Ketika Bulan Sya’ban Menyapa

Sya’ban adalah salah satu dari starting twelve bulan-bulan hijriyah. Ia diawali dengan munculnya hilal kedelapan di tahun hijriyah dari ufuk timur, diapit salah satu bulan haram, Rajab, dan bulan penuh berkah, Ramadhan. Sya’ban artinya berpencar. Dinamakan demikian, karena pada bulan tersebut di masa jahiliyah, bangsa Arab berpencar mencari sumber mata air dan berperang memperebutkan harta dan kekuasaan.[1]

Bulan Sya’ban memiliki satu keistimewaan yang tidak dimiliki oleh kesebelas bulan lainnya. Yaitu di bulan inilah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi sallam paling banyak mengerjakan puasa sunnah. Salah satu hadis shahih yang berbicara tentang hal tersebut adalah kisah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Saya tidak pernah mengetahui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan dan saya tidak pernah mengetahui Beliau lebih banyak berpuasa daripada di bulan Sya’ban.”[2]

Bahkan secara khusus, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan malam Nishfu Sya’ban, “Allahu Tabaraka wa Ta’ala turun kepada makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang saling bermusuhan.”[3]

Ini adalah satu-satunya hadits shahih dan diriwayatkan oleh banyak sahabat yang berbicara tentang keutamaan malam Nifshu Sya’ban. Namun, hadits ini hanya menunjukkan keutamaannya saja, bukan menunjukkan anjuran mengkhususkannya dengan berbagai macam amalan ibadah. Karenanya, seorang ulama besar Syafi’iyyah, Imam Suyuthi rahimahullah, berkata, “Memang benar ada riwayat dan atsar marfu’. Ini sebagai dalil (shahih) bahwa bulan Sya’ban adalahbulan yang mulia. Akan tetapi, tidak ada dalil tentang amalan sholat secara khusus dan menyemarakkannya.”[4]

Salah satu butir hikmah disyariatkannya memperbanyak puasa di bulan Sya’ban adalah bahwa padanya amalan akan diangkat kepada Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana dikisahkan oleh seorang sahabat bersama Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu. Suatu hari, Usamah pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, saya tidak melihatmu berpuasa di bulan seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban (karena seringnya). Beliau menjawab, “Di bulan itu, yaitu bulan antara Rajab dan Ramadhan, manusia sering lalai. Di bulan itu, diangkat amal-amal kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalanku diangkat sedangkan aku dalam keadaaan berpuasa.”[5]

Butir hikmah lainnya adalah untuk persiapan bulan Ramadhan, agar hati dan badan siap untuk menyambutnya dengan kesegaran dalam menjalani ketaatan kepada Allah. Terlebih lagi, menghidupkan waktu yang dilalaikan oleh banyak manusia memiliki beberapa faedah, di antaranya menjadikan hati jauh dari riya’, melatih jiwa karena tabiat manusia ingin mengikuti mayoritas manusia, dan melindungi manusia dari bencana dengan ketaatan. [6]

Oleh karena itu, telah jelas bagi kita bahwa satu-satunya amalan sunah yang disyariatkan Islam kepada pemeluknya di bulan Sya’ban hanyalah memperbanyak berpuasa. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita semua hamba-Nya yang senantiasa menghidupkan sunnah Nabi-Nya dan menjauhkan kita dari perbuatan yang tidak ada landasannya.

 

13 Jumadil Akhir 1433 H / 5 Mei 2012 M
Ketika bulan purnama tengah bersinar terang 14% lebih besar dan 30% lebih terang dari biasanya,
Mereka menyebutnya Super moon

 

Penulis: Roni Nuryusmansyah
Artikel: www.kristalilmu.com

__________
[1] Maqayis al-Lughah 3/149, Mu’jam al-Manahi al-Lafzhiyyah 316
[2] HR. Bukhari, 1969, dan Muslim, 782
[3] HR. Ibnu Hibban 5665, dihasankan oleh Syaikh Albani Shahihul Jami’ 783 dan Silsilah Shahihah 1144
[4] al-Amru bi al-Ittiba’, hal. 177-178
[5] HR. An-Nasa-i 4/4201, Ahmad 5/201, dinilai hasan oleh Syaikh Albani rahimahullah dalam kitabnya, Ash-Shahihah 4/1898
[6] Latha-‘iful Ma’arif, hal 235 dan 258

 

Comments

  1. By Aiezh

    Reply

    • By admin

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *