Khutbah Iduladha: Mutiara Hikmah di Balik Syariat Kurban

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah mempertemukan kita kembali dengan satu di antara dua hari raya tahunan Islam, yaitu hari Iduladha, hari nahr, yaitu hari yang paling agung di sisi Allah.

إن أعظم الأيام عند الله يوم النحر

“Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah ialah hari nahr, yaitu hari iduladha.” (HR. Abu Dawud)

Hari di mana kita mengagungkan syiar-syiar Allah.

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Demikianlah perintah Allah, siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah (yaitu berkurban), maka sesungguhnya hal itu muncul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)

Hari di mana amal saleh di dalamnya lebih Allah cintai dibandingkan 350 hari lainnya.

ما مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ ». فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ ».

“Tidak ada hari-hari yang mana amal saleh di dalamnya lebih Allah cintai daripada sepuluh hari ini.” Mereka para sahabat bertanya, “Tidak juga jihad di jalan Allah?” Nabi pun menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar berjihad di jalan Allah dengan dirinya, dengan hartanya, lantas ia tidak kembali dengan sesuatu apa pun dari keduanya.” (HR. Tirmidzi)

Hari yang mana Allah Ta’ala bersumpah dengannya

والفجر وليال عشر

“Demi waktu fajar dan demi kesepuluh malam.” (QS. Al-Fajr 1-2)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan kesepuluh malam tersebut dengan kesepuluh hari pertama bulan Zulhijjah.

Tidak lupa salawat beserta salam kita curahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, manusia terbaik yang pernah terlahir di muka bumi, yang mana tutur kata beliau adalah kebenaran, tingkah laku beliau adalah teladan, dan getar hati beliau adalah kebaikan, juga kepada istri-istri beliau, keluarga beliau, sahabat beliau, hingga pengikut beliau yang setia menapaktilasi jejak beliau hingga hari pembalasan.

Allaahu akbar!
Allaahu akbar!
Walillaahil hamd.

Sidang salat id yang berbahagia…

Begitu rindunya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam akan seorang anak yang lahir dari rahim istrinya. Ia senantiasa berdoa

رب هب لي من الصالحين

“Tuhanku, karuniakanlah kepadaku seorang anak yang saleh.”

Berpuluh-puluh tahun lamanya Nabi Ibrahim menunggu, lantas Allah pun mengabulkan permintaannya.

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ

“Kami pun berikan kabar gembira kepadanya berupa lahirnya seorang anak yang penyabar.”

Lahirlah Ismail kecil, anak yang saleh lagi berbakti. Cinta Nabi Ibrahim kepadanya begitu besar, tak terlukiskan…

Kemudian ujian itu datang…

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى

Ketika Ismail berusia pada umur sanggup bersama ayahnya, Ibrahim berkata kepadanya, “Wahai anakku tercinta, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka apa pendapatmu?”

Duhai, sang anak justru menjawab…

قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Ismail berkata, “Wahai ayahanda, lakukanlah apa yang Allah telah perintahkan kepadamu. Insya Allah aku termasuk orang yang sabar.”

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَاإِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا

Tatkala keduanya telah berserah diri, pasrah terhadap perintah Allah, dan Nabi Ibrahim telah membaringkannya di atas pelipisnya, maka Allah pun menyeru, “Wahai Ibrahim, engkau telah membenarkan mimpi itu!”

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam telah membuktikan kesabaran dan ketaatannya sehingga Allah menganulir perintahNya untuk menyembelih Nabi Ismail ‘alaihissalam dan menggantinya dengan seekor kambing yang besar

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

Dan kami tebus ia dengan seekor sesembelihan yang besar. (QS. Ash-Shaffat: 100-107)

Inilah kisah yang menjadi muara pensyariatan kurban hingga hari ini…

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sungguh, di dalam kisah-kisah mereka, kisah-kisah para Nabi, terdapat ibrah-pelajaran, bagi mereka yang berakal.” (QS. Yusuf: 111)

Insya Allah, pada kesempatan yang berbahagia ini, kita akan sejenak memetik mutiara hikmah dan pelajaran dari sebuah kisah yang sangat agung ini.

PELAJARAN PERTAMA: BERSABAR SAAT DIUJI, PERCAYA & YAKIN KEPADA ALLAH

Allah Ta’ala berfirman,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia itu mengira, menyangka, menduga, mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan kami telah beriman sedangkan mereka tidak diuji? (QS. Al-Ankabut: 2)

Kita semua pasti akan diberi ujian dan cobaan oleh Allah, dengan keberadaan dan ketiadaan, kekayaan dan kemiskinan, kenikmatan dan kesedihan, untuk melihat siapakah orang yang mulia di antara kita dan siapakah orang yang hina?

Pepatah Arab mengatakan,

عند الامتحان يكرم المرء أو يهان

“Ketika ujian, akan dilihat apakah seseorang itu mulia atau terhina.”

Bahkan para Nabi adalah orang-orang yang paling besar ujian dan cobaannya!

إن من أشد الناس بلاء الأنبياء ثم الأمثل فالأمثل

“Sesungguhnya di antara manusia yang paling besar cobaannya adalah para Nabi kemudian yang semisal dengan mereka.” (HR. Tirmidzi)

Karena itu, ketika kita ditimpa ujian dan cobaan, bersabarlah! Karena sabar itu berbuah indah. Lihatlah kesabaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS ketika diuji dengan bala-un mubin, ujian yang nyata. Mereka berbaik sangka kepada Allah apa pun keadaannya, patuh, tunduk, pasrah, percaya dan yakin atas ketetapan Allah.

Sering kali kita berkeluh kesah saat ditimpa musibah, saat kehilangan hal yang kita cintai, saat disapa kesedihan, padahal kita tidak tahu bisa jadi itu baik untuk kita. Mungkin Allah ingin mendengar doa kita, mengingatkan kita dari kelalaian, menghapuskan dosa kita, ingin menjadikan kita hamba yang lebih dekat kepada-Nya, menjadi hamba yang lebih kuat, lebih tegar, dan lebih sabar, dalam mengarungi samudera kehidupan!

Sering kali pula, kita tidak mendapatkan apa yang begitu kita inginkan. Kita menginginkan kekayaan, kekuasaan, jabatan, semuanya! Padahal kita tidak tahu bisa jadi hal itu buruk untuk kita. Mungkin ketika kita meraih itu semua kita justru menjadi hamba yang jauh dari-Nya!

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

“Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itulah yang terbaik untuk kalian!”

وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ

“Bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal hal itu buruk bagi kalian!”

وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُون

“Allah mengetahui -mengetahui yang terbaik untuk kita- sedangkan kalian… -sedangkan kita semua…- tidak mengetahui.”(QS.Al-Baqarah: 216)

Allah Ta’ala juga berfirman di dalam sebuah hadis qudsi

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

“Aku sesuai prasangka hamba-Ku terhadapku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lihatlah kuatnya keimanan Hajar, istri Nabi Ibrahim, ketika ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim di tanah yang tandus lagi gersang, kering lagi kerontang, tak ada tumbuh-tumbuhan, bersama putra kecilnya Ismail, ia bersabar sembari berkata,

آلله أمرك بهذا؟ إذا لا يضيعنا!

“Jika ini adalah perintah Allah, maka Allah pasti tidak akan menelantarkan kami!”

Oleh sebab itu, marilah kita selalu berbaik sangka kepada Allah Ta’ala apa pun kondisi yang menimpa kita. Bersabar, berharaplah pahala, dan percaya bahwa apa pun yang Allah telah tetapkan untuk kita, apa pun yang telah Allah takdirkan untuk kita setelah kita berusaha, itulah yang terbaik untuk kita. Percayalah! Al-khair khiiratullah, yang terbaik adalah pilihan Allah Ta’ala.

إن الله إذا أحب قوما ابتلاهم

“Sesungguhnya Allah apabila mencintai seorang hamba, mencintai suatu kaum, maka Allah akan menimpakan ujian kepada mereka.” (HR. Tirmidzi)

PELAJARAN KEDUA: MENINGGALKAN SESUATU KARENA ALLAH

Di dalam pensyariatan kurban, Allah Ta’ala mengajarkan kita untuk berkorban, baik itu hewan ternak, harta, meninggalkan sesuatu yang itu sejatinya kita cintai, karena Allah.

Lihatlah bagaimana ketika Nabi Ibrahim mengorbankan cintanya, anaknya, karena Allah, Allah justru menggantinya dengan ibadah kurban yang menjadi syiar Islam yang terjaga hingga detik ini.

Ketika kita meninggalkan apa yang Allah haramkan, meninggalkan pekerjaan yang syariat larang misalnya, KARENA ALLAH! percayalah.. bahwa Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik.

من ترك شيئا لله عوضه الله خيرا منه

“Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad)

PELAJARAN TERAKHIR: CINTA KEPADA ALLAH DI ATAS SEGALANYA

Ketika cinta Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kepada Nabi Ismail ‘alaihissalam semakin tumbuh dan berbunga, saat itulah Allah Ta’ala menguji cinta kekasihnya, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Apakah cinta Nabi Ibrahim kepada Allah masih di atas segala cinta?

Pada asalnya, mencintai anak dan istri itu sesuatu yang diperbolehkan karena sesuai dengan fitrah manusia.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ

“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan terhadap wanita, anak-anak, perhiasan emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, serta sawah dan ladang. Itulah perhiasan dunia, di sisi Allah ada tempat kembali yang baik, yaitu surga.” (QS. Ali Imran: 14)

Akan tetapi, kapan cinta tersebut menjadi tercela? Ketika cinta tersebut berada di atas kecintaan kita kepada Allah, di atas kecintaan kita kepada Rasulullah! Saat itulah cinta itu menjadi noda…

قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah wahai Muhammad, jika bapak kalian, anak kalian, saudara kalian, istri kalian, keluarga kalian, harta yang kalian kumpulkan, perdagangan yang kalian takutkan ruginya, tempat tinggal yang kalian sukai, lebih kalian cintai dari Allah, rasul-Nya, dan jihad di jalan Allah, maka tunggulah! Sampai Allah mendatangkan keputusanNya, Allah tidak memberi hidayah kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24)

Oleh sebab itu, marilah kita kedepankan cinta Allah di atas segala cinta, mengedepankan rida-Nya di atas segala rida, mengedepankan perintah-Nya di atas segala perintah.

TERAKHIR, kami wasiatkan kepada kaum muslimah, ummahat dan akhawat, untuk menjadi sebaik-baik perhiasan dunia!

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

“Dunia itu perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita… (yang salihah).” HR. Muslim

Lantas bagaimana menjadi wanita yang salihah?

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّ

“Wanita yang salihah itu ialah wanita yang taat, (taat kepada Allah, di antaranya bertauhid: mengesakan ibadah hanya kepada Allah, tidak menyelewengkan ibadah kepada selain-Nya, tidak mendatangi dukun, tidak percaya ramalan atau takhayul, mitos dan anggapan sial, tidak berdoa kepada kuburan, dengan menutup aurat, mengenakan jilbab atau hijab! taat kepada suaminya selama itu bukan maksiat), dan menjaga (dirinya, kehormatan dirinya, harta suaminya), saat suaminya tidak ada.” (QS. An-Nisa: 34)

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا, وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ

“Apabila wanita salat yang lima, (karena salat adalah tiang agama, yang mana meninggalkannya adalah dosa besar: lebih besar dari dosa membunuh, berzina, mencuri, mabuk, dll), puasa Ramadan di bulannya, menjaga kemaluannya, menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia suka.” (HR. Ahmad)

Semoga ummahat dan akhawat sekalian menjadi sebaik perhiasan dunia, sehingga bisa mengalahkan bidadari surga.

Akhir kata, semoga di hari raya ini, kita bisa mengambil pelajaran dari kisah yang diabadikan Allah di dalam Alquran yang sebenarnya masih begitu banyak, sehingga bisa mengamalkannya di dalam keseharian kita, sehingga pula bisa menjadi pemberat amal kebaikan kita di hari kiamat kelak.
Penyusun: Roni Nuryusmansyah

*) Disampaikan dalam khutbah Iduladha 1436 H (24 September 2015), di lapangan sepak bola kompleks PT. TEL, Muara Enim, Sumsel

Dipublikasikan:
Palembang
Ahad malam, 28 Zulhijah 1437 / 25 September 2016 | 20:32
Sepulang dari Babat Banyuasin

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *