Optimis, Menebar Dakwah Menuai Hidayah (1)

Optimis, begitulah kata yang dapat saya ungkapkan, mewakili perasaan saya demi melihat dakwah Ahlussunah yang makin semarak.

Sebenarnya perasaan saya ini berasal dari cerita-cerita aneh, lucu, ataupun sedih, bahkan heroik, dari belantara dakwah Ahlussunah di Indonesia ini.

Di antaranya adalah ketika seorang sahabat cerita ke penulis, waktu itu penulis mengunjunginya demi mendulang faidah darinya.

Ia bercerita panjang lebar sampai kemudian ia mengatakan, “Mas, afwan ya, antum jangan heran, di sebuah daerah terdapat kebanyakan masyarakat muslimnya beranggapan bahwa sholat itu tidak sah kalau tidak dikerjakan di masjid lho.”

“Masa?” jawab saya. “Kalau begitu masjid ramai dong!” sambung saya sekenanya.

Teman saya cuma senyum-senyum saja. Alih-alih masjid ramai karena keyakinan tersebut, eh, ternyata masjidnya sepi. Ramainya cuma kalau jumatan. Tentunya bisa Anda tebak ke mana kira-kira mereka pada sholat-sholat lima waktu.

Alhamdulillah, ada beberapa ikhwah yang sering berkunjung ke sini, untuk sekadar membantu panen, membagi permen, “sekadar” mengajar iqra, atau mengajak mereka ke masjid supaya sholat tidak cuma jum’atan tok. Dan efeknya sungguh di luar dugaan. Mereka dekat dengan para ikhwah sampai-sampai ada salah satu di antara mereka yang bolak-balik menolak dijodohkan dengan gadis di daerah itu. Gara-garanya “sepele”, yaitu karena ia simpatik dan bersuara merdu.

Lain lubuk lain belalang, lain empang lain pula ikannya. Tersebutlah sebuah kisah di Aceh, kisah tentang jamaah khotmush sholah.

Seorang ustadz bercerita kepada penulis tentang seorang dai Ahlussunah yang diutus ke jamaah tersebut. “Keunikan” jamaah ini adalah mereka punya semacam “sekolah” di mana jika mereka tamat dari sini, maka mereka akan diberi ijazah/sertifikat. Yaitu ijazah/sertifikat yang menerangkan bahwa pemiliknya telah menamatkan sholatnya, sehingga tidak perlu lagi sholat bagi orang yang telah tamat darinya dan telah mendapatkan ijazahnya! Ada-ada saja!

Pelan-pelan sang dai memberi penyadaran dan pencerahan. Sampai pada suatu kesempatan, ia menceritakan detik-detik kematian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kisahnya mengharukan dan menyentuh hati para jamaah. Tanpa sadar, sampailah pada wasiat-wasiat Rasulullah menjelang meninggalnya beliau, yaitu jagalah sholat, jagalah sholat. Singkat cerita, sadarlah mereka dari kesalahan mereka selama ini. Mereka pun kembali ke pangkuan Islam yang lurus, kembali mendirikan sholat.

Dua kisah ini menginspirasi penulis untuk optimis dalam kemajuan dakwah ini. Kegigihan para dainya, ilmu yang cukup, dan pembawaan yang simpatik tentunya menjadi bekal yang paling penting dalam dakwah. Seperti tercermin dalam cerita di atas.

To be continued..

 

Penulis: Ustadz Suhuf Subhan, S.Pd, M.Pd.I (Dosen di STDI Imam Syafi’i Jember)
Editor: Roni Nuryusmansyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *