Lailatul Qadar: Malam Penakluk Seribu Bulan

Lailatul qadar adalah sebuah malam yang mulia. Mulia? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mulia berarti tinggi, berharga, bermutu. Seperti halnya logam mulia, ia berbeda dibanding dengan logam biasa. Lebih istimewa. Lebih utama. Apa keutamaannya? Dalam surat yang memiliki rating tertinggi dibaca imam tarawih di penghujung bulan Ramadhan sekaligus terfavorit karena merupakan surat pendek yang notabene disukai makmum, Allah Ta’ala menyebut bahwa malam itu lebih baik dari seribu bulan, atau bisa dianalogikan dengan 83,33 tahun![1] Subhanallah, siapa yang menjamin umur kita mencapai 83 tahun? Jika memang umur kita kelak mencapai angka itu, maka lailatul qadar itu lebih baik daripada sepuluh windu lebih itu. Dan pada malam itu, segala urusan yang penuh hikmah akan dijelaskan![2]

Karena itu, merupakan fenomena lumrah di tanah Arab, jamaah tarawih di sepuluh malam terakhir khususnya malam ganjil yaitu malam 21, 23, 25, 27, dan 29, membeludak. Preman pasar hingga mereka yang mencari penghasilan di pasar-pasar berbondong-bondong memenuhi masjid. Berbanding terbalik 180 derajat dengan kondisi kita di tanah air. Jamaah tarawih dari hari ke hari semakin sedikit, persis seperti ekor curut. Semakin ke ujung semakin lancip. Meskipun sebagian sahabat menukil hadits mengatakan bahwa waktunya jatuh pada tujuh hari terakhir, berarti 25, 27, dan 29, akan lebih baik jika kita mampu memaksimalkannya menjadi 10 malam terakhir.[3]

Sebagai the real moslem, bukan hanya muslim KTP, sudah selayaknya semangat kita berkobar, melebihi semangat pejuang kita untuk membebaskan diri dari tangan kotor penjajah puluhan tahun silam, untuk memulai perburuan malam spesial ini. Karena siapa yang bersemangat menghidupkan malam tersebut dengan ketaatan, berharap limpahan pahala, tulus karena keimanan, maka Allah Ta’ala akan berkenan, memberikan ampunan atas dosa-dosa yang telah lalu.[4] Subhanallah! Siapa yang tidak tergoda untuk mendapatkannya, kawan?

Dan malam yang memesona ini juga memiliki indikator keberadaannya. Di antaranya, pagi harinya, matahari terbit tidak menyilaukan, seperti setengah bejana hingga meninggi.[5] Malam tersebut juga indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin. Keesokan harinya, pendar sinar mataharinya beserta semburatnya melemah, taram-temaram, kemerah-merahan.[6] Pernah suatu ketika, setahun yang lalu, ketika tengah i’tikaf di sebuah masjid di kawasan Pogung yang berada tidak jauh dari UGM, Yogyakarta, sebagian mu’takifin (orang yang ber-i’tikaf) yang berasal dari luar Jawa, merasa sedikit terusik dengan cuaca yang dingin setiap malamnya, bahkan walau matahari telah meninggi. Suhu malam hari berkisah 15-20 derajat celcius ke bawah. Hingga suatu ketika, dini hari, cuaca yang kemarin-kemarin dingin berubah menjadi menyenangkan, sangat bersahabat. Tidak panas juga tidak dingin. Mungkin ini adalah salah satu tanda lailatul qadar karena kebetulan jatuh pada malam ganjil.[7]

Mungkin ada di antara kita bertanya, apakah fenomena semalam yang disebut pemandangan bulan bintang, yaitu bulan Jupiter beserta satelit alamnya yang gede itu terlihat dengan mata telanjang, merupakan tanda lailatul qadar? Entahlah. Apakah ini ada kaitannya dengan sejarah lambang bulan-bintang di atas masjid yang muncul pada masa kekuasaan Turki Ottoman? Jawabannya tetap sama: entahlah. Dengan ilmu yang sangat terbatas seperti ini, saya tak mampu mengurai benang merah di antara kedua. Cukupkan saja dengan tanda-tanda yang ada, yang jelas datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tentu saja, tanda-tanda tersebut masih bersifat umum. Karenanya, cara terbaik dan juga tidak sia-sia adalah menghidupkan kesepuluh malam terakhir di tiap penghujung Ramadhan. Tanpa terkecuali. Lalu bagaimana jika kita mendapatkannya? Banyak-banyaklah membaca doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada istrinya tercinta, bunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, yaitu: “Allahumma innaKa ‘afuwwun, tuhibbul ‘afwa, fa’fu’annii.” “Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.”[8] Perbanyaklah juga membaca doa lainnya, berharap Allah Ta’ala akan mengijabahnya. Bahkan Imam Syaukani rahimahullah mengatakan bahwa merupakan kemuliaan malam tersebut mengharuskan doa setiap orang pasti dikabulkan[9]. So awesome!

Dahulu, Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendapati sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, maka Beliau mengencangkan ikat pinggangnya, sebuah istilah yang menggambarkan seseorang yang menjauhi istrinya dan memfokuskan diri untuk beribadah. Beliau membangunkan keluarganya, agar juga turut berburu malam yang fenomenal itu, menghidupkannya dengan ibadah, menegakkan sholat malam, dan membaca Al-Qur’an. Maka, sangat beruntunglah mereka yang bisa beri’tikaf di masjid, memfokuskan diri hanya dengan ketaatan, ibadah, dan amalan syar’i lainnya.

Siapa yang menjamin kita akan menjumpai bulan Ramadhan tahun depan? Tidak ada. Bahkan beberapa detik ke depan adalah sebuah misteri. Terlebih lagi satu tahun ke depan. Kita hanya mampu berdoa, berharap Allah mempertemukan kita kembali dengan bulan yang penuh berkah itu, agar kita mampu menanam benih sebaik-baiknya pada bulan itu, berharap hasil panennya diterima sebagai bekal di hari perhitungan kelak. Karenanya, jangan sia-siakan kesempatan ini, kawan. Mari kita hidupkan sepuluh malam terakhir, beribadah dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka kita pasti mendapatkannya, tak peduli kapan ia akan turun.

Ya Allah..
Permudahkanlah kami untuk mendapatkan kemuliaan lailatul qadar..
Kuatkanlah kami untuk menghiasinya dengan ketaatan hanya kepada-Mu..
Ampunilah dosa dan kesalahan kami di masa lalu..
Terimalah semua amal ibadah kami..
Dan pertemukanlah kami kelak pada bulan Ramadhan tahun nanti..
Aamiin..

 

Ahad malam, 24 Ramadhan 1433 H / 12 Agustus 2012 M
Sehari setelah fenomena sang Jupiter bersama satelit-satelit alamnya menampakkan diri kepada makhluk bumi (sayangnya, semalam di sini berawan sehingga tidak bisa melihat salah satu kekuasaan Allah tersebut)..
In my beloved home, Venice of The East, Palembang City..

Penulis : Roni Nuryusmansyah, Mahasiswa Syariah Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi’i, Jember

__________
[1] QS. Al-Qadar: 1-5
[2] QS. Ad-Dukhan: 3-6
[3] Lihat hadits Bukhari 4/221 dan Muslim 1165
[4] Lihat hadits Bukhari 4/217 dan Muslim 759
[5] Lihat hadits Muslim 762
[6] Lihat hadits Ibnu Khuzaimah 3/231 dan Bazzar 1/486
[7] Based on true story
[8] Lihat hadits Tirmidzi 3760 dan Ibnu Majah 3850

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *