Secercah Kisah Pengembara Kecil (Part. I)

Kelam di Awal Malam

Jaket hijau yang membungkusi tubuhku tak mampu membendung tajamnya hawa dingin yang terus merasuk. Jelas saja, bagi seorang yang bertipikal mudah masuk angin sepertiku, kondisi seperti itu terasa sangat mengganggu. Aku pun menurunkan laju kendaraan beroda dua itu. Akhirnya, aku pun memarkirkan motor berkulit biru itu di bawah bayang-bayang tembok sebuah rumah yang ramai dikunjungi pemuda-pemuda berbadan kekar dan berambut cepak yang terkadang lengkap dengan seragam tentara mereka. Entah mengapa, malam itu terasa begitu ramai. Penuh sesak. Lampu-lampu kendaraan seakan tak habis mengisi setiap ruang jalan beraspal.

Temanku, Syahid, pemuda cerdas berwawasan tinggi asal Pekalongan itu pun memesan dua piring nasi goreng. Kami pun menduduki bangku panjang seraya menunggu santapan makan malam itu datang. Aku mulai membuka buku yang baru saja aku beli di pameran buku kota Jember tadi, tepatnya di gedung serba guna UNEJ, sebuah singkatan untuk Universitas Jember yang cukup favorit bagi para pelajar SMA seantero Jawa Timur. Penjelajahan dan observasi di pameran buku tersebut tak ayal membuat temanku itu merasa kelaparan.

Setelah menyelesaikan tugas mencetak makalah untuk Dauroh pertengahan Juli nanti, memburu buku-buku murah dan membaur bersama mahasiswa, kaum intelektual negeri kita, lalu menyantap sepiring nasi goreng hangat serta membeli keripik goreng murah di kaki lima, kami pun pulang menuju asrama kampus. Hiruk pikuk dunia malam masih terasa kental di jalan-jalan. Perempuan-perempuan berkostum ala jahiliyah tak malu mempertontonkan aurat mereka di depan khalayak ramai. Berpelukan dan bermesraan di atas roda dua bersama lelaki berhidung belang yang belum tentu suami mereka. Baju-baju mini dan celana setengah paha menjadikan mereka layaknya tak berbusana.

Tahukah mereka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutkan dua golongan penghuni neraka yang belum pernah Beliau lihat, salah satu di antaranya adalah:

“dan wanita-wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk-punuk unta, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium bau surga, padahal bau surga dapat tercium dari perjalanan sekian dan sekian.”

[HR. Muslim]

***

 

 

The Long Journey

                Keesokan harinya, jauh sesaat sebelum adzan subuh menggema, beberapa mahasiswa kampusku telah terbangun dari pembaringannya. Mereka –termasuk aku- tengah bersiap-siap untuk melakukan ‘the long journey’. Lebih dari dua puluh mahasiswa membawa koper dan tas-tas besar mereka di teras masjid, menunggu mobil yang akan mengantar kami ke stasiun Jember itu datang. Karena mobil itu tidak berukuran cukup besar untuk menampung kami beserta barang-barang kami semuanya, dengan terpaksa teman kami, si pemilik mobil, harus bolak balik antara kampus dan stasiun sebanyak tiga kali putaran. Kami pun berkumpul di masjid stasiun tersebut untuk mendirikan rukun islam yang kedua subuh itu.

Seusai meninggalkan masjid yang berada tepat di sebelah kanan stasiun, kami pun membaur dalam antrian panjang untuk memesan tiket dengan tujuan ibu kota provinsi Jawa Timur, Surabaya, dan kota batik Yogyakarta. Saat tengah asyik bercengkerama, di tengah-tengah keramaian kami melihat sosok perempuan bule berbadan tinggi dengan tas besarnya sibuk membaca sebuah buku. Keringatnya terus bercucuran pertanda ia sedang dalam kebingungan tingkat tinggi. Buku itu tak lain adalah sebuah kamus bersampul budaya-budaya Indonesia. Sekali-kali ia bertanya kepada petugas, bahkan orang lain, namun tak satupun yang mampu menolongnya.

Sebagian temanku yang mengetahui hal itu pun memintaku untuk menolongnya. Aku sebenarnya tidaklah mahir dalam conversation, namun aku sangat menyukai grammar alias tata bahasa, seperti ilmu nahwu dalam bahasa Arab. “Ana (saya) nggak pandai berbincang-bincang dengan bule, apalagi dia ajnabiyah”, jawabku menolak. Hatiku bergumam, jika saja dia laki-laki, aku mungkin bisa memberanikan diri membantunya menanyakan masalahnya. Terlebih lagi aku tidak memiliki banyak pengalaman berbicara dengan wanita non mahrom terutama sejak dua tahun merantau di tanah Jawa. Kalut rasanya. Apalagi berbicara dengan dia; bule dengan celana pendek yang memamerkan bagian atas lututnya. Semoga saja akan ada seseorang yang dapat menolongnya, tetapi dia bukan aku.

Setelah tangan kananku menerima sebuah tiket bertuliskan nama kereta api Logawa, dengan keberangkatan Jember-Madiun, aku pun memasuki kereta api yang berdiam diri di atas rel yang panjang itu. Ini kali keenam aku menaiki kendaraan tak berbensin itu. Aku membaur bersama mahasiswa kampusku yang lain, terutama anak-anak Palembang. Ketika jam menunjukkan pukul 05:00 WIB, terdengar suara besar tanda kereta akan segera meninggalkan stasiun Jember tersebut. Terlihat beberapa temanku sekampus membuka buku kumpulan doa. Teringat dalam benakku akan sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “ada tiga doa yang tidak diragukan lagi kemustajabannya; doa orang yang terzhalimi, doa musafir (orang yang melakukan safar/bepergian), dan doa kedua orang tua kepada anaknya.”

 

***

Bukan Mie Instan

                Lima jam telah berlalu. Akhirnya tibalah kami di stasiun Gubeng, Surabaya. Stasiun ini telah aku kunjungi lebih dari empat kali, terutama ketika aku tengah liburan sebelum lebaran ‘Idul Fitri di Surabaya untuk menghadiri daurah di sebuah sekolah tinggi di sana. Aku dan rombongan mahasiswa dengan tujuan Sumatera, segera turun dari kereta. Sedangkan teman kami dengan tujuan kota-kota besar di pulau Jawa seperti Solo dan Yogyakarta tetap berada di dalam kereta. Semoga mereka selamat sampai tujuan. Sekarang, tersisalah kami anak-anak Sumatera yang tengah menunggu. Karena kereta GBM (singkatan dari Gaya Baru Malam) akan tiba di ibu kota provinsi Jawa Timur itu pukul dua siang. Kami pun membaur bersama orang lain yang bernasib sama: menunggu kereta.

Beberapa anak Padang memilih untuk mengunjungi sanak saudara di kota berhawa panas tersebut. Sedangkan yang lain –termasuk aku- memilih untuk jalan-jalan menemani seorang teman untuk berbelanja di Hi-Tech Mall atau lebih dikenal dengan sebutan THR (baca: te ha er). Sisanya memilih menjaga barang-barang kami di stasiun seraya mendengarkan kajian di mp3 atau aktivitas bermanfaat lainnya.

Ketika keluar dari stasiun, kami langsung dihadapkan dengan jalan beraspal yang padat dengan kendaraan ber-plat kendaraan L. kami pun menyeberangi jalan dan masuk ke angkutan umum berwarna kuning dengan huruf F besar di kaca depan. Berbeda dengan angkutan umum di kotaku, Palembang, yang lebih memilih memakai nama tempat ketimbang huruf, seperti Ampera-Pakjo. Aku memilih duduk di hadapan pintu agar bisa melihat pemandangan sekitar, untuk memutar memori beberapa tahun yang lalu, ketika untuk kali pertama aku mengunjungi kota ini.

Beberapa bangunan besar yang dahulu masih berupa kerangka, sekarang telah menjelma menjadi bangunan besar yang angkuh. Ruangnya ramai akan pengunjung, dindingnya pun padat akan iklan-iklan besar, dan kendaraan mewah pun memenuhi tiap sudut tempat parkiran di depan bangunan berwarna perak itu. Tentu saja semua itu terjadi setelah melalui proses panjang. Begitu juga manusia; tidak ada yang menjadi sukses dengan instan. Lihatlah para ulama! Dahulu mereka lahir dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Namun setelah melewati proses yang begitu panjang, mereka akhirnya dapat menempati singgasana yang mulia di sisi Allah; pewaris warisan para Nabi ‘alaihimush sholatu was salam. Yakinlah, proses itu indah! Hidup tak mengenal kata instan layaknya mie instan.

***

Tiang yang Rapuh

                Seperempat jam pun telah berlalu. Tibalah kami di sebuah mall besar yang terkenal dengan barang-barang elektroniknya. Sebuah mall yang selalu aku kunjungi tiap tahunnya. Pertama kali menginjakkan tempat ini, aku menemani beberapa temanku untuk membeli mp3. Aku pun membeli jam tangan yang bagus dengan harga yang cukup murah. Tahun kedua, aku dan seorang temanku -namanya ‘Abdul Barr- pun kembali mengunjungi mall elektronik tersebut. Aku membeli sebuah flashdisk putih dan sebuah jam, sedangkan temanku membeli sebuah mp3. Uniknya, aku membeli jam di tempat yang sama dan temanku pun membeli mp3 di tempat yang sama dengan tahun lalu.

Namun, sekarang aku tak membeli apapun. Aku hanya menemani beberapa temanku yang memang ingin membeli perangkat komputer. Kurang dari setengah jam, kami pun keluar dari tempat tersebut. Memang tak seharusnya kita berlama-lama dalam kerumunan pasar karena banyak kemaksiatan yang menjamur di dalamnya; seperti aurat yang dipertontonkan, bercampur baurnya laki-laki dan perempuan, perkataan yang buruk, dan lain sebagainya.

Akhirnya, kami tiba di stasiun, berbaur bersama teman kami yang setia menjaga barang bawaan kami yang tak sedikit. Aku bersama seorang temanku, Hidayat, sempat menyantap roti maryam yang terkenal bagi pencinta kuliner timur tengah. Beberapa padangiyun (orang-orang Padang) dating dengan membawa nasi beserta lauk-pauknya. Otomatis, kami pun menyantap makan siang secara gratis alias nggak bayar. Namun, aku memilih untuk tidak bergabung, karena sebelum mereka datang aku telah melahap sepiring nasi rawon yang cukup membuatku merasa kenyang.

Stasiun gubeng semakin padat. Tak ayal situasi ini dapat membangunkan jiwa-jiwa yang tak sehat untuk melakukan tindak kriminal yang tak pandang bulu dapat memangsa siapa saja, bahkan remaja berpenampilan anak santri seperti kami. Ketika matahari telah tergelincir, kami bersiap menuju musholla untuk mendirikan kewajiban seorang mukmin: sholat zhuhur. Kami berinisiatif untuk tidak membawa semua barang kami ke musholla karena itu sangat merepotkan. Karenya, kami membagi menjadi dua kelompok sebagaimana hendak mendirikan sholat khauf dalam peperangan. Kelompok pertama pergi ke musholla, sedangkan yang lain menjaga barang bawaan kami. Aku masuk ke dalam kelompok pertama.

Sungguh ironis, dari sekian banyak manusia yang berada di dalam stasiun tersebut, hanya sedikit sekali yang tergerak hatinya memenuhi panggilan Rabb-Nya untuk bermunajat kepada-Nya. Tidakkah mereka mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; “Perjanjian antara kami dan mereka (orang-orang kafir) adalah sholat.” Bahkan para ulama sepakat bahwa dosa meninggalkan sholat lebih besar dari dosa membunuh dan berzina. Kita hanya bisa berdoa, “Yahdihumullah”. Semoga Allah memberi mereka hidayah, untuk menegakkan kembali tiang mereka yang rapuh.

 

***

 

 

 

 

Revisi    : hangat-hangat kuku, di awal musim kawin unta

2 Syawwal 1432 H / 3 September 2011 M

Penulis : Roni Nuryusmansyah al-Falimbany

Mahasiswa Jurusan Ahwal Syakhsiyah STDI Imam Syafi’i Jember

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *