Kapan Kita Harus Berbaik Sangka?

Sebenarnya, berbaik sangka atau husnuzhan kepada Allah ditekankan di setiap keadaan. Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadis qudsi, yang artinya, “Aku sesuai prasangka hamba-Ku terhadap-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Akan tetapi ada saat-saat di mana kita ditekankan untuk berbaik sangka kepada Allah. Di antaranya:

Ketika Hendak Wafat
Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam pernah berpetuah sebelum tiga hari dari kematiannya, “Janganlah seseorang di antara kalian meninggal melainkan dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah.” (HR. Muslim)

Rasulullah pernah masuk menemui seorang pemuda yang tengah berada di penghujung hidupnya. Beliau bertanya, “Bagaimana engkau mendapati dirimu?” Pemuda tersebut menjawab, “Wahai Rasulullah, sungguh aku mengharapkan Allah, akan tetapi aku takut terhadap dosa-dosaku.” Lantas beliau bersabda, “Tidaklah dua hal tersebut berada di hati seorang hamba di saat seperti ini melainkan Allah akan memberikan apa yang ia harapkan dan menjaganya dari apa yang ia takutkan.” (HR. Tirmidzi, dinilai hasan oleh Al-Albani)

Watsilah bin al-Asqa’ pernah menemui Abu Aswad al-Jurasyi yang tengah sakit sebelum wafat. Seusai mengucapkan salam, Watsilah pun duduk di samping Abu Aswad. Watsilah mengambil tangan kanan Abu Aswad dan mengusapkannya ke kedua mata dan wajahnya. Kemudian Watsilah bertanya, “Wahai Abu Aswad, bolehkah aku bertanya satu hal?” “Apa itu?” tanya balik Abu Aswad. “Bagaimana prasangkamu kepada Allah?” tanyanya. Abu Aswad memberikan isyarat dengan kepalanya, maksudnya: baik. Lantas Watsilah berseru, “Bergembiralah, karena aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), ‘Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Maka silakan berprasangka terhadap-Ku sesuai apa yang ia mau.’.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dinilai sahih oleh Al-Albani)

Di dalam kitab Al-Mukhtadharin karya Ibn Abi ad-Dunya, Hatim bin Sulaiman berkata, “Kami masuk menemui Abdul Aziz bin Sulaiman yang tengah bersiap menjemput ajalnya. Aku bertanya, “Bagaimana engkau mendapati dirimu?” Dia menjawab, “Aku merasa diriku akan mati.” Sebagian saudaranya bertanya kepadanya, “Bagaimana keadaanmu saat ini?” Beliau pun menangis, kemudian mengucapkan, “Tidaklah tangisan ini melainkan di atas prasangka baik kepada Allah.” Hatim mengakhiri kisahnya, “Kami tidak beranjak dari sisinya sampai akhirnya ia wafat.”

Ketika Ditimpa Kesulitan dan Kesusahan
Tiga sahabat (di antaranya Ka’ab bin Malik) yang tertinggal dari Rasulullah pada perang Tabuk, kesusahan dan kesempitan yang mereka alami tidak tersingkap kecuali setelah mereka berbaik sangka kepada Tuhan mereka.

Allah Ta’ala mengisahkan (yang artinya), “Sungguh Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin, dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada mereka, dan terhadap tiga orang yang ditinggalkan. Hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun terasa sempit bagi mereka, serta mereka telah menyangka/mengetahui tidak ada tempat lari dari siksa Allah, melainkan kepada-Nya saja, kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 117-118)

Lihatlah ucapan: dan mereka menyangka/mengetahui tidak ada tempat lari dari siksa Allah, melainkan kepada-Nya saja. Ketika mereka berbaik sangka kepada Allah, Allah pun memberikan mereka apa yang mereka sangka.

Ketika Sempitnya Hidup
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang ditimpa kesulitan, kemudian ia mengeluhkannya kepada manusia, maka kesulitan tersebut tidak akan ditutup. Siapa yang ditimpa kesulitan, kemudian ia mengadukannya kepada Allah, maka hampir saja Allah memberikannya rezeki baik cepat ataupun lambat.” (HR. Tirmidzi, dinilai sahih oleh Al-Albani)

Mengadukannya kepada Allah dengan cara yakin dan berbaik sangka Allah akan memberikan jalan keluar dan menghilangkan kesulitan tersebut.

Ketika Dililit Utang
Di antara kisah menakjubkan adalah perkataan Zubair bin Awwam kepada putranya, “Duhai anakku, jika engkau tidak mampu melunasi utangku, maka mintalah kepada penolongku.” Abdullah pun mengisahkan, “Demi Allah, aku tidak tahu siapa yang ayahku maksud, sampai aku bertanya, ‘Siapa penolongmu, wahai Ayah?’.” Dia menjawab, “Allah.” Abdullah melanjutkan, “Demi Allah, tiap kali aku merasa sulit melunasi utang ayahku, aku pun berdoa, ‘Wahai penolong Zubair, tolong lunasilah utangnya.’ Maka Allah pun melunasinya. (HR. Bukhari)

Ketika Berdoa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin doa tersebut akan dikabulkan.” (HR. Tirmidzi).
Jika engkau berdoa kepada Allah, maka agungkanlah rasa harapmu dan berbaik sangka kepadanya.

Ketika Bertobat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, bahwa Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hamba-Ku berbuat sebuah dosa.” Kemudian ia berkata, “Ya Allah, ampuni dosaku.” Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hamba-Ku berbuat dosa, sedangkan dia tahu bahwa dia memiliki Rabb yang bisa mengampuni dosa dan menghukumnya.” Kemudian dia berbuat dosa lagi, lalu berkata, “Wahai Rabb, ampuni dosaku.” Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hamba-Ku berbuat dosa, sedangkan dia tahu bahwa dia memiliki Rabb yang bisa mengampuni dosa dan menghukumnya.” Kemudian dia berbuat dosa lagi, lalu berkata, “Wahai Rabb, ampuni dosaku.” Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hamba-Ku berbuat dosa, sedangkan dia tahu bahwa dia memiliki Rabb yang bisa mengampuni dosa dan menghukumnya. Berbuatlah apa yang engkau mau, karena Aku sudah mengampunimu.” (HR. Muslim)

Maksudnya, selama engkau berbuat dosa dan bertobat (dengan tulus), maka Aku menerima tobatmu meskipun dosa tersebut berulang kali.

Akhir kata, marilah kita selalu berbaik sangka kepada Allah, dengan ucapan yang indah dan perkataan yang baik. Betul, tidak semua yang kita inginkan sekarang kita dapatkan. Benar, kita justru mendapatkan apa yang tidak kita inginkan. Akan tetapi selalulah berbaik sangka kepada Allah, bahwa Allah akan memberikan kepada kita yang terbaik, meskipun mungkin saat ini kita masih belum mengerti hikmah di balik semua ini.

*) Disadur dari artikel حسن الظن بالله
 
Penyusun: Roni Nuryusmansyah

Palembang
Sabtu pagi, 11 Rajab 1438 H / 8 April 2017 M | 06:56
Duhai jiwa, selalulah berbaik sangka kepada-Nya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *