Memetik Hikmah dari Pedagang Asongan

Cerita ini saya dengar langsung dari seorang ustadz yang sekaligus dosen di kampus saya dalam muhadharah ba’da maghrib yang memang rutin diadakan di masjid kampus. Beliau bercerita,
“…Pernah suatu ketika, ana dalam perjalanan dalam kereta api (Beliau berasal dari Yogyakarta) bertanya kepada seorang pedagang asongan yang menjualkan barang dagangan yang sama dengan pedagang lainnya, bahkan di gerbong kereta api yang sama juga, lalu pedagang asongan itu pun menjawab, “Ya namanya rezeki Mas, sudah diatur…”.

Subhanallah, terkadang kita selalu mengeluhkan kondisi kita yang sejatinya lebih baik dibanding keadaan mereka. Namun, mereka begitu qona’ah menerimanya. Bahkan hasad sesama mereka pun enggan menghampiri hati-hati mereka, meski hanya segelintir saja seperti mereka. Tapi hal ini layak dijadikan pelajaran bagi kita yang senantiasa terus mengambil pelajaran dari berbagai hal. Mereka yang sama-sama berjualan dengan barang jualan yang sama, di gerbong kereta api yang sama, di waktu yang sama, bahkan penumpang yang mereka tawarkan pun sama. Namun, mereka begitu tawakal terhadap apa yang telah Allah Ta’ala tuliskan terhadap mereka. Sayang, sebagian ikhwan yang majelis ilmu telah menjadi tempat peristirahatannya tidak memperhatikan masalah ini. Kita mudah mengeluh dalam setiap keadaan, selalu berprasangka buruk, seolah tidak menerima takdir, bahkan hasad terjadi sesama mereka.

Allahu Akbar, sebagian pedagang asongan yang entah apakah mereka tahu apa itu qona’ah ataukah tidak, lebih qona’ah daripada kita yang entah beberapa kali kita mendengar kata qona’ah itu selalu kita dengar, baik dalam majelis ilmu ataupun buku-buku yang kita baca. Sudah semestinya, kita meyakini rezeki kita telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala sehingga kita bisa tenang dan yakin bahwa tidak ada seorangpun yang dapat merampasnya. Sehingga dengan keyakinan inilah kita dapat terlepas dari jerat hasad. Kita juga mesti meyakini bahwa Allah Ta’ala telah menakdirkan segala untuk kita berpuluh-puluh tahun sebelum kita diciptakan. Dan tidaklah Allah Ta’ala menentukan sesuatu kecuali tersembunyi hikmah agung yang entah bisa kita ketahui apapun tidak. Apakah kita lupa bahwa tidak akan sempurna iman kita sebelum kita mengimani takdir baik ataupun buruk yang menimpa kita? Saya rasa, kita telah mengetahui hal ini sejak duduk di sekolah dasar. Lalu dapatkah kita pasrah, bahkan qona’ah, yakni menerima semua takdir Allah Ta’ala tanpa rasa penat, rasa sedih dan semua rasa kekecewaan sedikitpun di hati. Itulah pekerjaan kita selaku hamba-Nya yang beriman.

Memang benar, ilmu itu tidaklah bermanfaat sebelum kita amalkan. Bahkan bisa menjadi boomerang bagi kita yang melalaikannya. Ingat, bahwa salah satu sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak. Dan tawakal, ridho, qona’ah adalah akhlak yang begitu indah, begitu agung, begitu mulia. Tentulah, semua akhlak itu tidaklah menghiasi diri kita dengan sendirinya. Namun kita senantiasa belajar untuk meraihnya, layaknya mereka, pedagang asongan kereta..

Ya Allah, jadikanlah kami merasa qona’ah (merasa cukup, puas, rela) terhadap apa yang telah Engkau rizkikan kepada kami, dan berilah berkah kepada kami di dalamnya dan gantikanlah bagi kami semua yang hilang dari kami dengan yang lebih baik..

Jum’at, 17 Ramadhan 1431 H / 27 Agustus 2010 M
Selepas sholat ‘Ashar di kamar idaman,
Asrama kampus STDIIS Jember, belahan timur Jawa,

Penulis: Roni Nuryusmansyah
Pemuraja’ah naskah: Ust. Noor Ichsan Silviantoro, Lc

Comments

  1. By vanjo

    Reply

    • By Roni Nuryusmansyah -admin-

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *