Ketika Teknologi Membuat Majelis Ilmu Sepi

Termasuk nikmat bagi penuntut ilmu yang mampu kita rasakan saat ini adalah kemajuan teknologi yang begitu pesatnya.

Jika ulama salaf [terdahulu] melakukan perjalanan satu-dua bulan perjalanan [atau bahkan lebih] untuk mendapatkan satu-dua hadis [atau bahkan lebih], maka kita cukup duduk di depan laptop, atau menatap layar gadget canggih lainnya, searching di google dengan memasukkan keyword yang diinginkan, dapat. Hanya sekian menit.

Jika ulama salaf dahulu rela menjual baju, perabotan rumah, dan segala yang dapat dijual untuk membeli satu-dua kitab, maka kita cukup install/download[1] maktabah syamilah yang memuat puluhan ribu kitab ulama. Hebatnya lagi, tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun.[2]

Jika ulama salaf dahulu menyalin/menulis sebuah kitab memakan waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari, maka kita tinggal ctrl+a, ctrl+s, lalu ctrl+v, alias copy-paste, langsung tersalin tanpa typo [keliru cetak] satu huruf pun.

Jika ulama salaf bergegas mendatangi majelis ilmu, karena takut tiada tempat baginya duduk, maka kita cukup download video ataupun mp3 ulama atau ustadz yang diinginkan lalu dengan santai mendengarkan tanpa perlu berdesak-desakan.

Apakah hal itu tercela? Tentu tidak. Akan tetapi banyak hal yang harus diperhatikan dalam masalah ini. Mungkin kita semua lupa bahwa kemudahan teknologi itu justru terkadang melalaikan kita. Karenanya kita jarang bersentuhan dengan kitab secara langsung. Merasakan nikmatnya membolak-balikkan kertas halaman demi halaman. Mencium aroma khas sebuah kitab. Dan menyingkirkan debu yang berada di atas kitab. Menatap lamat-lamat kata-kata yang ditulis ratusan tahun silam. Ya, kita telah melalaikan metode bersentuhan langsung dengan kitab-kitab para ulama dan ini amat disayangkan.

Karenanya pula kita jarang hadir menghadiri majelis para ulama. Duduk takzim mendengarkan kata demi kata. Menikmati keheningan dan kekhidmatan yang menyelimuti majelis. Meneladani manisnya tutur kata ulama dalam berbicara. Melihat langsung bagaimana ilmu itu benar-benar bisa mengangkat kedudukan seorang hamba di dunia sebelum di akhirat sana. Ya, kita telah melalaikan metode duduk di majelis para ahli ilmu dan ini amat [sangat teramat sekali] disayangkan. Inilah yang akan kita bicarakan.

Urgensi Hadir di Majelis Ilmu
Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berkata, “Pada dasarnya, menuntut ilmu itu dengan cara mendengarkan langsung dari para ulama atau ustadz, duduk bersama mereka, dan mengambil ilmu dari lisan-lisan mereka, bukan belajar otodidak langsung dari kitab-kitab.”[3]

Ini adalah metode dasar dalam menuntut ilmu yang ditempuh oleh para penuntut ilmu sedari dulu hingga sekarang. Alhamdulillah, dakwah ahlus sunnah telah berkembang dengan pesatnya. Bak cendawan di musim penghujan. Di berbagai kota telah kita jumpai pengajian-pengajian yang diisi oleh berbagai ustadz. Sebuah nikmat yang patut kita syukuri. Jika seandainya kajian yang notabene diadakan sekali seminggu saja kita lalaikan, lantas kapankah kita akan duduk mendengarkan langsung ilmu itu dari lisan para ulama?

Sedangkan di pelosok desa yang belum terjamah dakwah, majelis ilmu sangat dinantikan. Penduduknya sangat merindukan bisa duduk bersama para ulama dan ustadz. Sedangkan santri di berbagai pondok pesantren ataupun mahasiswa di berbagai kampus Islam saja masih merasa kurang dan membutuhkan lebih banyak majelis ilmu agar bisa mereka hadiri. Padahal kajian di sana berlangsung setiap hari tiada henti.

Jika kita sedikit merenungi manfaat yang mampu kita dulang saat duduk dalam majelis ilmu, maka akan kita dapati ada banyak sekali. Baik hal itu dalam perkara duniawi maupun ukhrawi. Baik hal itu dalam keutamaan menuntut ilmu secara umum, keutamaan berkumpul bersama orang saleh, dan yang semisalnya.

Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin rahimahullah menyebutkan di antaranya,
1) lebih menyingkat waktu,
2) lebih cepat paham,
3) adanya ikatan antara penuntut ilmu dengan para ulama atau ustadz.[4]

Bahkan Syaikh Bakr Abu Zaid menegaskan pentingnya pergi menghadiri majelis untuk menuntut ilmu. Beliau berkata, “Siapa yang tidak pergi untuk menuntut ilmu, maka dia tidak akan didatangi untuk diambil ilmu darinya.”[5] Hal ini merupakan peringatan bagi yang hanya menyibukkan diri dengan buku tanpa bimbingan dari guru. Terlebih lagi sebagian ulama salaf mengatakan bahwa siapa yang menjadikan buku sebagai gurunya, maka kelirunya lebih banyak daripada benarnya.

Semangat Ulama Salaf dalam Menghadiri Majelis Ilmu
Suatu hal yang kita dapatkan dengan mudah [sering kali] akan hilang juga dengan mudahnya. Seperti itu juga suatu hal yang kita raih dengan bersusah payah [sering kali] melekat kuat dan tak mudah sirna. Buktikan. Mana yang lebih mudah, duduk di depan laptop atau pergi menghadiri majelis ilmu? Lalu mana yang lebih membekas ilmunya? Mungkin ini juga salah satu faktor yang membuat ilmu para ulama salaf lebih ‘membekas’ di dalam hati. Meskipun mereka membaca kitab di bawah cahaya rembulan. Meskipun mereka berada di tengah segala macam keterbatasan.

Jika kita mau menilik sejenak ke masa lampau, maka akan kita dapati betapa semangatnya ulama salaf dalam menghadiri majelis ilmu.

Abul Abbas Ahmad Tsa’lab rahimahullah, seorang ulama nahwu, pernah berkata, “Aku tidak pernah sekalipun kehilangan Ibrahim al-Harbi dalam majelis nahwu atau bahasa selama lima puluh tahun.”[6]

Begitu juga Abul Hasan Al-Karkhi rahimahullah, beliau pernah mengatakan, “Aku senantiasa hadir di majelis Abu Hazim meskipun di hari jum’at saat di mana tidak ada pelajaran. Hal itu kulakukan agar kebiasaanku menghadiri majelis tidaklah putus.”[7]

Lalu hasilnya begitu menakjubkan. Mereka telah meraih derajat yang tinggi dalam bidang keilmuan. Mereka menjadi para ulama dunia yang dikenal sepanjang masa.

Lihatlah betapa dahsyatnya semangat ulama-ulama terdahulu dalam menghadiri majelis ilmu. Bahkan tak asing lagi bagi kita bagaimana dahulu majelis ilmu dihadiri ribuan bahkan puluhan ribu penuntut ilmu! Lalu tanyakan kepada ustadz yang kita kagumi keilmuannya, apakah dahulunya dia adalah penuntut ilmu yang sering melalaikan majelis ilmu atau justru sebaliknya?

Ketika Teknologi Membuat Majelis Ilmu Sepi
Kemudahan berupa teknologi semisal internet dan alat elektronik di era globalisasi ini adalah salahh satu nikmat Allah yang harus kita syukuri. Akan tetapi amat sangat disayangkan jika teknologi yang canggih tersebut justru menjadi sebab [atau kambing hitam] atas sedikitnya penuntut ilmu yang duduk di majelis ilmu. Sebagian mereka berkata, “Ah, mengapa saya harus capek-capek menghadiri majelis ilmu bersama ustadz Fulan? Kan sekarang di internet tersedia begitu banyak permasalahan ilmu agama.” Lupakah kita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyifati majelis ilmu sebagai sebuah taman dari taman-taman surga? Jika sekiranya kita tahu betapa besar manfaat dan keutamaan duduk di majelis ilmu, maka kita akan menghadirinya meski dalam keadaan berdesak-desakan.

Terlebih lagi, tidak semua solusi dalam setiap permasalahan agama kita jumpai di media internet. Misalkan, problematika rumah tangga, masalah dengan mertua, tetangga, rekan kerja, atau permasalahan pribadi lainnya. Dalam kasus serupa, media internet hanya memaparkan beberapa kejadian saja yang terkadang tidaklah sama detailnya dengan yang kita hadapi. Dalam keadaan seperti ini, tentu saja kita harus menemui ustadz untuk memaparkan problem sedetail-detailnya dan meminta solusinya.

Saya tidak mengatakan bahwa menuntut ilmu di internet tidak boleh. Tidak. Bahkan jika teknologi berupa internet itu dijadikan salah satu perantara, pelengkap dalam menuntut ilmu di samping menghadiri majelis ilmu dan mengkaji kitab secara langsung maka tentu itu lebih baik. Akan tetapi, jangan sampai hal tersebut melalaikan kita dari hal lain yang sejatinya lebih urgen, lebih mendasar, dan lebih berkah dalam pencarian ilmu. Belajar melalui media jejaring sosial, semisal facebook, twitter, blog, itu hanyalah pelengkap. Jika mampu menghadiri majelis ilmu dan menelaah kitab ulama langsung, maka lakukanlah karena itu yang lebih utama.

Tidak sepatutnya seorang penuntut ilmu meremehkan duduk di majelis ilmu padahal itulah pondasi awal seorang dalam menuntut ilmu. Bukankah kita tahu bahwa bimbingan guru adalah salah satu sebab suksesnya seseorang dalam menuntut ilmu? Bukankah kita juga tahu bahwa orang yang belajar tanpa guru alias otodidak sering kali jatuh kepada kekeliruan?

Sebagian kita mencari celah untuk bermalas-malasan hadir di majelis ilmu dengan dalih kemudahan yang ditawarkan teknologi. Jangan mengkambinghitamkan teknologi, kawan. Karena inti suatu hal tidak bisa ditinggalkan dengan adanya pelengkap. Mungkinkah kita berhenti membangun suatu rumah hanya karena kita mendapati adanya pagar?

Cukuplah sebuah hadis yang menyebutkan keutamaan dan keberkahan majelis ilmu yang tidak dapat diraih oleh mereka yang ‘hanya’ mencukupkan diri dengan membaca artikel di internet, mendengarkan rekaman kajian, dan selainnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Tidaklah sekelompok orang berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan..
1) ketenangan turun atas mereka,
2) rahmat meliputi mereka,
3) malaikat menaungi mereka,
4) dan Allah menyanjung mereka di tengah para malaikat yang berada di sisi-Nya.”[8]

Saya jadi teringat nasehat kak Erik [seorang alumnus kampus sekaligus sahabat saya] beberapa tahun lalu. Beliau berkata, “Sejatinya yang kita cari di sini bukanlah semata-mata ilmu yang banyak. Akan tetapi keberkahan ilmu itu sendiri.”

Akhir kata, kembali saya mengajak diri pribadi dan pembaca untuk giat menghadiri majelis ilmu di manapun kita berada. Jangan sampai kemudahan yang ditawarkan teknologi menjadi alasan jauhnya kita dari para penuntut ilmu. Sepatutnya kita justru menjadikan teknologi itu sebagai penunjang bersamaan dengan hadir di majelis ilmu. Bukan malah menjadikan teknologi [yang notabene adalah perantara] sebagai tujuan dan meletakkan majelis ilmu [yang merupakan dasar dalam menuntut ilmu] sebagai pelengkap atau ‘selagi sempat’. Karena tujuan teknologi yang memudahkan kita dalam menuntut ilmu baik dari internet maupun selainnya bukanlah untuk memalingkan kita dari para ulama dan penuntut ilmu yang sebenarnya.

Kamis, 27 Shafar 1434 H / 10 Januari 2013 M
Asrama Kampus STDI Imam Syafi’i Jember
Ketika awan mendung mengungkungi langit kota Jember

Disempurnakan hari Ahad, 8 Rabi’ul Awwal 1434 H / 20 Januari 2013 M
Ketika asrama kampusku begitu sepi

Penulis: Roni Nuryusmansyah
Artikel: www.kristalilmu.com

__________
[1] Perpustakaan ini gratis dan bisa didownload langsung dari status resminya: http://shamela.ws.
[2] Panduan al-Maktabah asy-Syamilah, oleh Ust. Ahmad Zainuddin, Lc, hal. 6, Pustaka Ridwana
[3] Syarh Kitab Hilyah Thalib al-Ilmi, oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin, hal. 82, Dar at-Taufiqiyyah li at-Turats – Kairo.
[4] Lihat Kitab al-Ilmi, oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin, hal. 146-147, Dar al-Aqidah – Kairo, dan Syarh Kitab Hilyah Thalib al-Ilmi, oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin, hal. 82, Dar at-Taufiqiyyah li at-Turats – Kairo.
[5] Syarh Kitab Hilyah Thalib al-Ilmi, oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin, hal. 124, Dar at-Taufiqiyyah li at-Turats – Kairo.
[6] Ma’alim fii Thariq Thalab al-Ilmi, oleh Syaikh Abdul Aziz as-Sadhan, hal. 51, Dar al-Qabas li an-Nasyr wa at-Tauzi’ – Riyadh.
[7] Ibid, hal. 52
[8] HR. Muslim, no. 2699, dalam Shahih Muslim, hal. 1110, Dar al-Kutub al-Arabi – Beirut.

 

Comments

  1. By meutya halida

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *