Untaian Nasehat untuk Sang Pemberi Nasehat

Sering kita temui, terutama di masjid yang notabene penghuninya adalah ikhwah remaja yang gemar memakmurkan  masjid, mereka begitu bersemangat mengamalkan sunnah yang begitu asing dalam kacamata masyarakat awam. Bukan “sunnah” yang artinya “jika dilakukan berpahala, jika ditinggalkan tidaklah mengapa”. Jangan salah, sunnah itu memiliki banyak arti yang bervariasi, sehingga tidak bisa kita mendudukratakan semua kata sunnah dalam berbagai keadaan. Sunnah yang dimaksud di sini adalah “perbuatan maupun perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik hukumnya wajib maupun sunnah”. Itu pengertian sunnah menurut ahli hadits. Jadi, tatkala ada yang bilang sunnah, belum tentu hukumnya pun sunnah. Namun ada kalanya wajib. Sedangkan sunnah dalam aqidah adalah lawan dari bid’ah.

 

Kita kembali ke topik awal mengenai semangat para remaja yang tergolong anak baru dalam mengecap manisnya hidayah dan mencicipi nikmatnya mengenal manhaj yang mulia ini. Layaknya para pendekar yang turun gunung, mereka langsung mempraktekkan ilmu yang telah mereka pelajari tanpa basa-basi. Mengatakan yang hak walaupun itu pahit menjadi harga mati yang telah terpatri dalam jiwa-jiwa mereka. Mereka menginginkan dengan segera orang lain pun mendapat hidayah yang sangat mahal harganya itu seperti juga mereka. Namun, sikap inilah yang secara tersirat menghambat dakwah yang diberkahi ini. Mereka berdakwah tanpa hikmah. Mereka mengamalkan dakwah tanpa mengetahui ilmu tentang dakwah itu sendiri. Tidak ada bedanya dengan manusia yang beramal tanpa ilmu. Yang sejatinya, bukanlah perbaikan yang mereka hasilkan, namun kerusakanlah yang menjadi dampak ulah mereka yang begitu tergesa-gesa.

 

Seolah ingin tampil beda, sebagian kita dengan penuh percaya diri berpenampilan 180 derajat dari masyarakat pada umumnya. Dengan niat mulia menunjukkan syiar Islam, sunnah Nabi yang ditinggalkan, dan lain-lain. Sadar tak sadar, sikap ini justru membuat jurang yang jauh antara kita dan masyarakat awam dan mengesankan tindakan meremehkan mereka yang tak sejenis. Lantas, bagaimana dakwah kita akan menyentuh hati-hati mereka jika kita malah membuat jarak antara mereka dan tidak mau menyesuaikan diri dengan mereka? Tidak ada yang salah dengan baju koko, songkok nasional, dan sarung –asal nggak isbal- untuk kita kenakan dalam bergaul dan berbaur bersama masyarakat, seperti sholat jama’ah. Ini lebih dekat kepada hikmah.

 

Pernah suatu ketika, saat saya sedang berada di sebuah masjid di Palembang –tempat saya dibesarkan- dalam rangka menuntut ilmu, yang kebetulan saat itu seorang Syaikh muda yang menuntut ilmu di tanah Arab berkunjung ke Indonesia dan menyempatkan diri untuk mengisi majelis taklim di masjid itu. Tentu saja, karena sang penceramah tidak bisa berbicara dengan bahasa Indonesia, maka seorang Ustadz secara langsung menterjemahkannya. Spontan, beberapa masyarakat awam sekitar masjid yang mengetahui hal tersebut turut meramaikan majelis ilmu itu, walau sekedar untuk melihat sang penceramah yang dengan fasihnya berbahasa Arab itu. Saya masih ingat, tema yang Beliau sampaikan adalah gambaran ringkas tentang rukun Islam –zakat dan haji belum sempat dibahas- setelah sebelumnya Beliau memberikan motivasi menuntut ilmu dengan menjabarkan beberapa keutamaan menuntut ilmu. Hal itu terjadi amatlah singkat, antara Maghrib dan ‘Isya’.

 

Ketika tiba saatnya sholat ‘Isya’ berjama’ah, saya yang saat itu berada di shaf kedua mendapati seorang bapak tua –atau lebih pantas disebut kakek- yang berdiri beberapa langkah di sebelah kiri saya. Ia begitu kebingungan. Ternyata, kedua kaki bapak tua itu berhimpitan satu dengan yang lainnya. Saya pun turut iba melihat kondisi bapak tua tersebut. Bagaimana mungkin bapak tersebut bisa sholat dengan tenang dengan keadaan demikian? Sedangkan tepat di sampingnya berdiri pemuda berbadan besar dengan tegapnya. Maka saya pun mengambil inisiatif untuk mundur ke belakang seraya memberi isyarat agar bisa digeser sehingga bapak tua tersebut dapat diberi sedikit ruang untuk bergerak.

 

Namun ketika beberapa langkah saya beranjak dari tempat tersebut, seorang pemuda yang mungkin lebih muda dari saya langsung mengisi ruang kosong yang baru beberapa detik saya tinggalkan. Ia, semangat mendapat keutamaan shaf pertama dan kedua membuatnya melakukan hal itu. Beruntung, sebagian ikhwah yang telah memahami “hikmah” dan yang merasa tidak nyaman sholat dalam keadaan sempit, memilih memenuhi shaf akhir yang sebenarnya masjid pun masih bisa diisi beberapa shaf lagi. Saya jadi teringat, tentang hadits yang dibacakan Ustadz saya yang juga dosen saya di Jember ketika selesai mengimami sholat, “Luruskan shaf kalian dan janganlah hati kalian berselisih”.[1] Beliau saat itu juga menegur sebagian kami yang berdesak-desakan di shaf awal.

 

Sebenarnya hadits-hadits serupa dalam kitab Shahihain dan beberapa kitab Sunan tersebut menegur orang yang tidak beraturan dalam shafnya. Karena hal itu menunjukkan bercerai-berainya hati mereka. Dan jika shaf yang beraturan namun juga berdesak-desakan maka sangat memungkinkan berselisihnya hati. Apalagi hal tersebut mempengaruhi kualitas ibadah seseorang dalam sisi ketenangannya dan kekhusyu’an di dalam sholat.

 

Namun, hal ini tidak menafikan keutamaan shaf pertama. Tidak semestinya bagi kita para remaja yang menisbatkan diri kita kepada sunnah untuk bermudah-mudahan dalam masalah ini. Sebagaimana sebuah kaidah fiqih, “tidak ada itsar (sikap mengalah dan berkorban) dalam ibadah”. Dan hal ini juga tidaklah meragukan disyari’atkannya melurus dan merapatkan shaf di dalam sholat. Ini hanya sebagian contoh kecil saja akibat hilangnya hikmah dalam mengamalkannya.

 

Ingat, untuk membuat orang yang bergelimang dengan syirik dan bid’ah kembali kepada kebenaran tidaklah mudah. Jangan disebabkan kesalahan kita karena tidak hikmah, justru mereka menjadi ogah dan telah memberi kita stempel sebagai orang-orang yang diwaspadai. Sehingga akan sangat sulit qalbu mereka meresapi indahnya nasehat dari lisan kita. Bukankah kita bisa memulai dakwah dengan apa yang kita sepakati? Bukankah kita dapat menghiasi lisan kita sehingga tak berkesan menyinggung, atau menjauhi kata-kata yang membuat mereka alergi? Bukankah kita bisa memakai untaian kata yang lembut, akhlak yang mempesona, bahasa hati yang menyentuh, untuk menjadi senjata dakwah kita? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berilah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari….”[2]

 

Betapa banyak manusia lari dari dakwah kita lantaran hilangnya hikmah dalam mengamalkan sunnah maupun mendakwahkannya. Tak heran, jika yang kita dapati justru bertolak belakang dari apa yang kita harapkan. Meskipun yang kita lakukan adalah benar dan sebuah kebaikan, kita kudu mempertimbangkan maslahat maupun mudharatnya. Tidak mesti setiap kebaikan akan melahirkan kemaslahatan. Karena itu, di dalam kitab Shahihain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada istrinya, Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Kalau bukan karena kaumku yang baru saja meninggalkan kekufuran, maka akan aku hancurkan Ka’bah, lalu akan aku bangun kembali di atas pondasi Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.”[3] Inilah dalil yang begitu gamblang mendeskripsikan bolehnya meninggalkan amalan selama hukumnya sunnah –tidak wajib- untuk menghindari terjadinya fitnah atau kemudharatan yang lebih besar.

 

Karena itu sobat, jangan cukupkan diri kita hanya dengan menuntut ilmu setengah-setengah, terlebih lagi tanpa sikap hikmah dan bijaksana. Betapa banyaknya amalan yang ketika digali lebih dalam ternyata di dalamnya terdapat keluasan yang dapat ditolerir satu sama lainnya. Tidak sedikit amalan yang hukumnya sunnah menjadi polemik di tengah masyarakat sehingga dengannya timbul kerusakan yang lebih besar. Namun perlu diingat, kita tetap tidak diperkenankan bermudah-mudahan dalam perkara yang berlabelkan wajib ataupun haram, serta tidak diperkenankan untuk mengorbankan aqidah kita dengan dalih tenggang rasa.

“…Ketahuilah, ahlus sunnah adalah sang pemberi nasehat,

karena itu mestilah berbekal ilmu tentang apa yang akan ia nasehatkan,

tentang bagaimana cara nasehat tersebut disampaikan,

dan tentang keadaan manusia yang mana untuk merekalah nasehat itu ditujukan….”

 

Cerahnya titian pagi

Sabtu, 19 Jumadal Ula 1432 H / 23 April 2011 M

Asrama indah STDIIS, Jember, Timur daratan Jawa, Nusantara

 

Penulis                 : Roni Nuryusmansyah

Pemuraja’ah      : Ust. Dr. Muhammad Arifin Badri, MA (Ketua KPMI, Dosen STDI Imam Syafi’i Jember, Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta)

Artikel                   : kristalilmu.com

_______________

[1] HR. Nasa-i, Darimi, dll

[2] HR. Muslim

[3] HR. Bukhari dan Muslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *