Kuketuk Pintu Taubat

Roda kehidupan terus bergulir. Tak lelah berputar hingga menodakan jiwa yang suci. Ia terus bermetamorfosis, berdinamika, dan mengalir menelusuri banyak perubahan yang kerap tak terduga-duga. Seorang insan yang mulia dapat saja terpuruk ke dalam jurang kenistaan, tenggelam dalam derasnya arus kemaksiatan, terombang-ambingkan oleh kenikmatan semu, bagai hujan tanpa mendung, lalu tiba-tiba saja menjadi sosok yang liar tanpa dapat diprediksi.
Tak sedikit manusia yang pernah mengecap manisnya hidayah kembali bergelut dengan ritual-ritual kesesatan. Ia menabuh genderang perang dan menghunuskan pedang lalu bertarung dengan kebenaran. Keterjatuhan selalu menghiasi tiap fase kehidupan. Karena itu, pada kesempatan kali ini kami akan membahas apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang mukmin sejati saat mengalami saat-saat seperti ini.

AKU BUKAN MALAIKAT
Manusia selamanya tetap akan menjadi manusia. Ia tak akan pernah menjelma menjadi sosok malaikat yang terlepas dari belenggu dosa dan rantai maksiat. Setakwa apapun seorang hamba, setegar apapun imannya, seluas apapun ilmunya, sebanyak apapun amalnya, semulia apapun akhlaknya, ia hanyalah sosok bani Adam yang pernah mengotori hatinya dengan noda dosa dan karat maksiat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Setiap anak Adam pernah melakukan kesalahan dan sebaik-baik kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat.[1]”

Beliau juga bersabda,
Tidak ada seorang hamba mukmin, melainkan dia pasti memiliki dosa yang biasa dia lakukan, waktu demi waktu, sesaat demi sesaat, atau dia memiliki dosa yang selalu dia lakukan dan tidak bisa dia tinggalkan sampai dia meninggalkan dunia. Sesungguhnya seorang mukmin diciptakan dalam keadaan terkena fitnah, selalu bertaubat, dan selalu lupa. Apabila dia diingatkan, dia kembali ingat.”[2]

MENGETUK PINTU TAUBAT
Ketika manusia telah ditunggangi hawa nafsu dan terjatuh dalam gelapnya kabut maksiat, maka tidak ada lagi alasan baginya untuk mengelak dengan dalih takdir, karena saat itulah Allah Ta’ala memerintahkannya untuk bertaubat. Karena itulah jalan yang terbaik.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya,
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb-mu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai….”[3]

Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja beristighfar seratus kali dalam sehari, padahal dosa-dosa Beliau telah diampuni baik yang telah lalu maupun yang akan datang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, karena sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah seratus kali dalam sehari.”[4]

Lalu bagaimana dengan hamba yang senantiasa melumuri hatinya dengan rona hitam dosa dan maksiat? Tentu harus lebih giat lagi untuk menapaki tangga dan mengetuk pintu taubat.

Karena itulah, umat Islam telah sepakat atas wajibnya taubat baik dari dosa besar maupun dari dosa kecil, sebagaimana dinukil Imam al-Qurthubi dan Ibnu Qudamah rahimahumallah.

MENGUAK TABIR TAUBAT
Setelah mengetahui bahwa taubat satu-satunya jalan bertabur keselamatan, saat jiwa nyaris terpelosok dalam jurang kesengsaraan, maka sudah selayaknya seorang hamba mengetahui hakikat taubat.

Secara syar’i, taubat artinya meninggalkan dosa karena mengetahui keburukannya, menyesal telah melakukannya, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya kembali ketika ada kemampuan untuk melakukannya, serta melaksanakan amalan-amalan yang pernah ditinggalkan.

Ketahuilah, bahwa ada saatnya ketika taubat tidak akan bernilai di sisi Allah yaitu ketika nyawa telah berada di kerongkongan dan ketika matahari telah terbit dari tempat terbenamnya.

Taubat mestilah ikhlas dan jujur karena Allah Ta’ala. Ia mesti disandingkan dengan cinta kepada Allah dan apa yang dicintai Allah, serta bersayapkan rasa harap akan pengampunan dan rasa takut akan balasan bagi para pelaku maksiat.

Inilah tanda-tanda ketulusan yang akan mengetuk pintu taubat sehingga ia akan terbuka dengan lebar. Tanpanya, taubat tak lebih dari janji dusta dan omong kosong. Tanpanya, pintu taubat tidak akan terbuka.

ONAK DURI PENGHALANG
Perjalanan menuju taubat itu ibarat sebuah peperangan besar. Akan senantiasa ada armada perang yang dengan gigihnya berusaha menghalangi untuk meraih kemenangan . Baik itu berupa godaan setan, kemilau dunia, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, untuk mengecap manisnya taubat, seorang yang terpendar noktah dosa mestilah bersusah-payah mengalahkan berbagai penghalang taubat.

Kebodohan

Tak dapat dipungkiri bahwa kebodohan adalah sumber utama malapetaka dan penghalang taubat. Manusia hanya dapat mengatasinya dengan ilmu dan sebaik-baik ilmu adalah mengenal Allah. Karena dengan mengenal Allah Ta’ala lah seorang hamba akan semakin menyadari kelemahannya serta ketidakpantasannya untuk memaksiati-Nya, Dzat yang menciptakannya.

Dengan ilmu, ia akan mengetahui kekalnya kampung akhirat dan semunya dunia. Dengan ilmu, ia akan mengetahui keutamaan taubat dan bahaya dosa dan maksiat yang menjadi sumber kehancuran.

Hawa Nafsu

Sekiranya jiwa telah dikekangi oleh hawa nafsu maka langkahnya akan semakin jauh dari pintu taubat. Ia senantiasa condong mengajak kepada perbuatan dosa yang tidak ubahnya hanya nikmat sesaat. Ketahuilah, hawa nafsu yang diikuti hanya akan membawa kepada kehancuran. Maka dibutuhkan kesabaran agar dapat mengekang syahwat yang senantiasa bergejolak.

Panjang Angan-Angan

Setan, selaku musuh utama bani Adam, selalu menghembuskan bisikan-bisikan manis lagi indah agar manusia semakin jauh dari Rabbnya. Ia memperdaya jiwa yang lalai dari mengingat Allah dengan fatamorgana bahwa umurnya masih panjang dan masih banyak waktu untuk bertaubat. Akhirnya, ia hanya menghiasi detik hidupnya dengan jerat-jerat kemaksiatan, berangan-angan kosong dan berharap dalam kehampaan. Perlu diketahui, haram menunda-nunda taubat sebagaimana halnya wajib menyegerakannya.

MENAPAKI TANGGA PENGAMPUNAN

Taubat itu memiliki beberapa anak tangga. Jika dinaiki akan semakin memudahkan seorang pendosa menuju pengampunan Allah Ta’ala. Ia juga layaknya obat penawar racun maksiat yang mampu menetralisasi hati agar siap ditumbuhi ketulusan dan kejujuran istighfar.

Jangan Remehkan Dosa

Siapa sangka tetesan air yang jatuh mampu melubangi kerasnya batu? Siapa sangka butiran kerikil kecil mampu menjadi sebuah gunung? Itulah kenyataannya. Sesuatu yang kecil jika ditumpuk terus menerus mampu menjelmakan diri menjadi sesuatu yang besar dan luar biasa. Begitu juga dosa.

Dengarlah perkataan Anas bin Malik kepada salah seorang tabi’in yang juga muridnya,
“Sungguh kalian melakukan amalan yang menurut kalian lebih lembut daripada sehelai rambut, namun kami menganggapnya di masa Rasulullah termasuk dosa-dosa yang menghancurkan.”[5]

Bilal bin Sa’ad juga pernah mengingatkan,
“Jangan melihat kecilnya dosa yang engkau lakukan, tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat.”[6]

Fudhail bin ‘Iyadh juga pernah berkata,
“Ketika engkau menganggap kecil dosamu, maka dosa tersebut akan menjadi besar di sisi Allah, dan ketika kamu menganggap besar dosamu, maka dosa tersebut menjadi kecil di sisi Allah.”[7]

Lisan dan Jasad yang Beristighfar

Tidak diragukan lagi bahwa Allah Ta’ala banyak menceritakan dalam kitab-Nya tentang kisah para nabi yang senantiasa beristighfar. Jika kita mau memperhatikan ayat-ayat tersebut, kita akan takjub dengan kesungguhan mereka dalam beristighfar. Padahal mereka adalah para utusan Allah yang tentu saja lebih baik dari kita dari semua sisi. Seharusnya kita yang jauh di bawah mereka lebih bersungguh-sungguh lagi dalam beristighfar.

Istighfar bukan hanya sekedar di lisan, namun juga dengan perbuatan. Bahkan dikatakan, istighfar hanya dengan lisan tanpa diiringi perbuatan adalah pekerjaan para pendusta.[8] Dan secara tegas Imam ar-Raghib al-Asfahani berkata, “Istighfar itu dengan ucapan dan perbuatan.”

Lingkungan yang Baik

Teman yang buruk memiliki andil yang besar dalam terperosoknya seseorang ke dalam lembah neraka. Ia menularkan virus ganas berupa akhlak yang buruk, bergudang kemaksiatan, dan berbagai macam bentuk pengingkaran. Bukan hanya teman ‘pandai besi’ yang kita jauhi, namun juga sarana yang dapat memicu terjadinya dosa, dan lain sebagainya.

Maka dari itu, di sinilah letak pentingnya peranan teman dan lingkungan yang baik. Teman ‘penjual minyak wangi’ akan menebar wewanginya dan senantiasa menasehati kita dengan manis tutur katanya ataupun dengan baiknya amalan mereka. Pergaulan kita dengan mereka membuat hati mampu merasakan pahitnya empedu maksiat dan pada saat yang sama mampu memotivasi jiwa untuk meniti jalan taubat.

HIKMAH DIBALIK PENDAR-PENDAR DOSA
Ketahuilah, tujuan dari kesalahan seorang mukmin adalah agar dia menyesalinya, tujuan dari kelalaian seorang mukmin adalah agar dia menyadarinya, tujuan dari penyimpangan seorang mukmin adalah agar dia meluruskannya, dan tujuan dari jatuhnya seorang mukmin ke dalam jurang hawa nafsu adalah agar diambil tangannya dan diselamatkan ke telaga keselamatan.[9]

Zainal Abidin hafizhahullah berkata,
“Hendaklah seseorang menyadari bahwa jika Allah membiarkannya berbuat dosa, itu dikarenakan agar ia mengenal kemuliaan-Nya dalam ketetapan-Nya, mengenal kebaikan-Nya dalam menutupi dosanya, mengenali kesantunan-Nya dalam menunda siksa-Nya bagi pelakunya, mengenali kemurahan-Nya ketika menerima permintaan maafnya, serta yang tak kalah pentingnya, mengetahui karunia-Nya dalam pengampunan-Nya.”[10]

Akhir kata, rawatlah jiwa untuk mengikhlaskan diri dan jujur dalam menapaki tangga taubat menuju ampunan Yang Maha Pengampun. Ketuklah pintu taubat dengan dalamnya penyesalan akan dosa yang telah kita perbuat, dengan kuatnya tekad untuk tidak kembali tersungkur dalam gelapnya kabut maksiat, dan dengan kecintaan kepada amalan yang telah lama ditinggalkan. Semoga Allah Ta’ala menerima taubat kita sehingga kita layaknya seorang yang tidak pernah mengenal dosa sama sekali. Aamiin.

Muhammad al-Waraq berkata:
“Berikanlah taubat yang diharapkan untuk jiwamu..
sebelum kematian dan sebelum lisan-lisan dibelenggu..
Bersegeralah menutup jiwa dengan taubat karena sesungguhnya,
taubat adalah simpanan dan harta berharga bagi orang yang ingin kembali lagi berbuat kebaikan”[11]

 

Ahad Malam..
11 Jumadal Akhir 1432 H / 15 Mei 2011 M..
Asrama STDI Imam Syafi’i Jember..

 

Penulis                 : Roni Nuryusmansyah (Mahasiswa STDI Imam Syafi’i Jember)

Editor                    : Abdullah Akiera Van as-Samawiey

_______________
[1] HR. Tirmidzi
[2] HR. Thabrani
[3] QS. At-Tahrim: 8
[4] HR. Muslim
[5] HR. Bukhari.
[6] HR. Baihaqi.
[7] HR. Baihaqi
[8] Lihat al-Mufradat fi Gharibil Qur’an
[9] Latha’if al-Ma’arif
[10] Buku Ya Allah Ampuni Aku
[11] Tafsir al-Qurthubi

Comments

  1. By pandu

    Reply

  2. By Roni Nuryusmansyah -admin-

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *