Jika Engkau Mampu, Bermaksiatlah!

Manusia tercipta di atas dasar bernama “kesalahan” dan dihiasi dengan sifat bernama “lupa”. Jadi, tak mengherankan jika manusia terkadang melupakan dirinya sehingga ia terjatuh dalam gelapnya palung dosa dan tenggelam dalam derasnya arus maksiat. Berbuat aniaya dan bodoh adalah sifat dasar manusia. Kedua sifat yang sangat rentan mampu menyeret seorang hamba menerjang rambu-rambu syariat yang telah Allah Ta’ala tetapkan.

Akan tetapi, hal itu bukan merupakan alasan bagi seorang insan untuk sengaja mencicipi kenikmatan semu bernama maksiat. Karena demikian sama halnya dengan seseorang yang sengaja memasukkan dirinya ke dalam api neraka. Na’udzubillahi min dzalik. Manusia tetap dituntut untuk berusaha menjauhi segala bentuk larangan Allah Ta’ala. Manusia tetap dituntut untuk bertaubat ketika dia terjerumus dalam kemaksiatan.

Banyak hal yang perlu kita renungkan sebelum kita hendak bermaksiat. Bagaimana jika malaikat maut menjemput kita ketika kita tengah asyik bergelimang dosa? Bagaimana jika seseorang mengetahui kemaksiatan yang kita perbuat lalu menyebarluaskannya? Bagaimana jika pada hari kiamat malaikat akan melemparkan kita untuk menjadi bahan bakar neraka? Salah satu perenungan dalam hal ini adalah sebuah dialog yang terjadi antara seorang pemuda dan seorang ulama bernama Ibrahim bin Adham rahimahullah. Simaklah kisah bertabur hikmah berikut ini..

***

Suatu ketika, seorang pemuda datang menemui Ibrahim bin Adham rahimahullah.

Pemuda itu berkata, “Wahai Abu Ishaq! Sesungguhnya aku senantiasa lalai akan diriku (sehingga aku senantiasa bermaksiat-pent). Maka perlihatkanlah bagiku sesuatu yang mampu membebaskan dan menyelamatkan diriku dari dosa-dosa tersebut!”

Ibrahim berkata, “Jika engkau mampu melakukan lima perkara berikut, maka kemaksiatan tidak akan mencelakakanmu.”

“Beritahukan kepadaku tentang lima perkara tersebut, wahai Abu Ishaq!”

“Pertama, apabila engkau hendak memaksiati Allah, maka janganlah makan sesuatupun dari rezeki-Nya.”

“Lalu dari mana saya bisa mendapatkan makanan? Bukankah segala sesuatu di atas bumi adalah rezeki-Nya?”

“Apakah pantas engkau memakan rezeki-Nya sedangkan engkau memaksiati-Nya?”

“Tidak. Beritahukanlah kepadaku perkara kedua!”

“Apabila engkau hendak memaksiati Allah, maka janganlah tinggal di atas bumi-Nya.”

“Ini perkara yang lebih berat. Di mana saya akan tinggal?”

“Wahai saudara, apakah pantas engkau tinggal di atas bumi-Nya sedangkan engkau memaksiati-Nya?”

“Tidak. Beritahukanlah kepadaku perkara ketiga!”

“Apabila engkau hendak memaksiati Allah dan engkau tetap ingin memakan rezeki-Nya dan tinggal di atas bumi-Nya, maka carilah tempat yang tidak dapat Allah lihat sehingga engkau dapat bermaksiat di tempat tersebut.”

“Bagaimana mungkin terdapat tempat seperti itu. Bukankah Allah Maha Melihat, bahkan rahasia-rahasia yang tersimpan?”

“Wahai saudara, apakah pantas engkau memakan rezeki-Nya, engkau tinggal di atas bumi-Nya, lalu engkau memaksiati-Nya, sedangkan Dia melihatmu dan mengetahui apa yang engkau tampakkan?”

“Tidak. Katakanlah perkara yang keempat!”

“Apabila malaikat maut mendatangimu untuk mencabut nyawamu, maka katakanlah kepadanya, “tangguhkan kematianku sampai aku bertaubat dengan taubat nasuha dan beramal saleh!”

“Wahai Ibrahim, mana mungkin malaikat maut akan memenuhi permintaanku?”

“Wahai saudara, jika engkau sudah meyakini bahwa engkau tak akan kuasa menunda dan mengundurkan datangnya kematianmu, lalu bagaimana engkau bisa selamat darinya?”

“Beritahukanlah kepadaku perkara terakhir!”

“Apabila malaikat Zabaniyah datang di hari kiamat untuk memasukkanmu ke dalam neraka, maka janganlah pergi bersama mereka.”

“Sesungguhnya mereka tidak akan membiarkan aku menolak keinginan mereka. Wahai Ibrahim, cukup! Sudah cukup! Aku memohon ampun kepada Allah. Aku bertaubat kepada-Nya.”

Sejak itu, pemuda tersebut giat melakukan berbagai macam ritual ibadah dan menjauhi kemaksiatan. Ia setia dengan taubatnya sampai akhirnya dia meninggal dunia.

***

Kisah di atas diterjemahkan dari artikel berjudul al-Ajwibah al-Maskanah dalam kitab Arabiyah Baina Yadaik jilid 3.

 

Semilir angin pagi di asrama STDIIS
5 Syawwal 1432 H / 4 September 2011 M

Penerjemah       : Roni Nuryusmansyah –Mahasiswa STDIIS Jember-
Artikel                  : kristalilmu.com

Comments

  1. By rizky ekasman

    Reply

    • By Roni Nuryusmansyah -admin-

      Reply

  2. Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *