Optimis, Menebar Dakwah Menuai Hidayah (3)

Di lain waktu, penulis diingatkan seorang ustadz tentang kisah seorang santri yang telah lulus dan kemudian berdakwah di tanah kelahirannya. Pelan namun pasti dakwahnya diterima di masyarakatnya. Ia bisa mengajar di sebuah lembaga pendidikan Islam dan berdagang kecil-kecilan. Bahkan sekarang kajiannya pun dirasa perlu dipajang spanduk besar sebagai publikasi pengajiannya.

Ustadz tersebut kemudian berkisah tentang mantan santrinya tersebut ketika masih diajarnya. Suatu hari, sang ustadz memintanya untuk maju di depan kelas untuk mengerjakan sebuah soal pembagian warisan. Setengah bingung ia tampaknya belum bisa segera mengerjakan soal tersebut. Kemudian sang Ustadz sedikit membantu. Kata ustadznya, “Pertama kali Antum harus memulainya dengan ash-habul furudh dulu, Akh!” Begitu pancing ustadznya. Alih-alih paham dengan maksud ustadznya, ia pun tambah bingung. “Ash-habul furudh itu makhluk apa lagi, Ustadz?” mungkin itu yang terbersit dalam hatinya. Sang ustadz kemudian bertanya, “Antum sudah hapal belum ash-habul furudh dan masing-masing pembagiannya?” Tambah bingung lagilah ia. Lah wong ash-habul furudh saja ia belum paham benar apalagi ditanya berapa masing-masing pembagiaannya!

Santri inipun gelagapan dengan pertanyaan ustadznya. “Ana belum hapal bagian-bagian untuk ashshabul furudh, Ustadz,” jawabnya. Sang ustadz pun agaknya agak mangkel dengan jawabannya sampai-sampai beliau menukas, “Ya Akhi, kan sudah lama kita belajar faraidh! Harusnya itu yang pertama Antum pahami! Bagaimana nanti Antum menjadi dai kalau di kelas saja seperti ini? Antum nggak pantas jadi dai kalau begitu!”

Deg! Ana langsung ingat bolak-balik ikhwah ini curhat bahwa azamnya ketika lulus nanti hanyalah berdagang. Ya, hanya berdagang. “Ana tidak pantas berdakwah, ilmu ana kurang mantap (padahal ia sebenarnya murid ustadz-ustadz besar lo),” begitu apologinya (dalihnya). Ditambah lagi, katanya, “Wajah ana masih kaya anak kecil.” Nggak PD-lah pokoknya. Sepertinya ia mutung, ngambek! Para pembaca, kira-kira apa yang antum nasehatkan kepada santri-santri model begini?

Ya betul, antum mesti nasehati dia dengan semangat, bahwa dakwah di kampung tidak memerlukan spek tinggi setinggi jika Antum mengajar di sekolah tinggi (namanya juga sekolah tinggi ya..). Wajah yang baby face pun dalam berdakwah sebenarnya modal tersendiri. Apalagi ia belajar agama ini sudah tujuh tahun tanpa henti. Bahkan murid dari ustadz ustadz yang bergengsi. Mau apalagi?

Kabarnya pelan namun pasti, santri tersebut dipercaya meng-handle beberapa kajian. Dengan kesantunannya, dakwahnya mulai digemari. Hari-harinya diisi dan disibukan dengan dakwah, menyebar benih hidayah, menuai, memanen, sampai kemudian menyimpannya di lumbung pahala. Bahkan sekarang jamaah kajiannya pun merasa perlu untuk memajang spanduk besar sebagai publikasi pengajiannya. Su­bhanallah, MasyaAllah, beliau masih sangat muda, masih bujangan. Dan berhasil mengkonversi “tahdziran” menjadi pelecut motivasi, menjadi sebab hidayah bagi banyak orang.

Adakah manfaat yang lebih besar yang bisa Anda berikan selain menjadi sebab hidayah Islam, Iman dan ketaatan? Bagaimana dengan Anda?

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushilat: 33)

 

Penulis: Ustadz Suhuf Subhan, S.Pd, M.Pd.I
Editor: Roni Nuryusmansyah

Comments

  1. Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *