Mengingkari Kemungkaran Sedangkan Masih Bermaksiat?

Meninggalkan dosa bukanlah syarat untuk melarang atau mencegah kemungkaran. Bahkan sesama ahli maksiat dapat saling melarang keburukan satu sama lain.

Wajib bagi seorang muslim untuk amar makruf, menyuruh kepada kebaikan, meskipun… ia belum mengerjakannya, dan wajib pula untuk nahi mungkar, mencegah dari keburukan, meskipun… ia masih mengerjakannya. Masih tersisa retakan yang menyelisihi perbuatan dan perkataan.

Abu Darda radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Sungguh, aku memerintahkan kalian kepada kebaikan, namun aku sendiri tidak mengerjakannya. Akan tetapi mudah-mudahan Allah memberiku pahala karenanya (amar makruf tersebut -pent).”[1]

Siapa yang masih suka melihat hal-hal yang diharamkan[2], ketika ia mendapati seseorang melihat hal-hal yang diharamkan tersebut, wajib baginya mengingkarinya dari menikmati gambar yang haram tersebut, meskipun ia sendiri juga masih melakukannya.

Apabila ia justru diam dari kemungkaran, maka ia telah mengumpulkan dua hal yang diharamkan;
[1] Melakukan hal yang diharamkan,
[2] Diam dari kemungkaran dan tidak mengingkarinya.

Siapa yang melihat orang yang melakukan kemungkaran kemudian ia tidak mencegahnya, maka ia telah menolongnya untuk berbuat kemungkaran itu, dengan membiarkan dirinya bersama maksiatnya.

Diam dari dosa membuat maksiat itu tampak indah di dalam dada dan menjauhi kemungkaran merupakan konsekuensi dari pengingkarannya di dalam hati.


__________
[1]آ Siyar A’lam an-Nubala (2/335)
[2] Contoh dari penerjemah

*) Diterjemahkan secara bebas dari kitabآ Khuthuwat ila as-Sa’adah, karya Syekh Dr. Abdul Muhsin bin Muhammad al-Qasim, eks khatib dan imam masjid Nabawi, hal. 64.

Palembang,
Sampai kapan kita tetap begini?
(13 Februari 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *