Seiris Tempe

Tempe. Aku rasa kita tak perlu bersibuk ria mengkaji seperti apa makanan yang satu ini. Karena aku yakin kita semua manusia tahu tempe. Jika ada orang Indonesia mengaku tak tahu tempe, maka akan diragukan kewarganegaraannya. Tempe berbeda dengan makanan kedelai tradisional lainnya yang notabene berasal dari Cina dan Jepang. Tempe made in Indonesia. Asli. Makanan favorit kelas menengah ke bawah ini telah dikenal beberapa abad silam, terutama dalam tatanan budaya makan masyarakat Jawa, khususnya di Yogyakarta dan Surakarta, dua kota tempat di mana aku menghabiskan liburan idul fitri beberapa bulan lalu. Konon, kata tempe diduga berasal dari bahasa Jawa Kuno. Pada zaman Jawa Kuno, terdapat makanan berwarna putih terbuat dari tepung sagu yang disebut tumpi. Duh, kok jadi membahas asal-mula tempe sih?

Tempe dipandang sebelah mata. Ia tak ubahnya pemain lapis tiga dalam sebuah tim sepakbola. Ia layaknya pembantu dari keluarga termiskin di suatu daerah. Benar-benar dikucilkan. Ia diibaratkan sebagai simbol lauknya orang-orang miskin. Pilihan terakhir seorang ibu rumah tangga ketika sedang mengunjungi pasar. Ia menjadi menu wajib dagangan penjual sayur keliling. Bahkan ada yang namanya tempe bongkrek dan tempe gembus yang terbuat dari ampas kacang, ampas kedelai, dan ampas kelapa yang telah diambilnya minyaknya. Ia terbuat dari ampas. Ironis sekali.

Akan tetapi, lain padang lain belalang. Siapa sangka tempe yang di negeri kita murah-meriah, di mata kita remeh-temeh, justru di mata bangsa lain ia begitu mewah dan teristimewa. Ia menjelma menjadi expensive food, memiliki nilai jual yang tinggi, dan  duduk di bangku kuliner tingkat atas. Ia bahkan digemari oleh orang luar negeri karena bergizi. Benarkah? Ini fakta, bung. Kita tidak akan berbicara tentang kisah fiktif mahasiswa al-Azhar Mesir yang bertahan hidup dengan berjualan tempe dalam novel kang Abik Ketika Cinta Bertasbih, tapi kita akan melihat fakta yang benar-benar terjadi.

Di Jerman, satu tempe seukuran batu bata 400gr dibanderol 1,79 Euro atau sebanding dengan Rp. 28.319! Sebuah harga yang nyaris sama dengan harga sekilo paha ayam yang dibanderol 1,99 Euro. Meski demikian, tempe di Jerman tidak diimpor dari Indonesia. Jerman membuat tempe sendiri dengan nama yang sama, yaitu tempe. Ternyata bukan hanya batik saja yang diproduksi oleh perusahaan luar negeri, seperti beberapa perusahaan tekstil di Cina. Akan tetapi tempe juga diproduksi oleh perusahaan luar negeri seperti perusahaan lokal Jerman yaitu Natural Vegetarian Food b.v.

Sedangkan di Amerika, orang Indonesia mengolah tempe menjadi keripik lalu menjualnya perbungkusnya seharga 1 Dollar atau sekitar Rp. 10.000. Sebuah harga yang 20 kali lipat lebih banyak daripada harga keripik di Indonesia yang senilai Rp. 500. Karenanya, mahasiswa Indonesia di Berlin sangat menghargai tempe walau hanya beberapa iris saja. Mereka mungkin akan terharu jika bisa menyantap tempe yang amat mereka rindukan di ranah kelahiran Adolf Hitler tersebut. “Habis mau bagaimana lagi, kangen mau masak kering tempe,” tutur Fitriani (27) mahasiswi Indonesia di Berlin yang terpaksa merogoh uang yang tak sedikit demi beberapa iris tempe.[1]

Beda halnya dengan kejadian real di sebuah kampus yang aku kenal. Sebut saja kampus A. Mayoritas mahasiswa kampus tersebut gemar mengeluh ketika mendapati potongan-potongan tempe mengisi nampan besar di dapur kampus mereka setiap harinya. “Tempe lagi, tempe lagi”, celetuk mereka dengan muka masam. Jujur saja, aku lebih memilih menu tempe atau yang selainnya dibandingkan dengan ayam atau daging. Karena jika lauknya ayam atau daging, maka antrian akan panjang hingga keluar dari pintu dapur.  Loh kok bisa? Mereka memilih ayam atau daging mana yang paling besar, sehingga membutuhkan lebih banyak waktu. Jika ada detektif yang melacak sidik jari di potongan ayam dan daging tersebut, aku yakin seyakin-yakinnya akan banyak ditemukan sidik jari para mahasiswa itu. Sungguh, sebuah hasil dari seleksi alam yang kejam.

Begitulah cara tempe mengajarkan kita bahwa manusia begitu gampang meremehkan sesuatu yang banyak dan mudah didapatkan di tengah-tengah mereka. Tak heran, karena Indonesia adalah negara penghasil tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Subhanallah. Keren. Sebanyak 50% dari konsumsi kedelai Indonesia dilakukan dalam bentuk tempe, 40% tahu, dan 10% dalam bentuk produk lain (seperti tauco, kecap, dan lain-lain). Konsumsi tempe rata-rata per orang per tahun di Indonesia saat ini diduga sekitar 6,45 kg. Menakjubkan. Sebuah angka yang fantastis.

Sebaliknya, manusia justru begitu menghargai sesuatu yang jumlahnya sedikit dan ia dapatkan dengan bersusah payah. Contoh nyatanya adalah apa yang telah aku sebutkan di atas. Mahasiswi yang tinggal di Jerman lebih memilih tempe daripada ayam. Contoh lain adalah yang aku alami beberapa bulan lalu. Ketika itu, musim kemarau melanda bumi pertiwi, tidak terkecuali daratan timur Jawa, tempat di mana aku tinggal sekarang. Aku dan mahasiswa kampusku harus berjibaku mengambil air dari sumur yang ada di area kampus setiap harinya. Mau cuci piring, angkat air dari sumur. Mau buang air, angkat air dari sumur. Mau cuci baju, angkat air dari sumur. Itupun harus mengantri menunggu giliran. Saat itu, jangankan satu ember air, satu gayung air pun begitu berharga bagi kami. Sampai-sampai kami berwudhu hanya menggunakan satu gayung air. Berbeda halnya sekarang, hujan turun tiap harinya. Sekali putar kran, air mengalir deras. Dalam hitungan detik, ember pun penuh berisi air. Alhasil, beberapa di antara kami kembali melupakan nikmat air dan masa sulit ketika kekeringan. Mereka boros dan tak bijak menggunakan air. Padahal Allah Ta’ala telah berfirman dalam kitab-Nya yang artinya, “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan  (harta) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang boros itu saudaranya setan dan setan itu sangat ingkar kepada Rabb-nya.” [QS. Al-Isra: 26-27]

Karenanya, aku mengemukakan sebuah rumus:
BANYAK + MUDAH = DILUPAKAN
SEDIKIT + SUSAH = DISYUKURI

Rumus ini tidak hanya berlaku pada tempe saja. Namun bisa diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan. Coba lihat betapa banyak orang yang sehat melupakan nikmat sehat. Mereka mengkonsumsi apa saja yang mereka suka tanpa mempertimbangkan baik buruknya. Minuman keras dan rokok yang diharamkan syariat, mereka santap. Zina yang merupakan sumber penyakit –maaf- kelamin, mereka lakuin. Bahan-bahan kimia berbahaya pun ditoleransi guna mempercantik diri. Akhirnya ketika mereka sakit, penyesalan itu datang. Mereka menyadari bahwa kesehatan itu sesuatu yang amat sangat berharga. Oleh karena itu, seorang bijak berkata, “Kesehatan adalah mahkota yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang sakit.” Hal ini juga selaras dengan sabda Nabi, “Dua nikmat yang banyak dilupakan adalah nikmat sehat dan nikmat waktu luang.”[2]

Seorang anak yang mendapatkan uang secara cuma-cuma alias gratis dari ayahnya biasanya lebih mudah menghambur-hamburkan uang tersebut dalam hal yang tidak bermanfaat dibandingkan seorang anak yang mendapatkan uang hasil kerja keras dari bekerja. Karena mengetahui betapa sulitnya mengaup rupiah, ia tidaklah membelanjakan uang tersebut melainkan dalam hal yang benar-benar urgen dan bermanfaat. Kisah lain yang aku alami adalah ketika awal bulan, satu lembar uang seribuan seolah tak berarti. Aku dengan mudah menjajankannya ke sana ke sini. Beli batagor, bakso, mie ayam, nasi goreng, terang bulan, dan lain sebagainya. Tapi semua berubah ketika akhir bulan. Jangankan seribu, uang receh lima ratus rupiah pun begitu berharga dan tidaklah digunakan kecuali untuk urusan yang benar-benar penting dan mendesak. Karena itu, berbeda halnya seribu bagi orang kaya dan seribu bagi orang miskin. Karena orang kaya memiliki uang seribu yang begitu banyak dan mudah ia dapatkan kembali. Lah kalo wong miskin, mereka hanya memiliki uang seribu beberapa lembar saja dan itupun ia dapatkan dengan membanting tulang, memeras keringat, selama 25 jam!

Hal itu juga yang membuat mayoritas kita tak secerdas ulama tempo dulu. Pernahkah kalian mendengar kisah ulama yang mencari satu hadis sampai berjalan selama ratusan mil? Ia berjalan menaiki unta di bawah terik matahari yang panas dan malam yang dingin berhari-hari bahkan berbulan-bulan! Karenanya, hadis yang ia dapatkan tidak akan ia lupakan begitu saja mengingat betapa besar pengorbanan yang ia lakukan. Coba lihat diri kita. Cukup duduk manis di depan layar komputer, berselancar di dunia maya, gugling, ketik hadis yang diinginkan, maka akan bisa didapatkan detik itu juga. Ada juga program software maktabah syamilah yang memuat puluhan ribu kitab yang tentu saja berisi banyak hadis. Begitu mudahnya sehingga membuat kita malas untuk menghafalnya. Ilmu mereka ada di dalam hati, sedangkan ilmu kita ada di dalam buku dan laptop. Mengenaskan!

Karena sudah terbiasa dengan suatu hal, manusia sulit mensyukuri hal tersebut. Sedikit sekali manusia yang mensyukuri hembusan nafas yang ia hirup tiap detiknya, jantung yang terus berdetak memompa darah agar terus mengalir, lidah yang dengannya bisa dibedakan antara manisnya gula dan pahitnya pare, bahkan kentut yang sering menjadi bahan tertawaan. Apa kita harus menunggu nikmat itu pergi untuk mensyukurinya? Tentu saja jawabannya tidak.

Jika kita mau sedikit berpikir, betapa banyak manusia yang nasibnya tidak seberuntung kita. Kita mungkin hanya makan dengan seiris tempe, namun ada orang lain yang hanya makan dengan garam atau bahkan ada yang tidak tahu apakah hari itu ia bisa mendapat makanan ataukah tidak. Karenanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Lihatlah kepada orang yang lebih rendah kepada kalian dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Karena hal itu bisa membuat kalian mampu bersyukur atas nikmat Allah yang telah Allah berikan atas kalian.”[3] Hal ini berlaku untuk perkara dunia. Adapun untuk perkara akhirat maka sebaliknya, yaitu lihatlah orang yang berada di atas dan jangan melihat orang yang berada di bawah.

Jika kita mau merenung sejenak, tak selamanya tempe itu buruk. Banyak sebagian manusia memandang apa yang orang lain miliki adalah baik dan apa yang ia miliki adalah buruk. Sehingga ia tidak mensyukuri apa yang telah ia miliki. Padahal Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal hal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahl itu tidak baik bagimu. Allah Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” [QS. Al-Baqarah: 216] Bisa jadi jika kita sering makan daging, kita akan mengalami penyakit darah tinggi dan lain sebagainya. Bisa jadi dengan tempe, protein yang kita konsumsi semakin banyak. Karenanya, ada sebuah pepatah inggris: when we have no what we like, so we must like what we have. Artinya, ketika kita tidak memiliki apa yang kita sukai, maka kita harus menyukai apa yang telah kita miliki.

Ternyata dengan seiris tempe, kita mampu memetik hikmah yang agung, yaitu untuk mensyukuri apa yang telah kita miliki, walaupun ia mudah kita dapatkan dan terkesan sepele di mata kita. Syukurilah semua nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan kepada kita dengan cara mempergunakan nikmat tersebut dengan sebaik-baiknya dalam hal yang ia ridhai sebelum Allah Ta’ala mencabut nikmat itu dari diri kita. Karena sejatinya, nikmat yang tidak mendekatkan kita kepada Allah, Dzat yang satu-satunya berhak untuk disembah, maka ia akan berubah menjadi azab. Wal-iyadzu billah.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” [QS. Ibrahim: 7]

 

 

Ketika mendung seolah tak mau pergi
Kamis, 15 Rabiul Akhir 1433 H /8 Maret 2012 M
Kamar A15, Kampus STDI Imam Syafi’i Jember

 

Penulis: Roni Nuryusmansyah
Artikel: www.kristalilmu.com

 

___________
[1] www.kaskus.us
[2] HR. Bukhari
[3] HR. Muslim

Comments

  1. By ernalaila

    Reply

    • By Roni Nuryusmansyah -admin-

      Reply

  2. Reply

  3. Reply

    • By Roni Nuryusmansyah -admin-

      Reply

      • Reply

        • By Roni Nuryusmansyah -admin-

          Reply

  4. By vanjo

    Reply

    • By Roni Nuryusmansyah -admin-

      Reply

  5. By Ayin

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *