Kiat Beragama dengan Selamat: Mengapa Harus Sahabat?

Setengah tahun lalu, saya dan rekan-rekan dari kampus memanfaatkan minggu tenang sebelum ujian akhir semester genap dengan berlibur ke pantai Bandealit di Taman Nasional Meru Betiri Jember, tempat di mana Harimau Jawa yang hampir punah terakhir kali terlihat. Selain bunga Raflesia Zollingeriana yang langka, di sana juga terdapat flora dan fauna yang unik. Sebuah perjalanan yang sangat berkesan dan tak terlupakan. Kami masuk ke dalam hutan rimba yang berada tepat di sisi pantai untuk melihat goa Jepang di atas perbukitan. Alhamdulillah, kami selamat. Kami berhasil menemukan goa Jepang yang hanya berupa bungker sempit yang luasnya lebih sedikit dari kamar asrama ini.

Loh, bukankah kami baru kali pertama ke sana? Lalu bagaimana mungkin kami bisa selamat?

Beberapa bulan lalu, saya dan rekan-rekan dari Asad el-Jabal, komunitas mahasiswa pencinta alam [disingkat MAPALA] dari kampus mendaki gunung Semeru di Lumajang, gunung tertinggi seantero pulau Jawa. Ada Ranu Kumbolo yang oleh para pendaki dijuluki surga Semeru. Ada juga Oro-Oro Ombo, sebuah padang rumput luas bak savana Afrika. Ada juga bunga Edelweiss yang sederhana dengan keindahannya dan indah dengan kesetiaannya. Lagi-lagi sebuah perjalanan yang sangat berkesan dan tak terlupakan. Kami menelusuri jalan setapak, bahkan berkali-kali masuk-keluar hutan rimba yang berada di bahu gunung. Alhamdulillah, kami selamat. Tiada seorangpun dari kami yang tersesat.

Loh, bukankah kami baru kali pertama ke sana? Lalu bagaimana mungkin kami bisa selamat?

Jawabannya adalah karena kami mengikuti jalur orang-orang terdahulu yang telah selamat sampai ke tujuan. Ketika di hutan sekitar pantai Bandealit, kami mengikuti jalur orang-orang yang sudah pernah sampai ke goa Jepang yang berada di daerah puncak perbukitan. Kami menapaktilasi jejak mereka, sang pendahulu. Begitu juga ketika kami mendaki gunung Semeru. Kami hanya berjalan menyusuri jalur pendaki-pendaki lain yang pernah selamat sampai ke puncak Mahameru. Kami [lagi-lagi] menapaktilasi jejak mereka, sang pendahulu.

Begitu juga jika ingin selamat dalam beragama. Ikutilah jalan orang-orang yang telah selamat, yang telah diridai Allah dan dijamin Allah bagi mereka surga dengan keindahan tiada tara. Ikutilah jalan orang-orang yang telah selamat sampai tujuan.

Siapakah mereka?

Mereka adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “beserta” para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum.

Mengapa harus sahabat?

Karena Allah Ta’ala telah menyediakan surga bagi para sahabat baik orang-orang Muhajirin, Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah rida kepada mereka dan merekapun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-selamanya. Itulah kemenangan yang agung.”[1]

Jika demikian, maka wajib bagi setiap seluruh umat Islam yang ingin selamat dalam beragama serta masuk surga untuk mengikuti jejak sahabat dalam beragama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (yaitu para sahabat), kemudian yang setelahnya (yaitu para tabiin), kemudian yang setelahnya (yaitu para tabi’ut tabiin).”[2]

Hal ini menunjukkan keutamaan ketiga generasi tersebut, agungnya kedudukan mereka, luasnya ilmu mereka terhadap syariat Allah, serta teguhnya mereka di atas Sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.[3]

Sahabat adalah generasi terbaik karena mereka adalah para pelajar lulusan kampus nubuwah yang langsung dididik oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka menyaksikan langsung seluk-beluk kehidupan Nabi. Mereka mendapati bagaimana wahyu turun, mengetahui sebab musabab turunnya ayat-ayat Al-Qur’an, dan bertanya langsung kepada Rasulullah jika menjumpai ayat yang sulit untuk mereka pahami.

Salah satu wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabatnya, “Siapa yang hidup di antara kalian sepeninggalku maka kelak akan melihat perpecahan yang banyak. Maka berpegang teguhlah kalian dengan sunahku dan sunah Khulafaur Rasyidin Mahdiyyin (yang mendapat petunjuk dan lurus). Pegang dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru di dalam agama karena semua perkara baru adalah bidah, dan semua bidah itu sesat.”[4]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan umatnya untuk mengikuti sunahnya dan sunah Khulafaur Rasyidin setelahnya saat terjadinya perpecahan dan perselisihan.[5]

Di dalam wasiat tersebut, Nabi menjelaskan bahwa tatkala terjadi perpecahan yang banyak –seperti dewasa ini- maka kembalilah kepada sunahnya dan sunah para sahabatnya. Karena mengikuti mereka adalah satu-satunya jalan keselamatan.

Di lain kesempatan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda tentang golongan yang selamat tersebut, “Umat Yahudi telah terpecah belah menjadi 71 golongan. Umat Nashrani telah terpecah belah menjadi 72 golongan. Dan umat ini akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Semua golongan tersebut akan masuk neraka kecuali satu.” Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah yang satu itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Ia adalah yang berpegang teguh dengan apa yang aku dan sahabatku berpegang dengannya saat ini.”[6]

Hadis di atas menyebutkan dengan gamblang tips selamat dalam beragama, yaitu mengikuti Rasulullah dan para sahabatnya. Rasulullah tidak mencukupkan diri dengan menyebut dirinya. Akan tetapi Rasulullah turut menyertakan sahabatnya sebagai dalil wajibnya mengikuti mereka. Bahkan ditegaskan siapa yang beragama tanpa mencontoh para sahabat Nabi maka ia dikhawatirkan akan terjerumus ke dalam api neraka.

Tidaklah sekelompok manusia mengambil jejak lain selain jejak para sahabat melainkan akan jatuh kepada penyimpangan-penyimpangan di dalam agama. Dan tidaklah sekelompok manusia meniti jejak para sahabat melainkan tidak akan tersesat di dalam agama.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya kami meneladani, bukan memulai. Kami mengikuti (ittiba’), bukan membuat perkara baru (bid’ah). Kami tidak akan tersesat selama berpegang tegung kepada atsar (hadis Nabi dan sahabatnya).”[7]

Ibnu Mas’ud juga kembali menegaskan, “Ikutilah (Nabi dan sahabatnya) dan janganlah kalian berbuat bid’ah. Maka hal itu sungguh telah cukup bagimu.”[8]

Tak hanya itu. Beliau pun menyebutkan berbagai sebab mengapa kita wajib mengikuti para sahabat dan bukan selainnya. Ibnu Mas’ud menuturkan, “Siapa di antara kalian yang ingin meneladani, maka teladanilah para sahabat Nabi. Karena sesungguhnya mereka adalah manusia yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, paling lurus petunjuknya, dan paling baik keadaannya. Mereka adalah suatu kaum yang telah Allah pilih untuk menemani Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya. Maka kenalilah keutamaan mereka serta berpegang teguhlah dengan petunjuk mereka karena mereka berada di atas jalan yang lurus.”[9]

Karenanya, secara fitrah, manusia akan mengikuti jejak orang terdahulu yang telah selamat sampai tujuan dan menjauhi jalan orang yang tersesat. Adakah di antara kita yang ingin mengikuti jejak Fir’aun, Qarun, Abu Jahal, dan manusia-manusia lain yang telah divonis tidak selamat di akhirat? Tentu saja tidak. Karena sebagaimana yang telah ditekankan sebelumnya, bahwa tidaklah sekelompok manusia mengambil jejak lain selain jejak orang yang selamat melainkan akan jatuh kepada penyimpangan-penyimpangan. Dan tidaklah sekelompok manusia meniti jejak orang yang selamat melainkan tidak akan tersesat.

Kita ambil permisalan dalam hal ini adalah Ahmadiyah, sebuah sekte menyimpang yang meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka berdalil dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Namun hal itu tidak menjamin mereka selamat. Mereka tidaklah memahami ayat tersebut sebagaimana yang dipahami oleh sahabat. Oleh karena itulah mereka terjerumus ke dalam penyimpangan yang fatal. Bahkan ideologi mereka ini membawa mereka kepada kekafiran. Wal’iyadzu billah.

Contoh lainnya adalah Syiah Rafidhah, sebuah sekte menyimpang yang mengultuskan ahlul bait, bahkan menuhankan Ali bin Abi Thalib. Mereka menuduh Aisyah, istri Nabi, telah berzina dan mengkafirkan mayoritas sahabat, terutama Abu Bakar dan Umar. Ketika Nabi memerintahkan kita untuk mengikuti jejak para sahabat, penganut Syiah justru mencaci maki serta mengkafirkan mereka. Manusia yang mencintai para sahabat saja tanpa mengikuti jejak mereka dapat terancam ke dalam penyimpangan, lalu bagaimana halnya dengan manusia yang membenci mereka? Maka mereka pun telah terjerumus dalam kesesatan yang nyata. Adakah yang lebih buruk daripada mereka yang mengkafirkan generasi terbaik yang telah dijamin surga?

Demikianlah kiat singkat beragama dengan selamat yaitu dengan meniti jalan yang ditempuh oleh para sahabat. Jejak para sahabat adalah jalan kebenaran sedangkan jejak-jejak lain merupakan jalan kesesatan. Akhir kata, semoga Allah selalu membimbing kita semua untuk senantiasa berada di atas jalan-Nya yang lurus, mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah, dengan pemahaman sahabat, salaful ummah.

 

Senin, 23 Rabi’ul Awwal 1434 H / 4 Februari 2013 M
Di laboratoriumku [baca: kamar asrama]..
Di kala langit cerah, kuharap masa depanku pun secerah itu..

 

Penulis: Roni Nuryusmansyah
Artikel: www.kristalilmu.com

 

____________________
[1] QS. At-Taubah: 100
[2] HR. Bukhari, no. 2652, dalam Shahih Bukhari, 2/180, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah – Beirut, dan Muslim, no. 2533, dalam Shahih Muslim, hal. 1052, Dar al-Kutub al-Arabi – Beirut.
[3] Lihat Mu’taqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah fii Tauhidil Asma-i wash-Shifat, karya Syaikh Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi, hal. 57, Dar Ilaf ad-Dauliyyah lin Nasyri wat Tauzi’ wad Di’ayah wal I’lan – Madinah.
[4] HR. Abu Dawud, no. 4609, dalam Sunan Abi Dawud, 4/329, Dar al-Kutub al-Arabi – Beirut, Maktabah Syamilah.
[5] Mu’taqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah fii Tauhidil Asma-i wash-Shifat, karya Syaikh Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi, hal. 58, Dar Ilaf ad-Dauliyyah lin Nasyri wat Tauzi’ wad Di’ayah wal I’lan – Madinah.
[6] HR. Tirmidzi, no. 2641, dalam Sunan Tirmidzi, 5/26, Dar Ihya at-Turats al-Arabi – Beirut, Maktabah Syamilah.
[7] Syarh Ushul I’tiqad Ahli as-Sunnah, karya Al-Laalaka-i, 5/5, Maktabah Syamilah.
[8] Al-Bida’ wa an-Nahyu ‘anha, karya Ibnu Wadhah, 1/17, Dar ash-Shafa – Kairo, Maktabah Syamilah.
[9] Jami’ Bayan al-Ilmi wa Fadhlihi, karya Ibnu ‘Abdil Barr, 2/97, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah – Beirut, Maktabah Syamilah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *