Kala Dakwah Sekadar Retorika

Dewasa ini, nusantara seolah dibanjiri oleh para dai dan penceramah. Mereka bagaikan cendawan di musim penghujan. Tak dapat disangkal, ini adalah sebuah kabar yang menyejukkan, persis semilir angin yang berhembus dari kaki lembah perkampungan. Dari hari ke hari, manusia yang pandai berceramah memang semakin melimpah ruah. Akan tetapi di satu sisi, perkembangan yang begitu signifikan tersebut tidak diimbangi dengan laju kuantitas manusia yang berbuat baik. Timpang.

Apa sebabnya? Usut punya usut, sebagian besar juru dakwah lebih menitikberatkan pada substansi materi kajian semata dan sibuk merangkai prosa yang ‘aduhai’. Tetapi kosong dari keikhlasan, nol dari amal perbuatan. Standar kualitas dai dewasa ini berkisar hanya pada mutu kajian, bukan pada pengamalan si dai terhadap konteks isi dakwah itu sendiri. Ironis, bukan? Juru dakwah boleh-boleh saja nelangsa menatap realita betapa jauhnya masyarakat dari ilmu agama. Namun, seharusnya mereka lebih merasa resah dan gelisah kala mengetahui sedikitnya perhatian kebanyakan mereka untuk mengamalkan ilmu yang mereka punya.

Mereka berlomba-lomba menelurkan karya berlabel best seller, menyusun schedule yang luar biasa padat, berdakwah di sana-sini, akan tetapi begitu memasuki ranah konkret, semuanya begitu paradoks. Entah, segalanya sekejap lenyap seusai turun dari mimbar. Entah, semuanya tertelan hilang selepas rampung sebuah tulisan. Sayang seribu sayang.

Inilah realitanya kala dakwah sekadar retorika. Kala dakwah hanya batu loncatan untuk meraup dunia. Kala dakwah adalah jembatan menuju popularitas saja. Maka fenomena menyakitkan inilah yang terjadi tanpa dinyana. Banyak para dai berdakwah bukan untuk mengangkat kebodohan dari diri sendiri dan orang lain, melainkan untuk menggaet ketenaran dan separuh dunia yang bertabur selaksa kenikmatan tiada tara. Hanya karena harta, seorang penceramah berani keluar dari garis batas, seolah lupa dengan seabrek prinsip dan komitmen yang dahulu terpatri di dalam jiwa.

Alhasil, tulisan-tulisan hanya sebatas wacana. Tak melahirkan sejumput amalpun di dunia nyata. Duhai, jika ketulusan hati hampa nan tiada, kata-kata indah hanyalah barisan aksara acak yang kehilangan makna. Mungkin itu sebabnya, banyak juru dakwah yang tak bisa berbuat banyak di tengah masyarakatnya, tak mampu mengusung perubahan sejati yang sedari awal didengung-dengungkannya. Ilmunya macet di mimbar-mimbar, tersendat di podium-podium.  Mulut berbuih-buih menyuarakan kebenaran, akan tetapi selama hati tak jujur, kata-kata bijakpun menjadi hambar dan hanya sebagai ungkapan penghibur.

Nilai kebenaran begitu mudah diobralkan di atas mimbar, disusun rapi dalam lembaran-lembaran, ketimbang didekatkan pada realitas kehidupan. Banyak para dai yang begitu semangat membela kebenaran dalam keyakinan dan pemahaman namun begitu rapuh kala bersua dengan kemaksiatan dan begitu goyah ketika kemilau dunia tersenyum manja di pelupuk mata. Ke mana idealisme yang dahulu dijunjung tinggi? Di mana prinsip yang dahulu begitu membanggakan?

Bukan. Penulis bukan melarang berdakwah dengan kata-kata yang indah, bersajak layaknya seorang pujangga, puitis seperti pengantin muda. Tidak tentu saja. Akan tetapi, marilah kita mengedepankan keikhlasan di atas segalanya, merajut dakwah dengan suri teladan yang nyata, bukan cuma dongeng belaka. Bukan pula sekadar rangkaian aksara atau retorika yang memesona.

Karena itu sudah seharusnya seorang dai untuk selalu merawat hati dari pelbagai penyakit abstrak nan berbisa, dari karat maksiat dan noda dosa. Selalu memperbarui niat, sebelum-ketika-setelah berdakwah. Tidak hanya asal menyampaikan, tapi juga sepenuh hati, profesional sebagai dai. Mengupayakan berbagai jalan kebaikan penuh hikmah untuk membuat manusia tertarik dengan dakwah. Harus selalu, selalu, dan selalu memangkas segala cinta dunia dan popularitas tiap kali tumbuh menggulma. Memprioritaskan iman dan takwa, serta kulitas di atas kuantitas. Bersenandung dalam bait doa di penghujung malam, berharap dilapangkan hati manusia seluas telaga agar mampu menyerap cahaya kebenaran dari dakwahnya.

Percayalah, jika dakwah beralaskan ketulusan hati, benar-benar mengharapkan kebaikan dan perbaikan, maka cepat atau lambat akan terlihat manis buahnya. Jika hati disinari cahaya keikhlasan, sekecil apapun amal akan berbuah besar. Mungkin tidak saat ini, tapi kelak kita pasti akan melihat buah keikhlasan itu. Hei, ternyata tak sekadar melihat, tapi juga menikmatinya!

Karenanya, penulis mengusung sebuah formula:

 S = [ I kuadrat 2 positif dikali ( 3i + 2H + 5s ) kuadrat 2 negatif ] dibagi 10

S : Sukses dalam berdakwah, sebuah rumus untuk mengetahui persentase kesuksesan dakwah;

I : Ikhlas, kadar bersih hati yang telah dikurangi riya dan sum’ah, pangkat dua menunjukkan betapa urgennya kadar keikhlasan dalam berdakwah, jika ikhlas nol, maka kesuksesan pun akan nol.

3i : Ilmu, mencakup 3 hal: ilmu tentang apa yang didakwahkan, tentang metode dalam berdakwah, dan tentang kondisi objek dakwah itu sendiri. Dan konsekuensi ilmu adalah ‘amal’;

2H = Yaitu ‘hikmah’ dalam berdakwah dan berdakwah dengan ‘hati’;

5s = Sunah, berdakwah sesuai dengan metode yang sejalan dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum.

Kesuksesan dalam berdakwah tidaklah diukur dari banyaknya objek dakwah yang duduk takzim menyimak kajian. Bukankah ada di antara Nabi yang berdakwah sekian tahun namun pengikutnya hanya segelintir saja? Dunia, popularitas, pujian, banyaknya pendengar, itu hanyalah bonus semata. Terkadang dai yang tak ikhlas pun mereguhnya sebagai ujian dari Allah Ta’ala.

Karena itu, waspadalah jika keikhlasan kian pudar. Karena lenyapnya nilai ikhlas berarti pahala menjadi tak ubahnya debu-debu yang berterbangan. Jika dakwah tak di atas ilmu, maka kehancuran tak lagi semu. Jika dakwah tak didasari dengan hikmah, maka manusia akan lari pontang-panting dan tunggang-langgang tanpa bersusah payah. Jika dakwah tidak diamalkan di dunia nyata, hanya akan mengundang prahara. Mengenai poin terakhir ini, Allah Ta’ala telah berfirman di dalam surat Al-Baqarah ayat 44 yang artinya,

“Mengapa kalian menyuruh orang lain mengerjakan kebaikan dan kalian melupakan dirimu sendiri, sedangkan kalian membaca kitab (Taurat)? Apakah kalian tidak berpikir?”

Di dalam Ash-Shahihain, diceritakan bahwa para penduduk neraka keheranan menyaksikan pemandangan yang memiris hati. Seorang yang dikenal sebagai juru dakwah di dunia justru berada di dasar neraka dengan kondisi yang mengenaskan. Ia berputar-putar dengan ususnya yang terburai bagaikan keledai yang tawaf mengelilingi mesin penggilingan. Saat penduduk neraka bertanya bukankah dirinya adalah seorang juru dakwah, lantas mengapa azab yang pedih itu menimpa dirinya, iapun menjawab,

بَلَى قَدْ كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ وَأَنْهَاكُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيه

“Benar. Dahulu aku menyuruh kalian kepada kebaikan namun aku tidak mengerjakannya. Dan saat aku melarang kalian dari keburukan, aku justru mengerjakannya.”

Candleman. Manusia lilin. Mungkin itulah julukan yang tepat untuk disematkan kepada manusia yang menyinari orang lain dengan dakwahnya, namun justru membakar dirinya sendiri. Ia berdiri di depan pintu surga, menyeru manusia agar masuk ke dalamnya. Akan tetapi sesampai mereka di dalam kenikmatan surga, ia justru mencemplungkan diri ke dalam panasnya api neraka, membiarkan jasad dilalap api yang menyala-nyala. Hal itu disebabkan dakwah sekadar retorika, tak berbuah menjadi amalan nyata.

Mengenai berdakwah dengan hati, di dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala dikisahkan bahwa suatu ketika, seorang juru dakwah mendatangi Muhammad bin Wasi’, seorang tabiin yang terkemuka. Ia mengadukan ihwal objek dakwahnya yang tak tersentuh dengan dakwahnya. Tiada berbekas wejangannya. Tiada khusyuk hati mendengarnya. Tiada bergetar kulit dan tiada menetes air mata. Maka Muhammad bin Wasi’ pun berkata, “Wahai Fulan, aku melihat hal itu terjadi bukan karena mereka, melainkan disebabkan dirimu sendiri. Sungguh, nasihat itu apabila ia keluar dari hati, maka akan mudah masuk ke dalam hati.” Sungguh, sebuah petuah yang mengagumkan!

Akhir kata, semoga Allah menjadikan kita (terutama penulis) sebagai dai yang berdakwah dengan cahaya keikhlasan…, diiringi amal kebaikan…, dengan hati…., yaitu hati sejingga senja, yang tulus menyemai benih cinta karena Allah dan memangkas pucuk tunasnya pun karena-Nya…. Allahumma Aamiin….

Penulis: Roni Nuryusmansyah

*) Artikel ini adalah naskah yang penulis ikutsertakan dalam lomba menulis yang diadakan oleh divisi Majalah Dinding dan Perpustakaan BEM STDI Imam Syafi’i Jember Mei 2013, dengan dewan juri Ust. Nurkholis Kurdian, Lc, M.Tf.

Alhamdulillah, dengan izin Allah, penulis mendapat juara ketiga dan mendapatkan hadiah berupa kitab Al-Irsyad Ash-Shahih Al-I’tiqad, karya Syaikh Shalih Al-Fauzan -hafizhahullah-

Comments

  1. By fandi

    Reply

    • Reply

  2. By Erik Ben Shareef

    Reply

    • Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *