Penawar Hati

Hati merupakan bagian vital di dalam jiwa seorang insan. Segala tindak-tanduk anggota badan bermula dari titah dan ultimatum sang hati. Baik itu bermuatan positif maupun negatif. Tak heran jika Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menganalogikannya laksana raja dan anggota tubuh bak pasukannya, “Hati ibarat raja, sedangkan anggota badan ibarat pasukannya. Apabila rajanya baik, maka baik pula pasukannya. Apabila rajanya buruk, maka buruk pula pasukannya.” (HR. Baihaqi)

Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “…Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Apabila ia buruk, maka buruk pulalah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika setan mengetahui bahwa hati adalah poros dan muara segala gerak-gerik seorang hamba, maka setan pun berusaha untuk menyerang organ vital ini. Setan membisikinya, menggodanya dengan sejuta angan palsu dan merayunya dengan selaksa kenikmatan semu. Kala hati tak kuasa memberontak, ia pun tertawan dengan belenggu syubhat dan jerat syahwat. Hingga akhirnya hati akan terluka, terkotori karat maksiat dan noda dosa.

Oleh karena itu, sudah selayaknya kita memahami betapa urgennya eksistensi hati bagi kehidupan seorang insan. Sehingga kita dapat memberi prioritas tertinggi dalam ihwal merawat hati dan mendeteksi berbagai penyakit yang bersemayam di dalamnya. Pada kesempatan kali ini, kita akan memaparkan secara ringkas beberapa penawar hati.

Tauhid
Syirik adalah penyakit hati nomor satu dan yang paling mematikan. Bayangkan, betapa parahnya hati yang bersandar kepada selain Allah, meminta kepada selain-Nya, menggantungkan rasa harap, mengedepankan rasa takut, dan mendahulukan rasa cinta kepada yang lain di atas rasa harap, rasa takut, serta kecintaan kepada-Nya.
Karena itu, tauhid adalah penawar paling mujarab untuk merawat hati, baik bersifat preventif maupun represif. Hati yang dihiasi cahaya tauhid akan diselimuti rasa aman dan merasakan manisnya hidayah yang merupakan salah satu tanda hati yang sehat. Allah Ta’ala berfirman tentang orang yang tidak mengotori hati mereka dengan kesyirikan (yang artinya), “Mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)

Menuntut Ilmu
Ilmu agama juga merupakan obat hati yang ampuh, terutama hati yang terjangkiti penyakit syubhat. Karena dengan mempelajarinya, seseorang mampu mengetahui hakikat kebenaran yang merupakan upaya membentengi diri dari kerancuan paradigma dalam beragama, serta racun pemikiran lainnya yang kerap kali menggerogoti akidah. Ilmu mengenal Allah menjadikan seorang hamba selamat dari banyaknya pemahaman menyimpang mengenai dzat Allah beserta keindahan nama-Nya dan ketinggian sifat-Nya.
Tak hanya itu, ilmu agama juga merupakan penawar jitu untuk mengusir penyakit syahwat yang bercokol di dalam hati. Karena ilmu menuturkan janji-janji keindahan bagi jiwa yang bersih dan menceritakan ancaman untuk hati yang mati. Dengan ilmu seorang hamba mampu mengetahui yang mana ranah terlarang yang diharamkan dan yang mana ladang amal kebaikan. Dengannya pula ia merasa selalu diawasi kapanpun dan di manapun, sehingga menumbuhkan rasa takut untuk memaksiati Sang Pencipta.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)

Taubat & Istighfar
Sebagian ulama mengungkapkan, di antara tanda hati yang sehat adalah apabila ia berbuat keburukan maka ia bergegas melakukan kebaikan. Dan apabila ia berbuat dosa, maka ia bersegera bertaubat serta beristigfar. Hal itu dikarenakan taubat yang tulus dapat menggugurkan dosa sehingga hati yang kotor kembali bersih.

Bersabar
Kesabaran adalah antibiotik terkuat untuk meredam serangan bakteri syahwat. Hati yang dibentengi tameng kesabaran akan mampu menahan diri dari godaan nafsu yang kerap kali jiwa dambakan.
Di antara amal ibadah yang mampu melatih kesabaran seseorang adalah berpuasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyifatinya sebagai perisai dalam sabdanya. Hal itu dikarenakan puasa bisa mengekang hawa nafsu sehingga seseorang terjaga dari perbuatan keji dan mungkar serta terlindungi dari api neraka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Puasa bagaikan perisai. Dengannya seorang hamba melindungi dirinya dari api neraka.” (HR. Ahmad, sahih)

Dzikir
Dzikir adalah penyejuk hati. Ruang hati yang dipenuhi dzikir membuat hawa nafsu sulit untuk masuk melalui sekat-sekat hati. Dzikir yang tumbuh di taman hati menghadirkan ketentraman. Berbeda dengan hati yang hampa dari dzikir. Ia akan mudah dihinggapi kegalauan dan kegelisahan.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’du: 28)

Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah sebaik-baik dzikir. Allah Ta’ala menurunkan Al-Qur’an sebagai obat bagi hati yang sakit. Melantunkannya mendatangkan ketenangan, merenunginya menghadirkan ketentraman, dan mengamalkannya adalah sebuah penghidupan.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Wahai manusia! Sungguh telah datang pelajaran (Al-Qur’an) kepadamu dari Rabb-mu, penawar bagi penyakit yang berada di dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)

Menyibukkan Diri dengan Hal-Hal yang Bermanfaat
Kiat terpenting merawat hati adalah mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat. Ini adalah tindakan preventif yang efektif agar gulma keburukan tidak memiliki ranah untuk tumbuh meski hanya sepetak ladang.
Segala aktivitas yang membuat iman bertambah adalah nutrisi yang lezat bagi hati yang merindukan kemuliaan. Terkhususnya amalan wajib lalu kemudian amalan sunah. Hati yang sehat akan senantiasa tersibukkan dengan ibadah dan ketaatan kepada Allah secara berkesinambungan meskipun sedikit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meskipun sedikit.” (HR. Muslim)

Teman yang Baik
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seseorang itu dilihat dari agama temannya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Dawud, hasan)
Seorang teman yang buruk akan menularkan keburukannya yang bermuara dari telaga hati yang keruh. Sedangkan teman yang baik akan memancarkan pesona kebaikan yang berasal dari kejernihan telaga hatinya. Tingkah laku dan tutur kata dari sahabat yang berhati mulia akan berdampak positif bagi kehidupan hati.

Doa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memohon kesucian, kelapangan, dan keteguhan hati, serta berlindung dari hati yang tiada khusyuk. Bahkan Beliau meminta agar Al-Qur’an dijadikan sebagai penyejuk lagi penawar hati yang duka. Karenanya, jangan pernah jenuh untuk memohon kebersihan hati kepada Allah.

Akhir kata, kita memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia menyucikan dan membersihkan hati kita dari pelbagai macam penyakit hati. Aamiin.

[Roni Nuryusmansyah]

Selesai ditulis,
Jember, 3 Jumadal Ula 1434 H / 15 Maret 2013 M

Penulis: Roni Nuryusmansyah
Akurator: Ust. Suhuf Subhan, S.Pd, M.Pd.I
Editor: Najih Alfaf Syauqi
Artikel: www.kristalilmu.com

*) Tulisan ini pertama kali dipublikasikan oleh Buletin An-Nashihah, STDI Imam Syafi’i Jember, tanggal 8 Jumadal Akhirah 1434 H / 19 April 2013 M, dengan sedikit perubahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *