya, seorang penuntut ilmu sejati tidaklah membeda-bedakan guru mereka, entah doktor, magister, sarjana, tamatan timur tengah, tamatan dalam negeri, dan selainnya. Karena jika seorang penuntut ilmu hanya memperhatikan dan menghargai pengajar dengan gelar dan titel yang tinggi, lalu meremehkan pengajar yang hanya bertitel rendah, maka dikhawatirkan ia terjangkiti penyakit sombong.

Karenanya, wahai saudara, berusahalah memanage hati untuk senantiasa berendah hati, melenyapkan sifat sombong, dan berusaha menahan nafsu yang selalu mengajak kepada kesombongan dan keangkuhan. Karena tidaklah seorang menghiasi ruang hatinya dengan pendar-pendar kerendahan hati melainkan Allah Ta’ala akan meninggikan derajatnya baik di dunia maupun di akhirat. Dan sebaliknya, tidaklah seorang hamba memupuk  kesombongan di dalam taman hatinya melainkan ia akan menyeret pemeliharanya menuju lumbung api neraka.

Syaikh Bakr Abu Zaid melanjutkan,  “Jika engkau tidak maksimal mengamalkan ilmu itu juga merupakan pertanda adanya kesombongan di dalam hatimu.” Dalam perkara ini, ulama besar, Malik bin Dinar rahimahullah pernah berkata, “Wahai alim, kenapa engkau sombong dengan ilmu yang engkau miliki?! Jika engkau benar-benar menuntut ilmu tersebut karena Allah, niscaya hal itu akan tampak di dalam dirimu dan juga di dalam ilmumu.”[4]

Berdasarkan perkataan di atas, jika masih terdapat kesombongan di dalam hati seorang penuntut ilmu, maka keikhlasannya perlu dipertanyakan. Karena jika seorang menuntut ilmu semata-mata karena Allah, maka buah dari ilmu tersebut akan terlihat dari cara berbicara, berjalan, menyikapi orang lain, dan lain sebagainya.

Sungguh ironis jika kita masih terjangkiti penyakit ujub dan khuyala’. Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa perbedaan antara keduanya adalah ujub atau kagum terhadap diri sendiri hanya terletak di hati, sedangkan khuyala’ atau angkuh terdapat di dalam hati dan ditampakkan menjadi praktek secara lahiriyah.[5] Jika ujub hanya berupa ketakjuban di dalam hati terhadap kelebihan dirinya sendiri, maka sombong membuahkan perbuatan yang dapat dilihat dari cara berjalan, cara bicara, cara bersikap, dan lain sebagainya.

Hingga ada seorang ulama yang ketika berjalan keluar masjid, tangan kanannya memegang tangan kirinya. Lalu ditanyakan kepadanya, “Mengapa engkau berbuat demikian, wahai Syaikh?”. Syaikh tersebut menjawab, “Aku khawatir jika tanganku berlenggak-lenggok, maka akan melahirkan kesombongan.”[6]

Oleh karena itu, wahai saudara, marilah kita berusaha menghiasi hati kita dengan indahnya akhlak tawadu’, dan menghilangkan noda sombong dari hati kita. Karena seorang itu masuk neraka bukan karena sombong stadium 4 atau 5. Akan tetapi, seseorang mampu masuk neraka hanya karena rasa sombong walau sebesar biji sawi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi kesombongan.”[7]

 

Oleh: Ust. Abdullah Zaen, M.A -hafizhahullah-

 

*) Disampaikan pada kuliah singkat selepas sholat subuh pada tanggal 4 Rabi’ul Akhir 1433 H / 26 Februari 2012 M, di masjid Ar-Rahmah, kampus STDI Imam Syafi’i, Jember

 

Selasa, 6 Rabi’ul Akhir 1433 H / 28 Februari 2012 M

 

Penyusun: Roni Nuryusmansyah
Artikel: www.kristalilmu.com

 

__________
[1] HR. Muslim no. 2588
[2] Hilyah Thalib al-‘Ilmi, karya Syaikh Bakr Abu Zaid
[3] Muqaddimah Ibni Shalah, karya Ibnu Shalah
[4] Akhlaq al-‘Ulama, karya al-Ajurri
[5] at-Ta’liq ats-Tsamin ‘ala Syarh asy-Syaikh Ibn ‘Utsaimin li Hilyah Thalib al-‘Ilmi, karya Syaikh ‘Utsaimin, hal. 66
[6] Siyar A’lam an-Nubala, karya Imam adz-Dzahabi (Biografi ‘Amr bin al-Aswad al-‘Arsy)
[7] HR. Muslim no. 91

Comments

  1. Reply

  2. By vanjo

    Reply

    • By Roni Nuryusmansyah -admin-

      Reply

  3. By Fauzan

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *