Kapan Waktu Terbaik Untuk Beristigfar?

Istigfar artinya meminta ampunan kepada Allah dan mengakui kesalahan serta kekurangan. Istigfar merupakan ibadah yang dianjurkan bagi seorang muslim setiap saat, sejak bangun tidur sampai tidur lagi. Bahkan di saat kita luang dari kesibukan kita tetap dianjurkan untuk beristigfar, memohon ampun kepada Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai manusia, bertobatlah kalian kepada Allah! Sungguh, aku bertobat kepada-Nya seratus kali dalam sehari.” (HR. Muslim)

Bahkan Ibnu Umar pernah menghitung istigfar Nabi dalam satu majelis seratus kali: Rabbighfirlii wa tub ‘alayya innaka Antat tawwaabul ghafuur. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Duhai, jika Nabi saja yang telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang, yang paling mulia kedudukannya saja beristigfar seratus kali dalam sehari, bahkan dalam satu majelis, maka bagaimana dengan kitayang senantiasa berbuat dosa, pagi, siang, sore, dan malam?

Akan tetapi ada waktu, situasi, dan kondisi yang sangat disyariatkan dan ditekankan, yang merupakan saat terbaik bagi seseorang hamba untuk beristigfar. Di antaranya adalah sebagai berikut:

[1] Ketika melakukan dosa dan maksiat
Hamba yang bermaksiat dianjurkan segera banyak beristigfar. Ia lekas mengakui perbuatan dosanya, dan meminta kepada Allah agar Dia memaafkannya, menghapus noda dosanya, serta menutup aibnya dari pandangan manusia.

Hal inilah yang dipraktikkan oleh para nabi saat mereka terjerumus dalam sebuah dosa. Ketika Nabi Adam dan istrinya, Hawa, bermaksiat kepada Allah, menerjang larangan Allah untuk mendekati pohon terlarang, mereka segera beristigfar: “Wahai Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak memberi rahmat kepada kami, maka duhai kami pastilah termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 23)

Saat Nabi Musa ‘alaihissalam tak sengaja membunuh seorang Qibthi, suku asli Mesir kala itu, ia segera beristigfar: “Wahai Tuhanku, aku telah menzalimi diriku sendiri, mohon ampunilah aku.” (QS. Al-Qashash: 16)

Tatkala Nabi Yunus ‘alaihissalam, Dzun Nun, marah seraya berputus asa mendakwahi kaumnya, dan kemudian berada di perut ikan paus yang gelap gulita, ia pun segera beristigfar, “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, Mahasuci engkau, sungguh aku benar-benar termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)

[2] Setelah melakukan ketaatan
Sebagaimana yang telah kita ketahui, Nabi senantiasa beristigfar sebanyak tiga kali seusai dari salat: Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah…

Saat menunaikan haji pun Allah memerintahkan kita untuk beristigfar. “Kemudian bertolaklah kalian dari tempat bertolaknya orang banyak (yaitu Arafah) dan beristigfarlah kalian.” (QS. Al-Baqarah: 199)

Ketika selepas wudu pun, kita dianjurkan untuk berdoa: Subhanaka Allahumma wabihamdika. Asyhadu an la ilaha illa Anta. Astaghfiruka wa atubu ilaika.

Setelah mendirikan salat malam pun kita ditekankan untuk beristigfar. “Dan orang-orang yang beristigfar di waktu sahur.” (QS. Ali Imran: 17)

Bahkan di akhir dakwah Nabi mengajak manusia ke dalam agama Allah, Allah memerintahkan beliau untuk beristigfar. “Bertasbihlah memuji Tuhanmu dan beristigfarlah kepada-Nya.” (QS. An-Nashr: 3)

Seorang hamba yang diberi petunjuk oleh Allah akan lebih memerhatikan istigfar setelah menunaikan berbagai macam ketaatan. Ia menyadari betul kekurangan mereka dalam menjalankan ketaatan tersebut. Ia sadar bila dipandang dari kemuliaan dan keagungan Allah, ketaatan yang mereka tunaikan belumlah seberapa dibandingkan dengan kenikmatan yang telah diberikan-Nya.

[3] Dalam zikir harian
Doa-doa dalam salat pada umumnya berkutat pada istigfar. Misalnya, pada doa istiftah, doa di antara dua sujud, doa ketika rukuk dan sujud. Bahkan Nabi pernah mengajarkan Abu Bakar saat ia meminta doa yang dibaca saat salat dengan istigfar: Allaahumma innii zholamtu nafsii zhulman katsiiron, walaa yaghfirudz dzunuuba illaa Anta. Faghfirlii maghfirotan min ‘indika. Warhamnii innaka Antal ghafuurur rahiim. (HR. Bukhari dan Muslim)

Saat pagi petang pun di antara zikir yang disyariatkan adalah Sayyidul Istighfar (penghulu istigfar). Siapa yang membacanya pagi hari dengan meyakininya lalu mati pada hari itu sebelum sore hari maka ia termasuk ahli surga. Siapa yang membacanya pada sore hari dengan meyakininya lalu mati pada malam itu sebelum pagi hari maka ia pun termasuk ahli surga. (HR. Bukhari)

Mari kita ikrarkan gerakan istigfar setiap hari, setiap saat. Semoga Allah mewafatkan kita semua dengan lisan yang basah oleh istigfar dan dalam keadaan telah diampuni segala dosa kita oleh-Nya. Amin.

*) Disadur dari buku Ya Allah, Ampuni Aku, karya Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin.

Palembang, 11 Agustus 2016 | 13:47
Astaghfirullah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *