Motivasi Islami: From Hero To Zero

Dalam buku saya, ‘Road To Change’, sudah saya tegaskan bahwa setiap muslim wajib melakukan pengubahan diri dari waktu ke waktu. Itu makna sejati dari proses pematangan diri melalui iman, ilmu dan takwa. Baik iman, ilmu maupun takwa, butuh dikembangkan, diproses agar mengalami perbaikan kualitas dari hari ke hari. Kegagalan memperoleh perubahan secara berkala, atau keterlambatan mencapai titik-titik perubahan meski sederhana dalam jangka waktu lama, sama halnya dengan kerugian, atau malah awal kebinasaan.

Tujuan dari perubahan itu adalah optimalisasi sifat-sifat kemanusiaan dan kehambaan diri. Artinya, untuk semakin diakui sebagai manusia di tengah komunitas manusia, dan agar semakin terkukuhkan sebagai hamba terbaik di hadapan Allah Ta’ala, setiap saat kita harus terus berubah. Menjadi lebih baik setiap harinya.

Di tengah manusia, seseorang jangan pernah merasa puas hanya dengan mendapat sebutan dan pengakuan yang sama. Karena bila demikian, itu artinya ia sedang berproses menuju kehancuran mutlak. Seorang pelajar misalnya. Ia tentu ingin meningkatkan level dan jenjang pendidikannya ke arah yang lebih tinggi. Dari kelas satu, ke kelas dua, dan seterusnya. Itu menurut hitungan formal. Secara praktis, ia juga harus senantiasa berubah. Sekarang ia baru hafal betul satu juz Al-Qur’an, besok ditambah hafalan satu surat atau setengah halaman Al-Qur’an, dan seterusnya. Hari ini baru 200 kosakata bahasa Arab yang dikuasainya, besok bertambah sepuluh kosakata lagi menjadi 201, dan seterusnya.

Seorang guru juga jangan mudah puas dengan sekadar bertambahnya pengalaman mengajar, dari hari ke hari. Bila hari ini ia mampu mengajarkan satu materi pelajaran dalam sebuah bab pembahasan secara teks book, apa adanya, besok upayakan sudah mampu melakukan perluasan pembahasan dengan mengutip rujukan dari berbagai literatur. Hari ini ia mampu melakukan untuk satu materi pembahasan, besok untuk dua, untuk tiga, empat, dan seterusnya.

Inilah yang bisa mengubah paradigma senioritas yang selalu ditempatkan pada level lebih tinggi, menjadi kapasitas dan kapabilitas yang lebih layak ditonjolkan. Seseorang tidak lagi dianggap lebih baik, karena ia lebih senior, lebih tua dan lebih dahulu melakukan satu jenis aktivitas. Tapi ia memang dianggap lebih baik karena skill dan kemampuannya yang lebih dapat diandalkan, dibandingkan para juniornya.

Sebagai hamba Allah Ta’ala kita juga wajib melakukan perubahan dan peningkatan kualitas ibadah. Bulan ini saya sudah mampu secara konsisten melakukan puasa Senin-Kamis, bulan besok saya mulai membiasakan diri salat malam. Bulan ini saya sudah mampu membaca doa dan zikir pagi dan petang, bulan berikut saya mulai membiasakan diri dengan zikir-zikir lain. Sedikit, namun merambat ke level lebih baik secara pasti.

Kita akan menjadi sangat memandang wajar, ketika banyak di antara kita yang selalu berjalan di tempat, di atas aktivitas yang mereka geluti, tanpa terlihat perubahan signifikan ke jenjang lebih tinggi. Seorang guru, dengan aktivitas mengajar dan dengan kualitas yang segitu-gitu saja. Seorang juru dakwah, dengan tugas dakwahnya dan dengan kemampuan berdakwah yang nyaris tak pernah berubah.

Ada sebagian kalangan pengajar mengatakan, bahwa pendidikan pesantren dan juga berbagai lembaga pendidikan lain seringkali mengangkat kemampuan pelajar dari tingkat nol ke jenjang tertentu sebagai pengajar, ustaz atau yang sejenis itu, untuk kemudian mandeg, dan tidak berkembang lagi. Seolah-olah kelulusan dari sebuah sekolah atau lembaga pendidikan adalah akhir dari perjalanan jenjang peningkatan kualitas ilmiah. Penyebabnya, karena kebanyakan kita malas berubah.

Muslim yang mengetahui tanggungjawabnya, pasti sadar betul bahwa tanpa berubah menjadi lebih baik dari waktu ke waktu, ia secara pasti sedang menggali kuburannya sendiri.

Jadi, langkah untuk melakukan pengubahan diri secara teratur dan pasti, meski perlahan, sudah menjadi keharusan. Namun di sisi lain kita juga harus bersikap realistis. Berbagai kekurangan diri kita sebagai manusia, harus tetap kita waspadai. Konsistensi juga tak bisa selamanya diharapkan bertahan tanpa kendala. Maka, cobalah mempelajari berbagai sisi yang saling terkait yang sering membentuk ganjalan-ganjalan, halangan, kesulitan, atau bahkan berproses menjadi pembunuh bagi konsistensi kita. Artinya, saat mendaki puncak, kita juga harus menyadari bahwa kapanpun kita bisa terjatuh dan terjerembat. Kesadaran itu amat diperlukan, bila kita tidak ingin kehilangan sama sekali kemampuan kita dalam bertahan dan terus meningkatkan kemampuan kita secara baik.

Itulah yang saya maksud dengan Hero To Zero, bahwa aksi-aksi heroik kita -setidaknya menurut sudut pandang dan penilaian kita pribadi yang bisa jadi sangat picik- suatu saat bisa saja menyentuh titik jenuh, atau mengalami pengenduran tanpa bisa dicegah lagi. Saat itulah kita harus sudah memiliki kesiapan melakukan recovery, bangkit dari kesalahan menuju puncak kemenangan kembali. Dan, betapa bangkit dari sebuah kemunduran merupakan revolusi terbesar.

Kita selama ini dibesarkan dengan berbagai motivasi, harapan dan cita-cita. Betapa nyamannya hati kita yang meski belum mampu berbuat apa-apa, tapi seringkali dipuji, dan selalu saja didorong untuk berbuat lebih baik. Tapi, betapa segala pujian dan dorongan itu menjadi sia-sia, kalau kita tidak menyadari bahwa betapapun pandainya tupai melompat-lompat, sekali waktu akan jatuh juga. Kita boleh mendaki gunung setinggi mungkin, tapi kita perlu sadar, bahwa bukan saja kita bisa gagal menapaki puncak, tapi kemungkinan terjatuh dan terjerembat ke lembah dan jurang yang dalam juga selalu saja terbuka lebar.

Keengganan menyadari adanya eror-eror itu, bisa menjadi bibit sifat ujub, bahkan takabur yang sangat membahayakan. Islam mengajarkan bahwa untuk menjadi muslim terbaik, seseorang bukan butuh untuk selalu tidak salah, tapi butuh untuk selalu mengambil sikap terbaik saat berbuat kesalahan.

“Masing-masing anak manusia adalah pelaku dosa. Namun sebaik-baiknya orang yang berdosa adalah yang paling banyak bertaubat.”[1]

Manusia mungkin berbuat dosa, itu jelas. Setiap manusia pasti pernah berbuat kesalahan, itu juga pasti. Manusia terbaik bukanlah yang tak pernah berbuat kesalahan, tapi yang paling baik menyikapi kesalahannya, Yaitu dengan banyak-banyak bertaubat. Banyak-banyak melakukan intropeksi diri.

Coba juga simak, hadis sekaligus pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut:
“Bertakwalah engkau, di manapun engkau berada. Setiap kali engkau berbuat keburukan, iringi dengan kebajikan, niscaya kebajikan itu akan menghapus dosa keburukan itu. Lalu, bergaullah dengan umat manusia dengan akhlak yang baik.”[2]

Tentu saja, setiap kesalahan harus dihindari. Namun kalau akhirnya kita terpaksa berbuat salah, selain bertaubat kita dianjurkan melakukan kebajikan untuk menutupi kesalahan tersebut. Artinya, manusia akan semakin baik meski banyak berbuat kesalahan, asalkan ia lebih banyak bertaubat dan berbuat kebajikan. Dan, sungguh sebuah kenistaan dan awal sebuah kehancuran, ketika manusia merasa sedikit berbuat kesalahan, sehingga nyaris tak pernah bertaubat, dan miskin amal kebaikan.

Maka, mengobrolkan soal Hero To Zero, sama dengan ajakan untuk berputar di garis edar ‘change’ (pengubahan),  di mana fokus bidikan pembahasannya adalah mengubah titik balik ke arah keterpurukan menjadi peluang mencapai kemenangan, memanfaatkan kesempatan sekecil apapun untuk menggapai pahala dan kebajikan, sehingga senantiasa berbuah manis dalam kehidupan. Dan itu sesungguhnya adalah roh keagungan agama Islam ini, yang membentangkan kesempatan bertaubat hingga nyawa di kerongkongan, atau hingga matahari terbit dari barat. Intinya bukanlah melalaikan tugas dan kewajiban, tapi mengenyahkan segala peluang berputus asa, tapi juga menekan segala kemungkinan bersikap ujub, takabur, dan tinggi hati.

Di sini, kita mengajak siapapun bukan saja sekadar berbagi rasa, tapi juga berbagi ilmu, berbagi pesan dan berbagi doa. Banyak faedah dan pelajaran yang insya Allah dapat dipetik dari menelaah hal-hal seperti ini. Tujuan utamanya adalah membentuk ruang-ruang kesadaran di hati kita terhadap titik-titik kekeliruan, untuk disikapi secara benar dengan penuh kecermatan. Langkah-langkah itu akan menciptakan ledakan perubahan yang bukan saja mampu membangun motivasi untuk lebih maju dalam segala hal, tapi juga untuk selalu bangkit setiap kali bersentuhan dengan kegagalan. Orang yang selalu tepat menyikapi kegagalan dan kesalahan sudah pasti menjadi paling bahagia di dunia ini.

Penulis: Ustadz Abu Umar Basyier

*) Disalin ulang oleh Roni Nuryusmansyah dari buku Ustadz Abu Umar Basyier berjudul “Orang Gila Jadi Wali”, hal. 155-162, cetakan pertama, November 2011, penerbit Shafa Publika.

Selasa, 1 Rabi’ul Akhir 1434 H / 12 Februari 2013 M
Ketika mendung menggelayut di langit-langit kota..

Catatan:
Buku Orang Gila Jadi Wali karya Ustadz Abu Umar Basyier ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca mengingat buku ini berisi catatan-catatan sederhana, refleksi sejuk dari berbagai fenomena keseharian yang sering kita jumpai. Telah kita ketahui bahwa hidup adalah taburan hikmah. Dan bagi mukmin, setiap keberkatan sebuah kejadian adalah nilai yang harus kita rengkuh, di manapun ia berada, hingga di sarang singa sekalipun. Alhamdulillah, buku ini bisa mudah didapatkan di Gramedia, toko buku yang menjual buku berlabel Islam, dan toko buku online. Selamat membaca!


__________
[1] Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak IV: 272. Sanadnya sahih.
[2] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (V: 500), oleh Al-Haitsami dalam Majma’uz Zawaid (I: 60), Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (IV: 126) Diriwayatkan oleh Ahmad (III: 203).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *