Mengapa Saya Menulis? (1)

Mengapa saya menulis? Apa manfaat menulis? Apa saja alasan saya sehingga saya mau menyisihkan waktu untuk sekedar menggerakkan jari di atas keyboard atau menggoreskan tinta di atas kertas. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sudah selayaknya kita tanyakan kepada diri kita sendiri. Karena kita memiliki berbagai alasan mengapa kita terjun ke dalam dunia tulis-menulis. Ada sebagian pihak memandang penulis adalah pekerjaan yang memiliki prospek menjanjikan. Ada sebagian pihak lain ingin menjadikan tulis-menulis sebagai sarana dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar. Ada sebagian oknum menjadikan menulis sebagai terapi fisik maupun psikis dan sebagai tempat mencurahkan isi hati sekaligus perasaan seperti diary, memoar, dan lain sebagainya. Karena itu tak mengherankan jika menulis memiliki peran urgen di setiap bidang, entah itu agama, psikologi, pendidikan, kesehatan, politik, hukum, sosial, ekonomi, budaya, dan bidang-bidang lainnya.

MENULIS ITU TRADISI ULAMA!
Jika kita menelusuri jejak para ulama terdahulu dari zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai sekarang, maka kita akan dapati suatu fakta bahwa mereka tidak pernah terlepas dari menulis. Bahkan Rasulullah saja memerintahkan sekretarisnya Zaid bin Tsabit  untuk mengirim surat berupa ajakan untuk masuk Islam kepada para penguasa seperti Heraclius, Kisra, Najasyi, Muqauqis (pengusaha mesir), dan lain sebagainya. Hal itu dikarenakan menulis merupakan perantara dakwah yang memiliki dampak luar biasa besar. Tulisan mampu menembus sekat ruang dan waktu, berbeda dengan bahasa lisan yang ketika diucapkan tidak meninggalkan bekas.
Karenanya, kita masih dapati pada masa sekarang ini goresan tinta para ulama beratus-ratus tahun yang lalu. Kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim misalnya. Lebih dari sepuluh abad silam kitab tersebut masih ada hingga sekarang. Sungguh hal ini merupakan ladang amal yang amat menguntungkan. Jika seseorang memperoleh kebaikan dari karya tulis kita, maka kita akan meraih pahala terus menerus walau jasad kita telah terkubur di dalam tanah.

MENULIS ITU MENCERDASKAN!
Selain menulis merupakan salah satu instrumen dakwah yang efektif, menulis juga mampu menjadikan seorang pintar, cerdas, dan ahli di bidang yang dia tulis. Loh, kok bisa begitu? Dengan menulis, seseorang akan dituntut untuk lebih banyak membaca buku-buku referensi dan buku-buku yang berkaitan dengan tema yang akan dia tulis. Sebagaimana sebuah penelitian yang konon menyebutkan seorang mahasiswa sekurang-kurangnya memerlukan 44 buku untuk dijadikan referensi dalam pembuatan skripsinya. Karena pada masa sekarang tidak akan mungkin seseorang mampu menulis 100% hasil pemikirannya sendiri. Otomatis, semakin banyak membaca maka akan semakin banyak pula yang akan ditulis. Bapak Mufti Mubarok dalam bukunya 7 Hari Mahir Menulis Buku menamakannya dengan (maaf) teori berak. Semakin banyak makan, maka akan semakin banyak berak. Bapak Andrias Harefa pun dalam salah satu bukunya menyebutkan bahwa membaca adalah supplement food atau energy drink bagi penulis. Nah, karena itulah menulis mampu membuat ilmu pengetahuan beserta wawasan seseorang yang dimiliki semakin bertambah luas. Selain itu, menulis adalah salah satu cara untuk mendokumentasikan ide dan gagasan kita. Atau dengan kata lain, menulis adalah suatu metode untuk menyimpan memori. Sebagaimana perkataan Khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Rasulullah, ilmu itu ibarat binatang buruan dan tulisan adalah tali kekangnya. Karenanya, ikatlah ilmu dengan tulisanmu agar ia tidak lepas.

MENULIS ITU MENYEHATKAN!
Pada era 1990-an, Professor of Psychology dari Universitas of Texas, James W. Pennebaker, Ph.D., melakukan penelitian selama 15 tahun tentang pengaruh membuka diri terhadap kesehatan fisik. Ia menyimpulkan bahwa kondisi mental orang-orang yang terbiasa mengekspresikan emosi dan uneg-unegnya dengan menulis lebih stabil dibandingkan mereka yang tidak biasa menulis. Jadi dengan menulis, hormon-hormon di dalam tubuh akan bekerja mengurangi stres yang negatif. Bahkan dalam bukunya Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotions, sang profesor menjelaskan bahwa menulis mampu:
–          menjernihkan pikiran,
–          mengatasi trauma,
–          membantu mendapatkan dan mengingat informasi baru,
–          membantu memecahkan masalah,
–          dan menulis-bebas membantu kita ketika terpaksa harus menulis.

Menulis adalah terapi. Hal itu sangat berguna untuk pengembangan diri. Orang yang memiliki kepribadian tertutup atau sering disebut introvert cenderung mengalami kesulitan dalam berbicara pada orang lain. Karena itu, menulis adalah solusi tepat baginya untuk membantu menghilangkan stres serta mengurangi beban pikirannya. Dengan menulis, seseorang mampu mengelola stres menjadi ustress (stres yang positif) sehingga tidak menimbulkan distress (stres yang negatif) dan mampu juga mengelola sisi kognitif (memori) dan sisi afektif (perasaan) sehingga sisi psikisnya tidak mengalami masalah yang berarti. Oleh karena itu, terapi diri melalui menulis akan membuat seseorang semakin mudah mencerna segala permasalahan dengan lebih mudah dan efektif. Dengan begitu, tingkat stres yang tentu saja mengganggu kinerja tubuh akan berkurang. Jika semua orang membiasakan menulis, mungkin psikiater maupun psikolog terancam profesinya. Hehe..

MENULIS = KAYA!
Majalah bisnis Amerika Serikat, Forbes, menyatakan bahwa pada tahun 2009, JK. Rowling mengantongi pemasukan 170 juta pound. Jumlah penghasilan yang lebih besar ketimbang pengarang buku Along Came A Spider, James Patterson, di urutan kedua, disusul Stephen King di posisi ketiga dengan 25 juta pound. Itu artinya, pengarang serial Harry Potter merupakan pengarang dengan honor tertinggi di dunia, dengan nilai bayarannya lebih dari 5 pound atau 8,80 dolar permenit pada tahun 2009. Tak heran, jika perempuan yang novelnya pernah ditolak oleh 14 penerbit tersebut masuk dalam jajaran wanita terkaya di Inggris. Untuk penulis dalam negeri, ada Andrea Hirata yang mendapat royalti lebih dari Rp. 1 miliar dari Laskar Pelangi. Dan novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy mendatangkan royalti lebih dari Rp. 1,5 miliar ke pundi-pundi penulis yang sering disapa Kang Abik itu. Ini sebelum AAC dijadikan layar lebar, lho. Terlepas dari hasil karya mereka, satu hal yang kita yakini bahwa menulis mampu menjadikan seseorang kaya raya.

Secara ekonomis, penulis yang telah diakui bisa mendapatkan nafkah dari kegiatan menulis. Honorarium yang diberikan oleh koran, majalah, atau media cetak kian sebanding dengan bobot tulisan sebagai karya intelektual. Namun, sebagaimana kata mas Jonru dalam bukunya Menerbitkan Buku Itu Gampang, bahwa hal itu bukanlah sesuatu keharusan yang mutlak. Sebab, jumlah penulis yang berhasil menjadi kaya raya dari karyanya masih relatif sedikit. Karena itu, kekayaan hanyalah efek samping dari menulis. Jika kita bisa menjadi kaya raya karena menulis maka itu adalah bonus dari hasil kerja keras kita.

Penulis   : Roni Nuryusmansyah
Artikel    : kristalilmu.com

Comments

  1. By Herman

    Reply

    • By Roni Nuryusmansyah -admin-

      Reply

  2. By Rigeng

    Reply

    • By Roni Nuryusmansyah -admin-

      Reply

  3. Reply

    • By Roni Nuryusmansyah -admin-

      Reply

  4. By Hilmi

    Reply

    • By Roni Nuryusmansyah -admin-

      Reply

  5. By izzy

    Reply

    • Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *