Jejak Kepulanganku (Part. I)

Nafasku terengah. Terus berusaha melangkahkan kaki. Terdengar keras sandal hitamku menghentakkan bumi. Berlari menuju sebuah tempat di tepi jalan berdebu. Melewati banyak orang dengan tas-tas besar mereka. Menatap kami dengan aneh. Terkadang beberapa orang menawarkan kami untuk masuk ke dalam bus-bus besar. Tapi kami menolaknya dengan halus. Kami terus berlari mengabaikan rasa lelah dan hawa panas di bawah teriknya panas mentari. Yang menaungi kota Solo.

Sesekali aku memotivasi kedua temanku untuk lebih cepat berlari. Karena ada sesuatu yang menunggu kami di ujung sana. Kembali menelusuri pinggir jalan. Tak terasa keringatku mulai bercucuran. Membasahi jaket hijauku yang begitu akrab menutupi tubuhku. Sejenak kami berhenti untuk mengatur nafas. Teringat saat sebelum perjalanan panjang ini dimulai

“Di mana dompetku?”, keluhku. “Loh, masa’ kamu lupa Ron ngeletakinnya di mana?”, tanya temanku, kak Ridho, seorang pemuda berparas tampan asal Sunda, tepatnya Tasikmalaya. “Duh, hilang….”, dengan khawatir aku sedikit berteriak kecil. Aku memang terkadang suka lupa terhadap hal-hal yang kecil. Padahal aku masih muda, belum genap 19 tahun. Ini bukan kali pertama aku kewalahan mencari sesuatu. Terkadang kartu ATM Mandiri biruku pun lupa ku letakkan di mana. Kali ini, giliran dompet hitamku yang berisi banyak uang sebagai ongkos kepulanganku menuju kota Palembang yang kurang lebih 10 bulan lamanya aku tinggalkan.

Aku masih sibuk mencari si persegi kecil itu. Dari tas ransel merahku sampai lemari besarku pun telah ku obrak-abrik. Tapi aku tak jua menemukannya. Dengan wajah cemas, aku kembali memeriksa meja di mana terakhir aku ingat pernah meletakkannya beberapa menit yang lalu. Tapi tetap sia-sia. Aku pun keluar kamar menuju kamar III. Aku baru saja mengikat kardus besarku di sana. Teman-temanku yang melihatku celingak-celinguk mencari sesuatu pun bertanya, “Cari apa, Ron?”. “Dompetku..”, jawabku pelan. “Ingat-ingat dulu, di mana terakhir kamu letakin”, saran mereka. “Ia, saya sedang berusaha mengingatnya”, balasku.

Setelah mendapati hasil nihil, aku kembali ke kamarku di kamar I. Benang-benang mentari di kemuning senja semakin membaur. Aku menatap kardus yang telah ku ikat kuat. Dengan pikiran kacau, aku meminta gunting lalu memotong tali yang mendekap kardus bekas itu. Lalu aku mencoba melepaskan isolasi besar yang telah menempel erat. “Jangan terburu-buru”, pesan Kak Ridho. Sreett.. Kardus pun terbuka. Betapa kecewanya diriku melihat upayaku tak membuahkan hasil.

“Kak Ridho, tolong ia dilem dan diikat lagi?”, pintaku. “Ia”, balas Kak Ridho dengan tawa kecil. Aku pun menyerahkan isolasi besar, gunting, dan tali rapia merah itu kepadanya. Aku pun berusaha mencari dompetku lagi, karena ba’da maghrib kami harus berangkat menuju terminal Tawang Alun, kota Jember. Makin banyak temanku yang membantuku mencarinya. Bahkan dosenku yang kebetulan ingin menemuiku pun turut membantuku.

“Udah diperiksa koper ini belum?”, tanya seorang temanku. Entah mengapa dari tadi aku mengabaikannya. Karena rasanya tidak mungkin aku memasukkan dompet ke dalam koper yang telah ku kunci tersebut. Mengikuti nasehat tersebut, aku pun membuka koper tersebut dengan pasrah. Alhamdulillah. Dompet itu berbaring istirahat di atas tumpukan majalah-majalahku di dalam koper biru itu. Aku pun tertawa kecil sambil menggaruk-garuk kepala. “Udah ketemu, hehe”, kataku polos.

Setelah berkumandangnya adzan maghrib, aku dibantu teman-temanku membawa barang-barangku menuju masjid. Setelah sholat maghrib, aku bersama beberapa teman kami yang juga ingin mengadakan safar pada malam itu langsung beranjak untuk menjama’ sholat ‘Isya’. Setelah itu, kami menuju angkutan umum yang telah kami pesan. Setelah menyusun barang, kami pun segera duduk di dalamnya. Aku menempati posisi pojok untuk menjaga tumpukan barang agar tidak terjatuh.

Setelah kami meninggalkan kampus tercinta, kami berhenti di tepi jalan untuk menjemput seorang teman kami, kak Faqih, yang juga kebetulan mau mudik ke Solo bersama istri dan anaknya, Ibrahim. Ia adalah adik kandung dari dosen kami, Ustadz Suhuf Subhan yang berasal dari Brebes. Setelah kurang lebih seperempat jam, kami tiba di Terminal Tawang Alun. Saya dan kedua teman saya, Hidayatullah dan Dhika, segera mengeluarkan barang-barang dari dalam mobil. Dosen kami yang juga berasal dari Palembang, al-Ustadz Sa’id Yai, turut ikut dalam perjalanan tersebut untuk menemui istri Beliau di Ma’had Imam Bukhori Solo.

Kami pun membawa barang-barang tersebut mendekati bus Akas yang melewati kota Solo. Kami dibantu petugas bus tersebut dan supir angkutan umum yang kami pesan tadi akhirnya selesai memasukkan semua barang di tempat penyimpanan barang di sisi kanan bus. Lalu kami pun memasuki bus tersebut dan mencari kursi kosong untuk kami duduki. Kak Faqih dan istrinya duduk di bagian tengah sebelah kanan. Hidayat dan Dhika duduk di bagian belakang sebelah kanan. Saya dan ustadz Sa’id, dosen saya, memilih duduk di bagian belakang sebelah kiri.

Akhirnya, setelah beberapa menit, bus tersebut pun berjalan. Saya dan ustadz Sa’id pun berbincang-bincang. Ustadz juga sempat menanyakan siapa pemilik nomor yang tiba-tiba mengirim SMS perpisahan kepada Beliau. Saya juga bertanya tentang jawaban-jawaban pada tes masuk syari’ah pada pagi hari tadi. Aku sesekali melongok ke belakang sebelah kanan untuk melihat Hidayat dan Dhika yang juga asyik berbincang-bincang.

Setengah jam pun berlalu. Beberapa saat setelah kami membayar uang sebesar Rp. 65.000,- kepada petugas dengan tujuan akhir kota Solo, tiba-tiba keluar asap dari atas bus ke dalam. Sumber asap putih itu berasal dari celah di dekat televisi. Beberapa penumpang mulai terlihat panik. Sebagian dari mereka berdiri dan meminta turun. Petugas segera mengamankan dan menenangkan para penumpang serta mengatakan bahwa tidak akan terjadi apa-apa.

Namun, asap putih itu semakin banyak dan semakin tebal. Sehingga penumpang pun berlari ke belakang. Bus pun akhirnya berhenti dan sebagian besar penumpang turun dari dalam bus. Aku dan Dhika pun turun. Karena aku berpikiran asap itu beracun atau membius para penumpang, sebagaimana film barat yang dulu pernah aku saksikan. Bodohnya aku. Beberapa menit kami menunggu petugas memperbaiki sumber keluarnya asap. Akhirnya, petugas pun turun dan menyuruh kami masuk karena kondisi telah aman. Kami pun masuk dengan penuh kekhawatiran ke dalam bus tersebut.

Aku pun kembali duduk di samping ustadz Sa’id yang tidak beranjak dari tempat duduknya. Aku pun melihat Hidayat juga tidak meninggalkan tempat duduknya.  Aku agak sedikit malu dengan ustadz karena ikut turun dari dalam bus. Suasana pun semakin tenang karena tidak terlihat gejala akan terulang lagi kejadian tadi. Malam semakin larut. Tibalah kami di Terminal Probolinggo. Sebuah kota di Jawa Timur, tepi Selat Madura, menuju kota Pasuruan, Sidoarjo, dan Surabaya.

Berbagai macam pedagang asongan dengan barang dagangannya yang beranekaragam masuk berbondong-bondong ke dalam bus kami. Tentu saja, yang menawarkan makanan dan minuman memegang klasemen teratas dalam hal mayoritas. Mulai dari berbagai macam makanan khas daerah sampai minuman berelektrolit pun disuguhkan kepada penumpang yang mulai terlihat lelah. Hanya saja, saya tidak membeli apapun karena saya memang tidak lapar. Masih teringat betapa lezatnya sate kambing sebagai menu makanan penutup kami sore tadi. Ada juga yang menawarkan topi, peci, koran bacaan, dan lain sebagainya.

Bukan hanya pedagang asongan yang berbondong-bondong masuk, namun para penumpang asal Probolinggo yang ingin melakukan perjalanan menuju kota-kota di Jawa Tengah, seperti kota Solo dan Yogyakarta pun masuk ke dalam bus tersebut. Ketika saya tengah hanyut dalam dunia maya melalui layar HP Nokia 2700 classic-ku dan ustadz Sa’id sedang tertunduk menyandarkan kepalanya kepada kursi di depan, kami dikejutkan dengan teriak seorang perempuan berjilbab, “Ayah..!! Dompetku, Yah..!!”.

Spontan, di saat keramaian yang penuh sesak tersebut, penumpang panik. Seorang bapak berkepala gundul, segera mengikatkan tangannya di leher seorang pedagang topi yang dicurigai sebagai pencopet tersebut. “Kamu copet, ia?!”, bentak bapak dari perempuan tersebut. “Tidak Pak!! Periksa aja saya!!”, sambil memberontak. Bapak tersebut pun memukulnya. Si penjual topi balik meronta dari dekapan bapak tersebut. “Ini dompetnya Pak, jatuh di tempat saya”, kata ustadz Sa’id. Bapak itu pun mencoba mengambilnya, lalu ustadz pun menyerahkannya. Si penjual topi pun dengan cepat turun keluar bus. Petugas bus pun datang. Meminta penjelasan terhadap kejadian yang berlangsung tepat di sampingku itu.

Diketahui dari penjelasan perempuan dan bapaknya yang duduk tepat di sampingku itu bahwa seorang ibu memberitahu kepada perempuan tersebut bahwa tas yang berada dalam dekapannya dibuka oleh seseorang. Mendengar hal tersebut, ia langsung memeriksa tasnya dan dia tidak mendapati dompetnya yang semestinya ada di dalamnya. Lalu ia pun berteriak memberitahukan bahwa dompetnya dicopet kepada ayahnya yang berjalan tepat di depannya. Si penjual topi yang juga pelaku dalam pencopetan ini menyelipkan dompet di tangannya yang ia sandarkan di kursi penumpang agar tidak ketahuan. Tapi teriakan tersebut membuatnya terkejut sehingga dompet tersebut pun terpaksa ia jatuhkan dan tepat di hadapan ustadz Sa’id.

Walau pelaku gagal ditangkap, tapi bapak tersebut bersyukur karena tidak ada sesuatupun yang hilang dari dompetnya. Bapak tersebut menasehati anaknya yang duduk termenung melihat jalan melalui jendela disamping kanannya. Lalu saya, ustadz Sa’id, bapak itu beserta petugas bus itu membahas tentang pencopetan yang marak terjadi. Petugas tersebut mengatakan bahwa terminal di Probolinggo memang terkenal angker karena banyaknya pencopetan yang terjadi di terminal ini. Mungkin saja si pencopet tadi telah mengintai anak bapak itu sejak menunggu bus di terminal tadi…
(DAPYBMOQQZPWOTMBYPWXDLZQ)

Nafasku terengah. Terus berusaha melangkahkan kaki. Terdengar keras sandal hitamku menghentakkan bumi. Berlari menuju sebuah tempat di tepi jalan berdebu. Melewati banyak orang dengan tas-tas besar mereka. Menatap kami dengan aneh. Terkadang beberapa orang menawarkan kami untuk masuk ke dalam bus-bus besar. Tapi kami menolaknya dengan halus. Kami terus berlari mengabaikan rasa lelah dan hawa panas di bawah teriknya panas mentari. Yang menaungi kota Solo.

Sesekali aku memotivasi kedua temanku untuk lebih cepat berlari. Karena ada sesuatu yang menunggu kami di ujung sana. Kembali menelusuri pinggir jalan. Tak terasa keringatku mulai bercucuran. Membasahi jaket hijauku yang begitu akrab menutupi tubuhku. Sejenak kami berhenti untuk mengatur nafas. Teringat saat sebelum perjalanan panjang ini dimulai

“Di mana dompetku?”, keluhku. “Loh, masa’ kamu lupa Ron ngeletakinnya di mana?”, Tanya temanku, kak Ridho. Seorang pemuda berparas tampan asal Sunda, tepatnya Tasikmalaya. “Duh, hilang….”, dengan khawatir aku sedikit berteriak kecil. Aku memang terkadang suka lupa terhadap hal-hal yang kecil. Padahal aku masih muda, belum genap 19 tahun. Ini bukan kali pertama aku kewalahan mencari sesuatu. Terkadang kartu ATM Mandiri biruku pun lupa ku letakkan di mana. Kali ini, giliran dompet hitamku yang berisi banyak uang sebagai ongkos kepulanganku menuju kota Palembang yang kurang lebih 10 bulan lamanya aku tinggalkan.

Aku masih sibuk mencari si persegi kecil itu. Dari tas ransel merahku sampai lemari besarku pun telah ku obrak-abrik. Tapi aku tak jua menemukannya. Dengan wajah cemas, aku kembali memeriksa meja di mana terakhir aku ingat pernah meletakkannya beberapa menit yang lalu. Tapi tetap sia-sia. Aku pun keluar kamar menuju kamar III. Aku baru saja mengikat kardus besarku di sana. Teman-temanku yang melihatku celingak-celinguk mencari sesuatu pun bertanya, “Cari apa, Ron?”. “Dompetku..”, jawabku pelan. “Ingat-ingat dulu, di mana terakhir antum letakin”, saran mereka. “Iah, ana sedang berusaha mengingatnya”, balasku.

Setelah mendapati hasil nihil, aku kembali ke kamarku di kamar I. Benang-benang mentari di kemuning senja semakin membaur. Aku menatap kardus yang telah ku ikat kuat. Dengan pikiran kacau, aku meminta gunting lalu memotong tali yang mendekap kardus bekas itu. Lalu aku mencoba melepaskan isolasi besar yang telah menempel erat. “Jangan terburu-buru”, pesan Kak Ridho. Sreett.. Kardus pun terbuka. Betapa kecewanya diriku melihat upayaku tak membuahkan hasil.

“Kak Ridho, tolong iah dilem dan diikat lagi?”, pintaku. “Iah”, balas Kak Ridho dengan tawa kecil. Aku pun menyerahkan isolasi besar, gunting, dan tali rapia merah itu kepadanya. Aku pun berusaha mencari dompetku lagi, karena ba’da maghrib kami harus berangkat menuju terminal Tawang Alun, kota Jember. Makin banyak temanku yang membantuku mencarinya. Bahkan dosenku yang kebetulan ingin menemuiku pun turut membantuku.

“Udah antum periksa koper ini belum?”, tanya seorang temanku. Entah mengapa dari tadi aku mengabaikannya. Karena rasanya tidak mungkin aku memasukkan dompet ke dalam koper yang telah ku kunci tersebut. Mengikuti nasehat tersebut, aku pun membuka koper tersebut dengan pasrah. Alhamdulillah. Dompet itu berbaring istirahat di atas tumpukan majalah-majalahku di dalam koper biru itu. Aku pun tertawa kecil sambil menggaruk-garuk kepala. “Udah ketemu, hehe”, kataku polos.

Setelah berkumandangnya adzan maghrib, aku dibantu teman-temanku membawa barang-barangku menuju masjid. Setelah sholat maghrib, aku bersama beberapa teman kami yang juga ingin mengadakan safar pada malam itu langsung beranjak untuk menjama’ sholat ‘Isya’. Setelah itu, kami menuju angkutan umum yang telah kami pesan. Setelah menyusun barang, kami pun segera duduk di dalamnya. Aku menempati posisi pojok untuk menjaga tumpukan barang agar tidak terjatuh.

Setelah kami meninggalkan kampus tercinta, kami berhenti di tepi jalan untuk menjemput seorang teman kami, kak Faqih, yang juga kebetulan mau mudik ke Solo bersama istri dan anaknya, Ibrahim. Ia adalah adik kandung dari dosen kami, Ustadz Suhuf Subhan yang berasal dari Brebes. Setelah kurang lebih seperempat jam, kami tiba di Terminal Tawang Alun. Saya dan kedua teman saya, Hidayatullah dan Dhika, segera mengeluarkan barang-barang dari dalam mobil. Dosen kami yang juga berasal dari Palembang, al-Ustadz Sa’id Yai Ardiansyah, Lc, turut ikut dalam perjalanan tersebut untuk menemui istri Beliau di Ma’had Imam Bukhori di Solo.

Kami pun membawa barang-barang tersebut mendekati bus Akas yang melewati kota Solo. Kami dibantu petugas bus tersebut dan supir angkutan umum yang kami pesan tadi akhirnya selesai memasukkan semua barang di tempat penyimpanan barang di sisi kanan bus. Lalu kami pun memasuki bus tersebut dan mencari kursi kosong untuk kami duduki. Kak Faqih dan istrinya duduk di bagian tengah sebelah kanan. Hidayat dan Dhika duduk di bagian belakang sebelah kanan. Saya dan ustadz Sa’id, dosen saya, memilih duduk di bagian belakang sebelah kiri.

Akhirnya, setelah beberapa menit, bus tersebut pun berjalan. Saya dan ustadz Sa’id pun berbincang-bincang. Ustadz juga sempat menanyakan siapa pemilik nomor yang tiba-tiba mengirim SMS perpisahan kepada Beliau. Saya juga bertanya tentang jawaban-jawaban pada tes masuk syari’ah pada pagi hari tadi. Aku sesekali melongok ke belakang sebelah kanan untuk melihat Hidayat dan Dhika yang juga asyik berbincang-bincang.

Setengah jam pun berlalu. Beberapa saat setelah kami membayar uang sebesar Rp. 65.000,- kepada petugas dengan tujuan akhir kota Solo, tiba-tiba keluar asap dari atas bus ke dalam. Sumber asap putih itu berasal dari celah di dekat televisi. Beberapa penumpang mulai terlihat panik. Sebagian dari mereka berdiri dan meminta turun. Petugas segera mengamankan dan menenangkan para penumpang serta mengatakan bahwa tidak akan terjadi apa-apa.

Namun, asap putih itu semakin banyak dan semakin tebal. Sehingga penumpang pun berlari ke belakang. Bus pun akhirnya berhenti dan sebagian besar penumpang turun dari dalam bus. Aku dan Dhika pun turun. Karena aku berpikiran asap itu beracun atau membius para penumpang, sebagaimana film barat yang dulu pernah aku saksikan. Bodohnya aku. Beberapa menit kami menunggu petugas memperbaiki sumber keluarnya asap. Akhirnya, petugas pun turun dan menyuruh kami masuk karena kondisi telah aman. Kami pun masuk dengan penuh kekhawatiran ke dalam bus tersebut.

Aku pun kembali duduk di samping ustadz Sa’id yang tidak beranjak dari tempat duduknya. Aku pun melihat Hidayat juga tidak meninggalkan tempat duduknya.  Aku agak sedikit malu dengan ustadz karena ikut turun dari dalam bus. Suasana pun semakin tenang karena tidak terlihat gejala akan terulang lagi kejadian tadi. Malam semakin larut. Tibalah kami di Terminal Probolinggo. Sebuah kota di Jawa Timur, tepi Selat Madura, menuju kota Pasuruan, Sidoarjo, dan Surabaya.

Berbagai macam pedagang asongan dengan barang dagangannya yang beranekaragam masuk berbondong-bondong ke dalam bus kami. Tentu saja, yang menawarkan makanan dan minuman memegang klasemen teratas dalam hal mayoritas. Mulai dari berbagai macam makanan khas daerah sampai minuman berelektrolit pun disuguhkan kepada penumpang yang mulai terlihat lelah. Hanya saja, saya tidak membeli apapun karena saya memang tidak lapar. Masih teringat betapa lezatnya sate kambing sebagai menu makanan penutup kami sore tadi. Ada juga yang menawarkan topi, peci, koran bacaan, dan lain sebagainya.

Bukan hanya pedagang asongan yang berbondong-bondong masuk, namun para penumpang asal Probolinggo yang ingin melakukan perjalanan menuju kota-kota di Jawa Tengah, seperti kota Solo dan Yogyakarta pun masuk ke dalam bus tersebut. Ketika saya tengah hanyut dalam dunia maya melalui layar HP Nokia 2700 classic-ku dan ustadz Sa’id sedang tertunduk menyandarkan kepalanya kepada kursi di depan, kami dikejutkan dengan teriak seorang perempuan berjilbab; “Ayah..!! Dompetku, Yah..!!”.

Spontan, di saat keramaian yang penuh sesak tersebut, penumpang panik. Seorang bapak berkepala gundul, segera mengikatkan tangannya di leher seorang pedagang topi yang dicurigai sebagai pencopet tersebut. “Kamu copet, iah?!”, bentak bapak dari perempuan tersebut. “Tidak Pak!! Periksa aja saya!!”, sambil memberontak. Bapak tersebut pun memukulnya. Si penjual topi balik meronta dari dekapan bapak tersebut. “Ini dompetnya Pak, jatuh di tempat saya”, kata ustadz Sa’id. Bapak itu pun mencoba mengambilnya, lalu ustadz pun menyerahkannya. Si penjual topi pun dengan cepat turun keluar bus. Petugas bus pun datang. Meminta penjelasan terhadap kejadian yang berlangsung tepat di sampingku itu.

Diketahui dari penjelasan perempuan dan bapaknya yang duduk tepat di sampingku itu bahwa seorang ibu memberitahu kepada perempuan tersebut bahwa tas yang berada dalam dekapannya dibuka oleh seseorang. Mendengar hal tersebut, ia langsung memeriksa tasnya dan dia tidak mendapati dompetnya yang semestinya ada di dalamnya. Lalu ia pun berteriak memberitahukan bahwa dompetnya dicopet kepada ayahnya yang berjalan tepat di depannya. Si penjual topi yang juga pelaku dalam pencopetan ini menyelipkan dompet di tangannya yang ia sandarkan di kursi penumpang agar tidak ketahuan. Tapi teriakan tersebut membuatnya terkejut sehingga dompet tersebut pun terpaksa ia jatuhkan dan tepat di hadapan ustadz Sa’id.

Walau pelaku gagal ditangkap, tapi bapak tersebut bersyukur karena tidak ada sesuatupun yang hilang dari dompetnya. Bapak tersebut menasehati anaknya yang duduk termenung melihat jalan melalui jendela disamping kanannya. Lalu saya, ustadz Sa’id, bapak itu beserta petugas bus itu membahas tentang pencopetan yang marak terjadi. Petugas tersebut mengatakan bahwa terminal di Probolinggo memang terkenal angker karena banyaknya pencopetan yang terjadi di terminal ini. Mungkin saja si pencopet tadi telah mengintai anak bapak itu sejak menunggu bus di terminal tadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *