Optimis, Menebar Dakwah Menuai Hidayah (2)

Suatu saat, saya bertemu dengan seorang dai di daerah terpencil di Jawa (di Jawa ternyata masih ada daerah terpencil!). Beliau kemudian bercerita tentang keanehan-keanehan tentang dakwah di tempatnya. Salah satunya adalah ketika tiba Idul Adha, panitia mengadakan penyembelihan sekaligus mengadakan masak dan makan bersama di masjid kampung.

Tibalah saat makan bersama, di sini baru terasa aneh. Daging yang dimasak terasa pahit dilidah! Mulailah sang dai tanya ke sana ke mari, kenapa dagingnya sampai terasa pahit? Usut punya usut, ketemulah sebabnya. Ternyata daging kurban tersebut dicuci dengan detergen bubuk. Itupun dicuci dengan sungguh-sungguh dan meyakinkan, alias dengan banyak detergen. Ketika ditanya, mereka cuma menjawab, “Kan biar dagingnya nggak bau perengus lagi, pak ustadz! Dan biar suci, pak ustadz!

Masya Allah. Kira-kira apa yang bisa anda ambil dari kisah ini? Ya betul, salah satunya adalah menggambarkan betapa terpencilnya mereka atau betapa tidak pernahnya mereka tahu tentang daging kambing dan Idul Adha! Pelan namun pasti, sang dai bersama para ikhwah terus mengajak dengan sabar masyarakatnya kembali kepangkuan Agama Islam yang hanif ini.

Di lain waktu, saya bersama dengan seorang ustadz sempat “menginterogasi” seorang dai. Tema “interogasinya” ada dua: pertama tentang kegiatan dakwahnya, dan kedua tentang mengapa ia tinggalkan dakwahnya tersebut dan berpindah ke Jawa. Mulailah ia bercerita tentang dakwahnya. Ia harus melayani daerah yang sangat luas dan minim fasilitas, dengan kondisi alam yang ganas, sementara maisyah (penghidupan) dan bisnisnya belumlah pas.

Suatu waktu, ia diminta mengisi pengajian di suatu tempat di mana beberapa dai Ahlussunnah sudah didepak dari tempat ini. Masyarakatnya selalu akan mengetes dai yang datang dengan pertanyaan-pertanyaan krusial dan “berbahaya”. Biasa…, ritual yang sering terjadi di masyarakat, dll. Jika tidak sesuai dengan kriteria mereka ya risikonya kajiannya akan dihentikan. Tetapi berbeda dengan ustadz yang satu ini.

Ketika ia memulai taklim, jamaah pengajian pun mulai mengetes ustadznya dengan pertanyaan-pertanyaan “penting” tersebut. Ia kemudian menjawab dengan diplomatis bahwa pertanyaan tersebut terlalu dini ditanyakan dan jawabannya pun bisa ditunda di kemudian hari. Pada taklim berikut-berikutnya pun pertanyaan tersebut muncul dan kemudian selalu dijawab olehnya bahwa jawabannya perlu waktu khusus sehingga tidak bisa segera di jawab sekarang. Jamaahpun makin penasaran. Dan di saat yang bersamaan, merekapun terus mengikuti taklimnya sang ustadz tersebut.

Hal itu terjadi sampai kitab yang dibaca beliau selesai, yaitu kitab Ushul Ats-Tsalatsah. Dan kitab yang dibaca itupun telah ia ganti sampulnya dan tertulis pengarangnya menjadi Muhammad At-Tamimi saja. Masya Allah, satu kitab selesai dan pembaca bisa mengira-ngira tentunya banyak ilmu, faidah, dan pemahaman yang lurus yang mereka dapatkan dari kitab ini. Sampai akhirnya sang ustadz menerangkan dan menjawab pertanyaan yang dahulu mereka lontarkan. Mayoritas jamaahpun kemudian mudah untuk mengerti dan memahami kesalahan-kesalahan mereka ini.

Masya Allah, Allah benar-benar memberi petunjuk bagi siapa yang Allah kehendaki. Tentunya lewat para dai yang ikhlas, berilmu, dan penuh hikmah dalam dakwahnya.

Kemudian kami berdua bertanya kepada beliau, “Terus mengapa antum tinggalkan mereka dan memilih Jawa yang ustadznya sudah banyak?” Kira-kira begitulah pertanyaan kami, atau apa yang ada di benak kami.

Beliau menjawab, “Saya berdakwah dengan bekal harta dari tabungan saya. Sampai akhirnya 6 bulan saya berdakwah tidak terasa tabungan yang saya punya menipis, sementara maisyah kami belumlah mapan”.

Subhanallah. Kami terinspirasi dengan kisahnya, tapi sekaligus juga sedih. Ke mana perginya para aghniya (orang-orang kaya)? Ke mana yayasan-yayasan dakwah Ahlussunnah? Haruskah para dai ini menjadi seperti lilin, menerangi dengan cahayanya tapi dirinya habis tak tersisa? Menerangi manusia dengan ilmunya dengan ikhlas sementara tabungannya bablas terkuras? Ya, hidayah Allah memang teramat mahal. Dengan harga berapapun Anda membayarnya tetap tak tertebus, tetap tak terbeli.

To be continue..

 

Penulis: Ustadz Suhuf Subhan, S.Pd, M.Pd.I (Dosen di STDI Imam Syafi’i Jember)
Editor: Roni Nuryusmansyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *