Kiat Meraih Takwa

Wasiat takwa selalu diperdengarkan dalam khutbah-khutbah Jum’at dan lainnya di setiap penjuru dunia. Bagaikan permata yang telah hilang ditelan kegelapan era globalisasi. Hanya tinggal sebuah nama yang terasingkan. Padahal dengan takwalah akan tercapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Sudah seharusnya jiwa kita berkobar, untuk berusaha mencapai takwa, cita-cita kaum Mukminin.

Pada kesempatan kali ini, kita akan menapaki beberapa anak tangga yang dengannya kita akan mencapai puncak takwa.

Mempelajari ilmu syar’i

Tidak dapat dipungkiri, hanya dengan ilmu syar’i sajalah kita dapat membedakan antara yang benar dan salah, baik dan buruk, sehingga kita pun berusaha untuk menjalankan semua perintah Allah Ta’ala dan menjauhi larangan-Nya.

Di antara manusia ada yang menguasai berbagai macam bidang ilmu dunia, akan tetapi mereka lalai tentang akhirat, mereka tidak mengetahui bagaimana beribadah kepada Allah, mentauhidkan-Nya, dan yang lainnya, lalu bagaimana ia dapat mencapai takwa?!

Bersungguh-sungguh menuju takwa kepada Allah Ta’ala

Allah Ta’ala akan senantiasa menolong dan membukakan jalan menuju takwa bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh ingin mencapainya. Sebagaimana perkataan sebagian ulama, bahwa sejauh mana kesungguhan seseorang, maka sejauh itu pula keberhasilan yang akan dia gapai. Lihatlah kepada para Sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum, bagaimana mereka benar-benar bersungguh-sungguh untuk meraih gelar muttaqin, orang-orang yang bertakwa. Maka Allah Ta’ala membalas kesungguhan mereka dengan memudahkan jalan mereka menuju takwa.

Berdo’a

Doa adalah ibadah dan senjatanya kaum mukmin. Kebanyakan manusia melupakan hal ini dan menganggap doa adalah tanda lemahnya seseorang. Tentu saja hal ini tidak benar. Allah-lah yang mengatur semua perkara di alam semesta ini. Tak akan terjadi apa yang tidak Ia kehendaki. Jika kita berusaha melakukan semua kiat meraih takwa dengan segala daya upaya namun Allah tidak menghendakinya, maka tidak akan terjadi. Karena itu, betapa pentingnya doa di dalam setiap perkara.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdo’a: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian diri, dan kecukupan.” (HR. Muslim). Lihatlah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja yang diampuni dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang memohon ketakwaan kepada Allah Ta’ala! Maka alangkah tidak pantasnya jika kita manusia yang penuh dosa dan kesalahan enggan berdoa kepada Allah Ta’ala agar Ia memudahkan jalan kita menuju takwa.

Berteman dengan orang yang bertakwa

Tidaklah salah, jika kita sangat memperhatikan kepada siapa kita berteman, karena teman adalah cerminan kepribadian kita. Ia lebih cepat menularkan sifat buruknya kepada kita dari virus penyakit menular yang ganas sekalipun. Namun ia juga bisa dapat mempengaruhi kita dalam kebaikan layaknya seorang guru yang memberi pengajaran kepada muridnya.

Teman itu hanya ada dua, tidak ada yang ketiga. Teman yang mempengaruhi atau teman yang dipengaruhi. Maka jadilah kita teman yang mempengaruhi orang lain dengan kebaikan dan janganlah kita terpengaruhi oleh teman dalam keburukan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seseorang dilihat dari agama temannya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dll)

Menjauhi dosa dan maksiat

Meninggalkan dosa dan maksiat adalah hakikat takwa dan konsekuensi dari takwa itu sendiri. Allah Ta’ala berfirman: “(Yaitu) mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil. Sungguh, Rabb-mu Maha Luas ampunan-Nya. Dia mengetahui kamu sejak Dia menjadikan kamu dari tanah lalu ketika kamu masih berupa janin dalam perut ibumu. Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang-orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

Takwa dan dosa ibarat air dan api. Ia tidak akan bisa menyatu, terlebih lagi di satu tempat, yaitu hati. Maka bagaimanakah kita meraih takwa jika hati kita penuh noda dosa dan karat maksiat?! Terlebih lagi kita yang gemar mengoleksi dosa dan tenggelam dalam pekatnya lembah maksiat! Renungkanlah Saudaraku!

Selalu merasa diawasi oleh Allah Ta’ala

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “..Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hadid: 4). Di dalam ayat yang mulia ini, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa Ia senantiasa mengawasi kita semua meski di ujung dunia sekalipun. Semua berada dalam pengetahuan, penglihatan, dan pendengaran-Nya. Dia senantiasa mendengar perkataan kita, melihat keberadaan kita, serta mengetahui rahasia kita. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir)

Akhirnya, kita memohon kepada Allah Ta’ala agar memudahkan langkah-langkah kita menapaki anak-anak tangga yang dengannya kita bisa merasakan indahnya ketakwaan. Ingatlah, Surga itu disediakan bagi orang-orang yang hatinya dihiasi takwa. Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan muttaqin. Aamiin.

Sabtu, menjelang tergelincirnya sang surya,

Minggu tenang sebelum US ganjil, 19 Muharram 1432 H / 25 Desember 2010 M,

Sebuah kamar sederhana di asrama kampus STDIIS Jember,

Penulis: Roni Nuryusmansyah

Pemuraja’ah naskah: Ust. Hendri Waluyo, Lc

Artikel: kristalilmu.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *