Jejak Kepulanganku (Part. III)

Ombak menari-nari di hamparan biru selat Sunda. Bergelombang lantaran diamnya diusik oleh kapal feri putih yang kami tumpangi. Membelah tenangnya lautan menjadi gemuruh yang membuat ikan-ikan lari ke dasar. Jauh di pelupuk mata hanyalah warna biru. Luas. Seolah ia adalah ujung dunia yang tak bertepi. Pelabuhan merak semakin menjauh, lalu menghilang. Kapal-kapal besar melintang bak raksasa. Berlayar mengarungi samudera. Jantung perniagaan dalam dunia pelayaran ini begitu mempesona. Menyajikan pemandangan yang tak dapat kami saksikan di kota asal kami ataupun provinsi tempat kami tinggal. Indah sekali. Ketika itu, baterai HP-ku mati. Karena itu aku tidak bisa mengabadikan fenomena alam ini untuk ku tunjukkan ke hadapan keluargaku.

Namun kami heran, mengapa penumpang bus eksekutif Putra Remaja lebih memilih tidur siang di dalam bus ketimbang melihat panorama alam yang menawan langsung dari atas kapal. Ternyata kami tahu jawabannya setelah berada di deck kapal. Sumatera telah menyambut kami dengan hawa panasnya yang begitu menggelora. Terik sang surya membiaskan cahayanya, membakar air laut sehingga uap-uapnya menciptakan udara yang sangat tak bersahabat. Pengap. Terlebih lagi penumpang berdesak-desakan memenuhi setiap ruang di dalam kapal. Bahkan ada yang duduk di depan pintu WC yang bising tak tertahankan. Menyedihkan.

Kami segera menuju musholla setelah sebelumnya mengambil wudhu’. Kami pun segera menjama’ sholat dan menqoshornya. Setelah itu, kami berinisiatif untuk beristirahat di dalam masjid seperti penumpang-penumpang lainnya yang padat mengisi ruang kosong musholla itu. Ada yang sekedar berbaring dan ada yang telah tertidur. Lelah adalah suatu kata yang dapat mendeskripsikan raut wajah-wajah mereka. Tak berapa lama, kami dikejutkan oleh suara petugas yang meminta kami agar jangan istirahat di dalam masjid. Sebagian menggerutu. Kami akhirnya memilih bergabung bersama penumpang bus, beristirahat di dalam bus. Hanya bisa menatap laut dari kaca jendela bus dan ventilasi ruang bawah kapal. Samar-samar..

Aku mulai mengantuk. Ku coba meminjam MP3 Dhika untuk mendengarkan kajian ilmu syar’i. Namun tetap jua tak mampu mengusir rasa kantukku yang kian hebat. Teringat, saat aku merebahkan badanku di atas kasur ruang tamu ponpes Bukhori. Setelah sebelumnya kami bertemu dengan seorang pengajar muda di masjid ponpes tersebut yang menyambut kami dengan hangat. Lalu ia mengantarkan kami ke ruang tamu, ruangan yang kami nantikan sejak tadi. Di sana terdapat orang tua dari seorang santri dan anaknya yang sangat antusias untuk mengobrol bersama kami. Terlebih lagi setelah mengetahui bahwa kami belajar di STDIIS Jember. Bapak tua tersebut menginginkan anaknya kelak dapat kuliah juga di Jember. Akhirnya setelah asyik berbincang-bincang dengan bapak dan anaknya tersebut, kami dapat melampiaskan keletihan sejak safar semalam di atas pembaringan ini.

Aku pun terbangun. Ku lihat Hidayat juga tengah terjaga. Sedangkan Dhika masih dibelai letih bersama lelapnya. Aku dan Hidayat akhirnya mencoba keluar untuk mencari makan. Dhika yang telah kami ajak menolak dalam keadaan setengah tidur. Kami berdua pun beranjak keluar gerbang. Sampailah kami di sebuah warung bakso dan mie ayam. Kami pun memesan bakso. Ukurannya sangat besar. Cukup untuk mengganjal perut kami hingga senja hari. Ketika kami kembali, terlihat beberapa anak-anak kecil berlari menuju masjid, menenteng buku tulisnya dengan tergesa-gesa. Ternyata ada sebuah kajian ilmu di masjid Ponpes Imam Bukhari itu.

Aku dan Hidayat juga tak mau ketinggalan. Kami berdua langsung menuju masjid. Duduk berdiam di salah satu taman-taman surga, menjadi tamu agung Allah di antara rumah-rumahNya. Sayap malaikat menaungi, memberi ketenangan. Tentu saja mayoritas yang duduk di dalam masjid itu anak-anak kecil. Sesak. Mereka ada yang bermain, ada yang mendengarkan. Ada yang mengganggu temannya, ada yang ngobrol sambil ketawa. Namanya juga anak-anak. Pemandangan yang biasa dapat dijumpai di sekolah-sekolah sederajat.

Di mana pun ilmu itu disampaikan, kepada siapapun ilmu untuk diperdengarkan, sangatlah mulia. Sang ustadz menjelaskan dengan gaya bahasa sesederhana mungkin agar mudah dipahami. Tekad yang kuat, ikhtiar, doa, dan tawakal adalah empat pilar yang ditanamkan dalam jiwa anak-anak itu menjelang tergelincirnya matahari melalui majelis ilmu hari itu. Pembenahan diri sejak dini, sejak warna hijau masih halus, sangat diprioritaskan dalam mendidik para penerus panji dakwah Islam ini, meskipun hanya di sudut masjid, di tepi kota.

Dhika ikut bergabung bersama kami, duduk mendengar kalam Ilahi. Menanti gema adzan Dzuhur itu terdengar syahdu. Akhirnya, selepas sholat Dzuhur, kami menemui ustadz Sa’id dan bergegas menuju ke rumah Beliau. Kami pun berjalan, menyusuri jalan-jalan yang kental dengan suasana pedesaan. Hingga kami tiba di suatu komplek perumahan, dan tibalah kami di rumah ustadz. Di dalamnya kami berbincang-bincang, bersenda-gurau, dan makan siang tentunya. Dengan lahapnya kami menyantap soto yang telah kami beli di warung makan yang berada tepat di depan gerbang Ponpes.

Matahari kian meninggi. Waktu keberangkatan bus pun kian mendekat. Akhirnya kami pamit untuk pulang dan bersegera menaiki bus berlaqob tiga perempat itu lagi. Ketika sedang asyik mengarahkan pandangan ke luar bus, HP-ku berdering. Kami diminta agar cepat menuju tempat yang kami kunjungi subuh tadi. Karena bus akan segera berangkat. Kami pun panik. Ketika roda bus itu berhenti tepat di terminal yang kami datangi pagi tadi, kami langsung tancap gas. Berlari menembus keramaian, mengabaikan hawa panas kota bernama Surakarta tempo dulu itu.

Akhirnya, kami pun sampai. Dengan nafas yang terengah-engah, kami tercengang melihat tempat itu telah berevolusi. Ramai penuh sesak. Dua bus besar terparkir rapi. Tanah gersang yang kami lihat subuh tadi telah menjadi tempat persinggahan yang menarik. Berjajar indah warung-warung makan. Menawarkan makanan dan minuman berkelas tinggi. Menggoda siapa saja untuk merogoh dompetnya. Kami segera masuk ke dalam ruangan dan memperlihatkan tiket kami. Serta merta beberapa orang berbadan besar mengangkut barang-barang kami dan memasukkannya ke dalam box.

Ternyata tak seperti yang kami duga. Keberangkatan bus tak secepat yang kami sangka. Terpaksa kami harus menunggu, melihat mesin bus dipanaskan. Akhirnya kami diminta masuk ke dalam bus dan bergeraklah bus tersebut menjauhi tempat muaranya. Bus berjalan meniti jalan-jalan besar kota orang-orang besar itu. Tak heran jika Solo dahulu kala adalah ibu kota nusantara. Masih tersirat bekas keadidayaan kota budaya ini. Lambat laun kami pun memasuki kota-kota lain. Boyolali, Salatiga, Ungaran, menjadi kota pemandu perjalanan pulang kami yang pertama ini setelah sebelumnya merantau di timur Jawa, mencoba mendalami ilmu agama.

Malam pun tiba. Gulitanya nampak mencekam, menyelimuti jiwa-jiwa yang kesepian. Kami pun berhenti di sebuah rumah makan berkelas di daerah Semarang. Berjajar mobil-mobil mewah di tempat parkir. Makanan yang ditawarkan pun dapat membuat kita terjangkiti penyakit “kanker”, alias kantong kering. Seluruh penumpang pun makan dengan santainya. Kami yang tengah kebingungan didatangi oleh seorang lelaki yang juga penumpang bus yang sama dengan kami. Ia seolah menangkap apa yang sedang kami pikirkan. Ia mengabarkan bahwa makan di sini gratis jika kita menunjukkan tiket bus. –maklum mas, wong dusun-. Kami pun mendatangi tempat yang ia tunjukkan. Ternyata di sana memang sudah disiapkan meja makan ala prancis yang dikhususkan oleh kami, penumpang bus Putra Remaja. Sosis berukuran lumayan besar mengawali perjalanan pulang kami malam itu.

Rasa kantuk pun tak kuasa kami tahan. Terlebih lagi perut kami telah diisi semangkuk nasi. Akhirnya kami pun tertidur walaupun aku harus akui bahwa tidur dalam perjalanan itu tidaklah nyenyak. Benang-benang mentari mulai merambat langit sebelah timur. Setelah gelapnya malam telah sirna, kami pun menyadari bahwa kami telah melalui sebagian besar kota di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Itu artinya, ibu kota Indonesia menyambut kami di ujung jalan.

Bekasi mulai terlihat. Jalan tol yang kami lalui itu mulai memamerkan keindahannya. Bangunan-bangunan besar sekali-kali memalingkan wajah kami untuk menatapnya. Kesibukan mulai memenuhi tiap sudut jalan. Kemacetan kota yang selalu menjadi alasan atas ketidakdisiplinan waktu sekarang tampak nyata. Bus-bus kecil berwarna jeruk itu berisi para penumpang yang berdesak-desakan mencari udara untuk bernafas. Situasi yang amat ironis untuk disaksikan asap-asap pabrik perindustrian.

Akhirnya, bangunan-bangunan megah nan mempesona menebarkan auranya. Ia mencakar-cakar langit, mencoba merobek atmosfer bumi. Itulah bumi Batavia, Jakarta. Sebuah nama yang menghiasi buku-buku pengetahuan umum sebagai ibu kota Negara Indonesia. Gedung-gedung bertingkat itu hadir dengan arsitektur yang memukau. Kepadatan lalu lintas yang semakin menjadi-jadi mempertajam suasana kota besar itu. Walau hanya berupa jalan bebas hambatan, ia tetap menyajikan pemandangan apik nan unik yang begitu menarik. Sebuah galeri indah untuk secercah cerita, tentang jejak-jejak kepulangan sang pengembara asal Sumatera.

Selepas dari kota Betawi itu, Tangerang mengantarkan kami menuju kota Serang yang menjadi ibu kota provinsi Banten. Akhirnya, kami pun tiba di pelabuhan Merak. Tempat yang tak asing bagi para perantau tanah Jawa karena ialah garis putih start lintas darat pulau Jawa. Bus yang kami tumpangi pun masuk ke lambung kapal. Beberapa orang berseragam menertibkan mobil-mobil yang masuk agar teratur. Kami pun mengucapkan selamat tinggal untuk pulau Jawa. walau hanya berpisah tak lebih dari 50 hari saja.

Sekitar dua jam, pelabuhan Bakauheni pun menunjukkan moncongnya. Pertanda pulau Sumatera mengulurkan tangannya, menyambut ketiga pengembara kecil, pulang menuju kampung halamannya. Seakan tak mau kalah, pulau Sumatera memaparkan pemandangan yang luar biasa. Baru beberapa saat kami keluar dari gerbang pelabuhan, pesona alam membuat mata tak kuasa untuk berkedip walau sekejap saja. Bus yang kami tumpangi melewati jalan yang tak biasa dilalui lantaran adanya perbaikan jalan. Ia menyusuri jalan di tepi barat menghadap lautan. Bukit-bukit yang tinggi membuat kami dapat menatap luasnya hamparan biru. Sisi kanan kami bukit-bukit hijau, sedangkan sisi kanan kami lautan berkilau. Amboi, indah nian.

Cahaya mulai redup. Pekatnya gulita mulai membaur, berbias kelam, menutupi provinsi Lampung kala itu. Rasa kantuk mulai menyerangku. Selimut berwarna-warni dengan motif kotak-kotak kecil itu ku biarkan menutupi tubuhku. Membiarkan anganku melayang dalam dunia bernama mimpi. Namun, tetap saja, aku tak bisa tidur nyenyak. Dini hari aku terbangun setelah berkali-kali aku terbangun dari tidurku sebelumnya. Ku lemparkan pandanganku keluar jendela bus. Taman indah yang luas di tepi jalan itu sungguh tak asing bagiku. Bibirku mulai membaca tulisan besar terpahat di batu berwarna coklat tua kehitaman itu, “Kayu Agung”. Itu adalah kota kelahiranku, sebuah kota kecil yang juga merupakan ibu kota kabupaten Ogan Ilir. Berarti, 2 jam lagi aku akan tiba di kota tempat aku tumbuh menjalani sendi-sendi kehidupan, Palembang.

Jalan-jalan besar yang mulai ku kenal berangsur-angsur membawa kami menuju pusat kota Palembang. Walau fajar belumlah terbangun dari pembaringan, namun semua tampak jelas bagiku. Sebuah kota yang aku tinggalkan selama hamper setahun itu kini berada tepat di hadapanku. Memutar galeri memori masa lalu, kepingan putih yang membuatku tersenyum maupun kepingan hitam yang mengiris hati.

Roda bus itu pun berhenti. Aku dan teman-temanku pun turun dari bus. Aku melihat sosok laki-laki yang tak mungkin aku lupakan menyambutku. Ayah. Aku mulai membawa barang-barang masuk menuju mobil angkutan pakjo yang disewa ayahku. Aku pun berpisah bersama kedua temanku. Aku duduk tepat di sebelah kiri pak supir. Aku dikejutkan karena adikku yang waktu itu duduk di kelas 2 SD ternyata bersembunyi menungguku di dalam sana. Aku pun tersenyum. Ku melongok ke belakang, adikku yang duduk di bangku SMA juga ikut menjemputku.

Mobil kecil itu dengan tergopoh-gopoh menelusuri jalan-jalan sempit menjauh dari pusat kota. Pemandangan yang sangat ku kenal, walau wajahnya sedikit berubah. Sebagian berubah lebih cerah, sebagian lagi menjadi lebih tua. Jalan-jalan yang aku kenal sejak kecil. Akhirnya, mobil itu memasuki sebuah lorong, dan berhenti tepat di hadapan sebuah rumah. Sebuah rumah; rumah ayah dan ibuku, rumahku untuk jangka waktu yang lama ini, juga rumah untuk adik-adikku. Ibu dan adik perempuanku menungguku di depan pintu. Keluargaku kini berkumpul secara utuh. Sungguh sebuah pagi yang mengharukan. Izinkan aku untuk tersenyum bahagia, kawan..

 

 

 

Ketika bias mentari menembus jendela kamarku..

Rumahku tercinta..

11 Rajab 1432 H / 15 Juni 2011 M

Abu Ahnaf Roni Nuryusmansyah al-Falimbany

Kristal Kecil, Sang Pengembara..

-akhir dari trilogi jejak kepulanganku-

Comments

  1. By Roni Nuryusmansyah -admin-

    Reply

  2. By abobakr

    Reply

    • By Roni Nuryusmansyah -admin-

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *