Kisah Isra Mikraj

Pengertian
Isra Mikraj adalah salah satu mukjizat Rasulullah.
Isra secara bahasa artinya berjalan di malam hari.
Secara syariat artinya perjalanan Rasulullah dengan ruh dan jasadnya dari Masjidil Haram di Mekah, menuju Masjidil Aqsha (jauh) atau Baitul Maqdis di Yerussalem Palestina.

Mikraj secara bahasa artinya tempat naik atau tangga.
Secara syariat artinya naiknya Rasulullah dengan ruh dan jasadnya ke langit.

Dalil
Isra: Surah Al-Isra, ayat ke-1.
Mikraj: Surah An-Najm, ayat ke-13 sampai 18.

Waktu Terjadi
Ahli sejarah berbeda pendapat tentang kapan waktu terjadinya isra mikraj.
Ada yang berpendapat tahun pertama kenabian, kelima, kesepuluh, keduabelas, atau ketigabelas. Hanya saja yang lebih tepat tidak kurang dari tahun kesepuluh, yaitu setelah wafatnya Abu Thalib dan Khadijah, serta sepulang dari dakwah ke Thaif.
Ada yang berpendapat bulan Muharam, Rabiulawal, Rajab, atau Ramadan.
Ada yang berpendapat tanggal 17, atau 27.
Adapun pendapat yang masyhur di negeri kita adalah 27 Rajab.

Kisah
Pada malam hari, di waktu Isya, malaikat Jibril mendatangi Nabi. Ada yang menyebutkan di rumah Nabi, ada yang menyebutkan ketika Nabi tengah berbaring di dekat Hijir Ismail/Hathim. Lalu Jibril membelah dada Nabi dan mengeluarkan hati Nabi. Kemudian hati tersebut dicuci dengan air zamzam dan diisi dengan iman dan hikmah yang berada dalam bejana dari emas, dan hati tsb dikembalikan ke tempat semula lantas dijahit seperti semula. Ada yang menyebutkan kisah ini ketika Nabi berada di Masjidil Aqsha.

Kemudian didatangkan Buraq, seekor hewan tunggangan yang lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bighal (peranakan antara kuda dan keledai), berwarna putih. Ada yang menyebutkan bercahaya. Buraq mampu melangkah sejauh mata memandang.

Setiba di Masjidil Aqsha, Nabi mengikatkan Buraq di pintu masjid, di tempat para Nabi menambatkan kendaraannya. Nabi salat dua rakaat mengimami ruh-ruh para Nabi.

Lalu Jibril menawarkan susu atau khamr. Nabi pun memilih susu. Jibril berkata, “Engkau telah memilih sesuai fitrah. Jika engkau memilih khamr maka umatmu akan tersesat.” Ada yang menyebutkan kisah ini ketika Nabi berada di Sidratul Muntaha.

Kemudian Nabi naik bersama Jibril ke langit dunia/pertama. Jibril meminta dibukakan pintu langit. Di langit pertama, Nabi berjumpa Nabi Adam dan mengucapkan salam. Nabi Adam pun menjawabnya, menyambutnya, dan mengakui kenabiannya.

Ketika Nabi Adam melihat ke sisi kanannya, beliau tertawa. Ketika melihat ke sisi kirinya, beliau menangis. Di sisi kanan beliau ada ruh-ruh keturunannya yang berbahagia, penghuni surga. Di sisi kiri beliau ada ruh-ruh keturunannya yang celaka, penghuni neraka.

Di langit kedua, Nabi berjumpa dengan Nabi Yahya bin Zakaria dan Nabi Isa bin Maryam. Nabi Isa masih hidup dan akan turun ke dunia di akhir zaman, di masa kepemimpinan Imam Mahdi, untuk membunuh Dajjal, babi-babi, menghancurkan salib-salib, dan menghapus jizyah/upeti.

Di langit ketiga, Nabi berjumpa dengan Nabi Yusuf, yang tampan rupawan.

Di langit keempat, Nabi berjumpa dengan Nabi Idris. Nabi Idris menyebut Nabi sebagai saudara yang saleh. Hal ini menunjukkan Nabi Idris adalah Nabi Bani Israil, bukan Nabi antara Nabi Adam dan Nabi Nuh seperti yang sering disebutkan.

Di langit kelima, Nabi berjumpa dengan Nabi Harun bin Imran, kakaknya Nabi Musa, selisih 1 atau 3 tahun.

Di langit keenam, Nabi berjumpa dengan Nabi Musa bin Imran, kalimullah. Ketika Nabi berlalu, Nabi Musa menangis. Ditanyakan mengapa engkau menangis? Nabi Musa menjawab karena ada Nabi sepeninggalku yang umatnya lebih banyak masuk surga daripada umatku. Ini bukan hasad/iri, benci akan nikmat/keutamaan orang lain, akan tetapi ghibthah yang diperbolehkan, yaitu ingin memiliki keutamaan seperti orang lain (dalam hal ilmu atau kedermawanan).

Di langit ketujuh, Nabi berjumpa dengan Nabi Ibrahim bin Azar, khalilullah, abul anbiya, yang sedang bersandar di Baitul Makmur, Ka’bah langit, karena beliau yang mendirikan Ka’bah bumi. Setiap hari ada 70.000 malaikat masuk ke dalam Baitul Makmur, dan yang sudah pernah masuk lalu keluar tak akan masuk lagi ke sana kedua kalinya.

Kemudian Nabi naik ke Sidratul Muntaha. Di dalamnya terdapat pohon-pohon besar yang dedaunannya selebar telinga gajah dan bebuahan sebesar tempayan/guci yang besar. Sidratul Muntaha memiliki empat aliran sungai, dua sungai batiniyah/tak tampak, di surga, dan dua sungai lahiriyah/tampak (Eufrat dan Nil).

Lalu Nabi pun menjumpai Allah. Ulama berbeda pendapat tentang apakah Nabi melihat Allah langsung atau terhalang cahaya. Kemudian Allah memerintahkan Nabi dan umatnya salat 50 waktu dalam sehari semalam. Nabi pun kembali pulang. Ketika berpapasan dengan Nabi Musa, dia bertanya apa yang Allah wajibkan. Setelah tahu perintah 50 salat, Musa mengatakan, “Umatmu tak akan sanggup. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya.” Nabi pun menoleh kepada Jibril, maka Jibril mengisyaratkan boleh jika mau.

Nabi pun kembali menghadap Allah. Akhirnya diringankan menjadi 10 waktu. Akan tetapi setelah kembali berpapasan dengan Nabi Musa

(bersambung)

Penulis: Roni Nuryusmansyah

Mulai ditulis:
Rabu, 3 April 2019 / 27 Rajab 1440

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *