[Renungan] Pernahkah Engkau Bersedih?

pernahkah kalian gundah gulana, bermuram durja, mengenang kejadian menyedihkan beberapa tahun silam?
pernahkah kalian menghela nafas panjang, berat, mengingat kesalahan menyedihkan di masa lalu?
pernahkah kalian menitikkan air mata, merasa kehilangan sesuatu yang berharga?
aku pernah, kawan..

lalu apakah kita akan terus membiarkan hati kita kosong? nelangsa? berkecamuk?
lalu apakah kita akan membiarkan diri ini terus menatap nanar, sembari berkata “sekiranya dan sekiranya?
lalu apakah kita akan tetap berdiam diri, kehilangan semangat hidup, hidup enggan mati pun tak mau?
tentu tidak, kawan..

anggaplah masa lalu seperti sepotong malam yang diterjang sinar mentari, terusir, sempurna tak ada lagi..
anggaplah masa lalu bagaikan setetes embun di ujung dedaunan hijau, menghilang, membaur bersama datangnya pendar ufuk timur..
anggaplah masa lalu bak daun kering yang jatuh ditiup semilir angin, lepas dari dahan, terbang terombang-ambing, lalu melebur bersama debu jalanan..
anggaplah ia begitu sederhana, ya, s-e-d-e-r-h-a-n-a..

kawan, terkadang kesedihan itu muncul karena ulah diri kita sendiri..
kitalah yang tidak mau menyederhanakannya, justru malah membesar-besarkan kesedihan yang sejatinya begitu sepele jika dibandingkan dengan kesedihan jutaan orang di luar sana..
kitalah yang menilai kehilangan dari satu sisi, pernahkah kita memandang kehilangan dengan membandingkan apa yang telah pergi dengan apa yang masih tersisa?

tidak selayaknya seorang penuntut ilmu justru terpuruk dan larut dalam kesedihan tak berujung, galau berkepanjangan, centang perenang..
karena sejatinya, sendu yang menggelayut di kelopak mata itu hanyalah strategi setan untuk menjauhkan manusia dari jalan kebaikan..
kegamangan dalam kesendirian itu hanyalah pemusnah kesempatan produktivitas dengan berbagai aktivitas yang bertabur manfaat..

namun, bersedihlah karena dosa-dosamu, karena itu mendekatkan kita kepada taubat yang dicintai Sang penerima taubat..
bersedihlah karena sedikitnya bekalmu, karena itu memacu kita untuk mempersiapkan diri untuk pertemuan di hari akhir, serta meraih manisnya bertaqarrub kepada Allah, Dzat yang Agung..
menangislah karena takut kepada Allah, Rabb semesta alam..
biarkan air mata berderai jatuh menghujam membasahi bumi, karena-Nya, ‘bukan’ karena manusia, bukan karena kesalahan di masa lalu, apalagi dunia yang hina!!

lihatlah, bagaimana kekasih kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung kepada Allah dari bayang-bayang kesedihan di masa lampau..
lihatlah, bagaimana manusia di luar sana mampu tersenyum, menjalani garis kehidupan yang getir nan menyakitkan..
lihatlah, bagaimana kesedihan terhadap perkara dunia menyita banyak waktu, menghalangi dari kebajikan, yang tanpa tedeng aling-aling justru hanyalah mendatangkan penyesalan..
tahukah kalian, hal yang selalu datang terlambat? Ia adalah penyesalan, ya, p-e-n-y-e-s-a-l-a-n..
karena itu, sebelum penyesalan itu datang, yuk, move on, kawan! Yakinlah Allah selalu memberi yang terbaik!

Allah Ta’ala berfirman yang artinya,
“..Barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala pada sisi Rabb-nya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka ‘bersedih hati’..”
(QS. Al-Baqarah: 112)

Penulis: Roni Nuryusmansyah, Mahasiswa STDI Imam Syafi’i Jember
Artikel: www.kristalilmu.com

Rabu, 15 Dzulhijjah 1433 H / 31 Oktober 2012 M
Ketika rinai hujan telah tergenang..
Ketika rembulan purnama bersinar kemerah-merahan..

*) Artikel ini pertama kali dimuat di dalam majalah dinding Al-Hanif kampus STDI Imam Syafi’i Jember, edisi Dzulhijjah 1433 H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *