Ketika Haid di Bulan Ramadan

Ketika Haid di Bulan Ramadan

1. Bersedihlah

Karena kesedihan kita karena tak bisa maksimal beribadah seperti mengerjakan salat dan puasa Ramadan adalah bukti keimanan.

Allah Ta’ala berkisah tentang sahabat di perang Tabuk yang tak bisa ikut pergi jihad karena tak ada modal:

تَوَلَّواْ وَّأَعۡيُنُهُمۡ تَفِيضُ مِنَ ٱلدَّمۡعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُواْ مَا يُنفِقُونَ

“Lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena sedih, disebabkan mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan (untuk ikut berperang).”

(QS. At Taubah: 92)

Kesedihan ini akan dicatat sebagai pahala kebaikan oleh karena niat kita sebetulnya ingin beribadah, hanya saja kita terhalang udzur.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan di perang Tabuk bahwa sahabat yang di Madinah pun dapat pahala sebagaimana mereka meski tak ikut berperang.

Alasannya:

حبسهم العذر

“Karena udzur (dalam riwayat lain: sakit) menghalangi mereka.”

(HR. Bukhari)

Sebaliknya, jika kita happy, senang, bahagia, karena bisa makan minum sepuasnya, tak capek salat dan tarawihan, maka ini menunjukkan lemahnya keimanan kita.

2. Meniatkan pahala

Masih berkaitan dengan poin sebelumnya, di dalam Islam niat begitu luar biasa. Seseorang bisa mendapatkan pahala kebaikan meski tak mengerjakannya jika dia berniat mengerjakannya namun terhalang udzur atau karena tidak mampu.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan seseorang yang berilmu tapi tak berharta berniat berinfak sambil berkata:

لو أن لي مالا لعملت بعمل فلان

“Seandainya aku memiliki harta, aku akan benar benar beramal seperti fulan (orang berilmu dan berharta yang berinfak).”

Nabi pun berkomentar:

فهو بنيته فأجرهما سواء

“Dia dengan niatnya, maka pahala keduanya sama.”

(HR. Tirmidzi)

So wanita yang haid tapi berniat kuat: jika dia tidak haid dia akan puasa, salat, tarawihan, dst, maka dia pun dapat pahala yang sama dengan yang mengerjakannya.

Ada juga niat lain yang berpahala.

Mujahid, murid Ibnu Abbas, ketika menafsirkan QS. Adz Dzariyat: 56 tentang hikmah penciptaan kita adalah beribadah, beliau berkata:

إلا لآمرهم وأنهاهم

“Melainkan agar Aku memerintahkan mereka dan melarang mereka.”

(Tafsir Qurthubi)

Jadi, meninggalkan larangan Allah adalah ibadah.

Di antara larangan bagi wanita haid adalah salat dan berpuasa. Ketika wanita haid masuk waktu Maghrib dia meniatkan tak salat Magrib karena meninggalkan larangan Allah, dia berpahala. Ketika wanita haid masuk waktu sahur dia meniatkan tak puasa karena meninggalkan larangan Allah, dia berpahala. Ketika wanita haid masuk waktu tarawih dia meniatkan tak tarawihan karena meninggalkan larangan Allah, dia berpahala.

Syaratnya: niat.

3. Mengerjakan ibadah lainnya

Ibadah bukan hanya salat dan puasa. Akan tetapi ibadah adalah semua yang Allah cinta dan ridai.

Wanita haid bisa membaca Alquran melalui handphone atau mushaf terjemahan (jika berpendapat tak boleh sentuh mushaf), berdzikir, berdoa. Bisa belajar ilmu agama, dengar kajian, baca buku. Bisa berderma, memberi makan orang yang buka puasa, menyiapkan makanan sahur dan berbuka untuk suami dan anak anak, jika jomlo menyiapkan makanan sahur dan berbuka untuk orang tua dan saudara.

Bukankah pintu kebaikan itu banyak jumlahnya?

Semoga biasa menjadi pelipur lara bagi wanita yang haid di bulan Ramadan.

(Penulis banyak mendapat faedah dari ceramah Ust. Nuzul Dzikri hafizhahullah berjudul Sedihnya Wanita Yang Haid di Ramadan, dengan beberapa penambahan)

Roni Nuryusmansyah

@roni_ahnaf

Palembang

16 Ramadan 1441 H

09 Mei 2020 M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *