Mengintip Strategi Musuh Terbesar Umat Manusia

Tidak diragukan lagi, bahwasanya peperangan terdahsyat yang melebihi semua perang yang ada di muka bumi ini (meskipun perang dunia kedua) adalah peperangan antara kita (bani Adam) dengan setan laknatullah. Peperangan yang akan terus terjadi hingga hari kiamat kelak. Berawal dari permusuhan setan kepada Nabi Adam ‘alaihis salam, sehingga mereka berupaya menjerumuskan kita dengan sangat lihai, penuh pengalaman, dan penuh semangat di dalam menjalankan metode-metodenya memerangi umat manusia selama-lamanya.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni Neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Fathir: 6)

Lihatlah, Allah Ta’ala tidak hanya memberitahu kita bahwa setan memusuhi kita, tapi Dia pun menyuruh kita untuk memusuhinya. Karena menjadikannya musuh adalah ibadah yang agung dan mulia di sisi Allah Ta’ala. Allah Ta’ala pun mengabarkan kepada kita bahwa setan dan pengikut-pengikutnya memiliki kelebihan berupa mereka dapat melihat kita, sedangkan kita tidak dapat melihat mereka. Tentu ini senjata yang berbahaya. Dengan demikian, mereka menjadi lebih kuasa terhadap kita, mereka bersembunyi sambil menghimpun kekuatannya untuk menerkam kita seperti terkaman singa terhadap mangsanya, sehingga mereka dapat memburu buruannya dengan sempurna, di antaranya ada yang terbunuh, jatuh pingsan, tertawan, dan terluka parah. Oleh karena itu, kita mesti ekstrawaspada, memiliki kesadaran berlipat, dan kehati-hatian yang stimulan agar kita tidak terjerumus ke dalam kebinasaan.

Sebelum kita masuk ke inti pembahasan, ada baiknya kita menyimak tuturan Ibnul Qoyyim tentang misi serangan musuh kita ini. Setan itu memiliki 3 misi utama di antara berbagai macam misinya. Yang pertama adalah mengkafirkan manusia. Kedua, menjerumuskan manusia di dalam perkara yang tidak berdasarkan dalil syar’i. Ketiga, menenggelamkan manusia di dalam samudera dosa-dosa besar. Masih banyak lagi sebenarnya misi-misi setan untuk menjauhkan manusia dari kenikmatan surga. Dalam kitabnya al-Fawaid, Ibnul Qoyyim menjelaskan bahwa setan tidak memiliki satu cara pun untuk menguasai manusia melainkan dari tiga sisi:
1. Berlebih-lebihan dan melampaui batas, dia melebihi batas kebutuhan, sehingga sesuatu yang tersisa itu menjadi bagian setan dan pintu masuknya ke hati.
2. Lalai, sesungguhnya orang yang selalu berdzikir akan berada di benteng dzikir. Ketika dia lalai, maka terbukalah pintu benteng tersebut, lalu dimasuki oleh musuh, sehingga sulit bagi dia untuk mengeluarkannya kembali.
3. Membebani sesuatu hal yang tidak ada kepentingan baginya dari segala macam perkara.

Berikut ini adalah strategi setan dan pengikutnya, yang mana mereka dengan segenap kemampuan yang mereka miliki, mengerahkan makar dan tipu daya mereka untuk menyesatkan umat manusia:

Setan Selalu Membisikkan Kejahatan Kepada Kita
Telah Allah Ta’ala jelaskan dalam surat yang kita semua hafal –insya Allah-, yakni surat an-Naas, bahwasanya bisikan-bisikan setan senantiasa terngiang di dalam dada-dada manusia. Bisikan ini adalah senjata pamungkas dengan daya keburukan yang dahsyat, pengaruhnya lebih kuat, dan kerusakannya lebih merata. Dan dia sumber seluruh kemaksiatan dan bencana. Bisikan jahat setan akan terus menghampiri setiap orang yang menghadap karena Allah. Oleh karena itu hendaklah kita tetap tegar, sabar, dan beriltizam dengan apa yang kita amalkan. Sesungguhnya setan adalah musuh yang ingin memalingkan kita dari Rabb kita.

Setan Membuat Kerusakan Di Antara Kita Dengan Segala Cara Dan Tipu Daya
Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, lalu dia mengutus tentara-tentaranya. Yang paling dekat di antara mereka kedudukannya dari Iblis adalah yang paling besar fitnahnya di antara mereka. Salah satu dari mereka datang seraya berkata, ‘Aku telah melakukan ini dan itu’. Dia pun menjawab, ‘Kamu belum apa-apa’.” Beliau bersabda: “Kemudian salah satu dari mereka datang seraya berkata, ‘Aku tidak meninggalkannya sampai aku memisahkan antara dia dan istrinya’. Iblis pun mendekat kepadanya dan berkata: ‘Kamulah yang terbaik’.”[1]
Dalam riwayat Ibnu Hibban, bahwasanya Iblis menolak dan mengatakan bahwa dia akan menikah lagi, terus datang setan yang lain mengatakan bahwa dia membuat seseorang durhaka kepada orang tuanya. Iblis tetap berkilah dengan mengatakan bahwa dia akan berbakti lagi. Lalu ada yang mengatakan bahwa dia membuat seseorang berzina dan membunuh. Maka Iblis pun berkata: “Kamu adalah kamu.” Lalu dia memakaikan mahkota kepadanya.[2]
Di dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan bahwasanya setan berusaha mengadakan kerusakan di antara mereka dengan pertengkaran, percekcokan, peperangan, perselisihan, kejahatan, permusuhan, dan kebencian[3] di antara kita sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Setan tetap berusaha untuk mengadakan permusuhan di antara mereka (penduduk jazirah Arab).”4 Ingatkah kita bagaimana setan merusak hubungan antara Nabi Yusuf ‘alaihissalam dan saudara-saudaranya? Allah Ta’ala berfirman mengenai perkataan Nabi Yusuf ‘alaihissalam yang artinya: “Setelah setan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku.” (QS. Yusuf: 100)

Setan Mendekati Kita, Ketika Ia Keluar Untuk Melakukan Sesuatu Yang Allah Ta’ala Benci
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “..adapun apabila seseorang keluar untuk melakukan sesuatu yang Allah murkai, maka setan akan mengikutinya dengan benderanya, dan dia terus berada di bawah naungan bendera setan sampai dia kembali pulang ke rumahnya”.[5]
Oleh karena itu, wahai saudaraku, seharusnya kita keluar dari rumah kita benar-benar bersama Allah Ta’ala. Setiap langkah yang kita lalui mendekatkan kita kepada-Nya dan dalam naungan keridhaannya.

Setan Terus-Menerus Mendampingi Kita Dalam Setiap Kondisi
Setan terus-menerus mendatangi manusia dari segala arah dan sisi serta senantiasa mengikutinya di setiap saat dan kesempatan. Diriwayatkan dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya setan berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu, Wahai Rabbku, aku akan terus menyesatkan hamba-hamba-Mu selama ruh-ruh mereka masih berada di dalam jasad mereka’.”[6]
Lihatlah! Betapa gigihnya setan dalam menyesatkan kita. Dia selalu berusaha segenap kemampuannya untuk merusak agama kita. Maka dari itu, sudah sepatutnya kita menyempurnakan kewaspadaan kita terhadapnya, selalu berjaga-jaga, sadar, dan berhati-hati terhadap apa yang diinginkannya. Karena dia selalu berada di setiap persimpangan jalan untuk mengintai kita. Ketahuilah, sesungguhnya selama kita berwaspada dan berhati-hati terhadapnya, maka dia tidak akan mampu menguasai diri kita. Namun, apabila kita lalai, maka dia akan menerkam diri kita.[7]

Setan Bersemangat Untuk Menjadikan Kita Lupa Akan Perkara Yang Mengandung Kebaikan

Setan Mendatangi Kita Ketika Ingin Mengamalkan Suatu Amalan Untuk Merusak Niat, Ucapan, dan Amalan kita

Setan Mengintai Kita Di Setiap Jalan-Jalan Kebaikan
Betapa banyak orang yang bertekad untuk bersungguh-sungguh namun setan menunda-nundakan dan memperlambatnya. Setan terus menjadikan kemalasan itu suatu yang dicintai, dia menunda-nundakan amalan, dan menyandarkan urusan pada panjangnya angan-angan.

Sesungguhnya panjangnya angan-angan adalah penghalang dari segala kebaikan dan ketaatan, penyebab segala keburukan dan fitnah, dan penyakit kronis yang menjerumuskan manusia di berbagai macam bencana. Karena jika angan-angan kita panjang, maka empat keburukan akan mendatangi kita:
1. Meninggalkan ketaatan dan malas mengerjakannya.
Kita akan mengatakan, “Aku nanti akan mengerjakannya karena masa depanku masih panjang, dan aku tidak ingin kehilangannya”.

2. Enggan untuk bertaubat dan menunda-nundanya.
Kita akan mengatakan, “Aku nanti akan bertaubat, karena waktu masih panjang dan aku masih muda”. Padahal bisa saja amal menjemput kita secara tiba-tiba sebelum kita memperbaiki amal perbuatan kita, sedangkan kita masih tenggelam di dalam palung dosa.

3. Bersemangat untuk mengumpulkan banyak harta dan menyibukkan diri dengan perkara dunia daripada akhirat.

4. Kerasnya hati dan lupa akhirat.

Karena ketika kita mengharapkan kehidupan yang panjang, kita tidak akan mengingat kematian. Padahal kelunakan dan kemurnian hati dapat diraih dengan mengingat pemutus kenikmatan dunia itu, pahala dan hukuman, dan hari kiamat yang dijanjikan. Dan ini adalah obat terampuh untuk penyakit kronis, yaitu panjangnya angan-angan.

Apabila seorang manusia ingin memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, setan mendekatinya dan berkata, “Jagalah dirimu sendiri, tinggalkan orang lain, karena mereka tidak akan menyambut ajakanmu.” Ketika pecandu maksiat ingin bertaubat, maka setan membuatnya menunda-nunda taubatnya, sebagaimana yang dikatakan seorang penyair:

Janganlah melakukan dosa yang kamu inginkan..
Lalu kamu mengharapkan taubat pada keesokan harinya..

Orang yang menunda taubatnya mengira bahwa dia akan hidup lama, padahal tidak demikian. Walaupun dia dapat hidup lama, bisa jadi dia tidak akan mampu untuk meninggalkannya pada hari esok, sebagaimana dia mampu untuk melaksanakannya hari ini. Tidaklah dia mampu bertaubat melainkan karena syahwat telah menguasai kehidupannya dan dia tidak dapat untuk berpisah darinya. Karena itulah orang-orang yang selalu menunda taubatnya menjadi binasa.

Permisalannya seperti orang yang ingin mencabut sebatang pohon, dia merasa bahwa pohon itu begitu kokoh dan tidak dapat dicabut kecuali dengan sangat sulit, diapun berkata, “Aku tunda saja satu tahun.” Dia tidak sadar bahwa pohon itu semakin lama semakin kokoh pula akarnya. Begitu juga dia, semakin bertambah umurnya semakin bertambah pula kelemahan imannya. Bagaimana dia mampu bertaubat ketika dia lemah sedangkan syahwat semakin kuat?![8]

Setan Membuat Kita Meremehkan Dosa-dosa Kecil
Tidaklah kita tahu, dosa-dosa kecil adalah dosa-dosa yang selalu dianggap remeh oleh manusia dan tidak diperhitungkan, sehingga kita terjerumus di dalamnya tanpa perhitungan. Terus-menerus melakukannya merupakan kemaksiatan. Enggan untuk menasehati pelakunya merupakan keridhaan terhadapnya, dan itu adalah bukti kebinasaan.[9]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Waspadalah kalian terhadap dosa-dosa yang dianggap remeh, karena perumpamaan mereka seperti suatu kaum yang singgah di perut lembah, lalu setiap orang dari mereka membawa satu ranting -sehingga mereka dapat menyalakan api yang besar- dan akhirnya mereka memasak roti mereka. Sesungguhnya dosa-dosa yang dianggap remeh itu, kapanpun si pelakunya dihitung karenanya, maka dosa-dosa itu akan membinasakannya.”[10]

Ibnu al-Mu’tazz rahimahullah berkata:
Tinggalkan dosa-dosa yang kecil dan dosa-dosa besar..
Itulah hakikat ketakwaan..
Berbuatlah seperti orang yang berjalan di atas tanah yang berduri..
Dia berhati-hati terhadap apa yang dia lihat..
Janganlah kamu meremehkan hal yang kecil..
Karena sungguh, gunung-gunung itu terbuat dari kerikil-kerikil kecil..

Al-Qahthani rahimahullah berkata:
Janganlah sekali-kali meremehkan dosa-dosa kecil..
Satu tetes dari dosa kecil dapat menyebabkan banjir..[11]

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:
Janganlah sekali-kali kamu meremehkan kemaksiatan yang kecil..
Sebagaimana rumput yang lemah dapat dianyam menjadi tali yang dapat menarik kapal-kapal..[12]

Pertempuran kita dengan setan laknatullah belum berakhir. Semenjak genderang perang ditabuh semasa ayah kita Nabi Adam ‘alaihissalam hingga saat ini kita masih bertempur dengan dahsyatnya. Serangan bertubi-tubi yang dilancarkan bangsa setan terus diarahkan menghujam ke dada-dada kita. Tidak sedikit dari umat manusia lari tunggang langgang meninggalkan medan pertempuran bahkan memilih membelot bergabung dalam barisan tentara setan. Namun ada yang tetap teguh di barisan tentara Allah dan tak mundur selangkah jua pun.

Tentu, kita berharap menjadi kelompok kedua yang teguh membela agama ini agar tetap pada eksistensinya, berperang melawan pasukan setan. Dengan memohon pertolongan dari Allah agar Ia menguatkan barisan kita dan sedikit bekal berupa rahasia strategi musuh kita tersebut, kita bisa memenangkan pertempuran sengit ini. Kita pasti menang! Insya Allah..

Jum’at, 26 Rabi’ul Awwal 1431 H / 12 Maret 2010 M
Menjelang sholat jum’at, di kamar idaman asrama nomor 5
Jember, Barat selat Bali, Nusantara

Penulis: Roni Nuryusmansyah
Artikel : kristalilmu.com
Referensi utama: al-Hishn al-Hashiin Min asy-Syaithaan ar-Rajiim

__________
[1] HR. Muslim, no. 2813.
[2] HR. Ibnu Hibban, no. 6189 dengan sanad shahih.
[3] Al-Mufhim: 7/310.
[4] HR. Muslim, no. 2812.
[5] HR. Ahmad dalam Al-Musnad: 2/323, no. 8296, dengan sanad shahih,
[6] HR. Al-Hakim: 4/261. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam kitab Shahih al-Jaami’, no. 1650
[7] Tahdziib Madaariij as-Saalikiin: 221 dan 260.
[8] Muhtashar Minhaaj al-Qashidiin: 267.
[9] Tahdziib Madaariij as-Saalikiin: 188.
[10] Dari Sahl bin Sa’ad. HR. Ahmad: 5/331, no. 22916 dengan sanad shahih.
[11] Nuuniyyah al-Qahthani: 39.
[12] Badaa’i al-Fawaa’id: 3/338.

Comments

  1. Reply

  2. Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *