Jangan Lupa Diri!

Di antara banyak jenis lupa, jenis kelupaan yang satu ini mungkin yang paling banyak terabaikan. Karena manusia memang mudah terjebak oleh status, kedudukan, tugas, dan obsesi hidup. Tugas-tugas yang diemban manusia sendiri, kadang sering kehilangan arah dan tujuan, karena terperangkap dalam jebakan obsesi dan posisi. Tegasnya begini. Seorang guru misalnya, bertugas mengajar. Tapi ia bisa saja kehilangan arah dalam memberikan pengajaran, ketika berjumpa dengan murid-murid yang nakal, bandel dan sama sekali tidak menghormatinya. Akhirnya, kerepotannya menjaga diri dan kehormatannya, kesibukannya menuntut si murid untuk segera berubah menghormati dan memujanya, membuat ia lupa diri, tak ingat lagi bahwa tugas utamanya adalah mengajar!

Itu sama halnya dengan calon pejabat atau pemimpin yang mengumbar janji saat berkampanye, dan saat sudah terpilih menjadi pejabat atau pemimpin, lupa akan segala janjinya.

Jenis-Jenis Lupa Diri
Ada banyak jenis lupa diri. Yang pertama adalah menyuruh orang lain berbuat baik dan melupakan diri sendiri.

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)-mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat). Maka tidakkah kamu berpikir…” (QS. Al-Baqarah:  44)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menggambarkan orang yang suka menyuruh orang berbuat baik, sementara dirinya sendiri tidak melakukannya, seperti lilin yang menerangi sekitar, tapi tubuh sendiri lumer terbakar. Itu adalah sosok manusia yang sungguh merugi. Orang lain bisa mengambil manfaat bagi dirinya, tapi diri sendiri tak mampu meraih manfaat apa-apa.

Jenis lupa diri yang kedua adalah kebiasaan menggunjing dan mengurusi segala kekurangan dan kelemahan orang lain, tapi lupa dengan kekurangan diri sendiri. Ini termasuk jenis lupa diri yang berbahaya. Karena akan banyak orang yang akan menjadi sasaran buruk sangka, kecaman, atau pandangan remeh dari orang yang sudah mengidap kebiasaan seperti itu. Orang seperti ini akan memandang dirinya begitu hebat, sementara orang lain justru menganggapnya tak memiliki apa-apa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sungguh beruntung orang yang disibukkan oleh kekurangannya sendiri sehingga tidak sempat memikirkan kekurangan orang lain.”[1]

Pepatah Arab menyebutkan,
“Janganlah terlalu memperhatikan sejumput rumput di mata temanmu, sementara bongkah kayu di matamu tidak kelihatan.”

Dalam bahasa kita, dikenal peribahasa yang serupa, “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak.”

Untuk jenis lupa diri ini, Allah memberi peringatan,
“Janganlah kalian menganggap suci diri kalian sendiri. Allah lebih mengetahu siapa yang paling bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

Di antara jenis lupa diri yang satu ini, ada yang disebut ghurur.

Ghurur adalah kecenderungan jiwa untuk mengikuti hawa nafsu dan hal yang disukai watak dasarnya, karena faktor syubhat dan tipuan dari setan.

Siapa saja yang meyakini bahwa dirinya berada dalam kebaikan dunia dan akhirat, karena unsur syubhat juga buruk, dan dia dalam posisi tertipu. Kebanyakan orang toh juga menganggap diri mereka dalam kebaikan, meski mereka keliru. Dengan demikian, kebanyakan orang tertipu, terkena penyakit ghurur. Kondisi penyakit ghurur pada diri mereka juga berbeda-beda, tidak sama pula tingkatannya. Terkadang, penyakit ghurur itu pada salah seorang di antara mereka, terlihat lebih kuat dan lebih menonjol dibandingkan yang lain.[2]

Ghurur adalah salah satu penyakit jiwa amat jarang sekali dapat dipisahkan secara totalitas keberadaannya dari kondisi kejiwaan manusia. Bahkan, penyakit yang satu ini tidak dapat dipisahkan dari penyakit takabur, ujub, ria serta sumah. Bahkan masing-masing dari penyakit tersebut bisa dikatakan sebagai sumber dari penyakit yang satu ini. Seperti tanah di mana segala macam tetumbuhan berkembang dan seperti air keruh yang mengaliri tanah tersebut.

Tujuannya, di sini kita hendak mengingatkan sebuah bencana lain, yaitu ghurur, yang biasa secara spesifik menghinggapi para ulama. Karena iblis memiliki godaan halus yang amat berbahaya bagi para ulama. Hanya saja, para Imam memang berupaya mencabik-cabik tirai godaan itu pada diri iblis yang terlaknat. Mereka terus berupaya menghancurkan pagar godaan itu. Sehingga, sesuatu yang sebenarnya hendak disembunyikan oleh iblis, justru terlihat amat jelas sekali.

Ibnul Jauzi rahimahullah menuturkan, “Ada sekelompok orang yang memiliki cita-cita hebat, lalu berhasil memperoleh banyak ilmu dari Al-Qur’an, hadis, fiqih, sastra, dan yang lainnya. Lalu datanglah iblis dengan godaan yang amat halus. Ia memperlihatkan sosok mereka di hadapan mereka sendiri sebagai orang-orang hebat, dengan segala yang telah mereka pahami dan mereka ajarkan kepada orang lain. Di antara mereka ada yang digoda dengan diingatkan segala kelelahannya saat menuntut ilmu. ‘Sampai kapan engkau akan kelelahan seperti ini?’ Lalu diperlihatkan kepadanya pelbagai kelezatan dunia. Lalu dikatakan kembali, ‘Sampai kapan engkau terus-terusan lelah seperti itu? Cobalah istirahatkan tubuhmu dari kerja keras yang banyak itu. Biarkan jiwamu memenuhi hasratnya terlebih dahulu. Kalaupun ia tergelincir, ilmu yang ada padamu dapat menolak datangnya siksa.’ Lalu diperlihatkan kepadanya keutamaan para ulama. Kalau si hamba berhasil ditundukkan dan menerima godaan itu, iapun akan binasa.

Terkadang iblis mengelabuhi manusia yang mapan dalam ilmu dan amalnya, pada sisi lain. Orang ini digoda dengan sikap takabur terhadap ilmunya, dengan sifat hasad terhadap saingannya, dengan sikap riya untuk mencari kekuasaan. Terkadang iblis memperlihatkan kepadanya bahwa apa yang dia lakukan adalah hak sekaligus kewajibannya. Terkadang ambisi itu diperkuat dalam hatinya, sehingga ia tidak sudi meninggalkannya, meskipun ia tahu bahwa itu keliru.

Para ulama yang sempurna biasanya selamat dari godaan iblis yang bersifat terang-terangan, maka ia diberi godaan yang halus dengan dikatakan, ‘Sungguh aku tidak pernah mendapatkan orang seperti Anda. Aku sama sekali tidak bisa keluar masuk menggodamu.’ Bila ia merasa tentram dengan ucapan iblis tersebut, ia akan binasa karena sifat ujub. Kalau ia berhasil selamat dari godaan itu, iapun akan selamat.

As-Sarri As-Saqthi menjelaskan, ‘Kalau ada seorang lelaki memasuki sebuah kebun yang berisi segala hasil ciptaan Allah berupa pepohonan, di atasnya juga terdapat segala ciptaan Allah berupa pelbagai jenis burung, lalu seekor burung berbicara dengan bahasanya, ‘Hai, wali Allah.’ Dan ia merasa senang dengan ucapan tersebut, maka ia sudah menjadi tawanan mereka. Hanya Allah Yang Maha Memberi Petunjuk, tidak ada yang berhak diibadahi secara benar melainkan Dia.”[3]

Pemimpin mereka yang terkena penyakit ghurur, komandan, sekaligus pembawa panji mereka menuju neraka adalah iblis. Iblis juga tertipu oleh dirinya sendiri karena ia merasa diciptakan dari tanah liat. Ia membuat sebuah analogi rusak sehingga melahirkan sebuah hasil ilmiah yang rusak juga. Ia menentang perintah itu dan bermaksiat kepada Rabbul ‘Alamin. Ia berkata, “Aku lebih baik darinya, karena aku diciptakan dari api sementara ia diciptakan dari tanah liat.” (QS. Al-A’raf: 112)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Ucapan iblis laknatullah ‘alaih ‘Aku lebih baik darinya’, adalah alasan-alasan iblis, dan itu lebih besar dari dosanya sendiri. Karena seolah-olah ia enggan taat kepada Allah karena menurutnya yang lebih utama tidak layak bersujud kepada yang kurang keutamaannya. Artinya, ‘Aku lebih baik, bagaimana bisa disuruh kepada Adam.’ Kemudian ia menjelaskan bahwa ia lebih baik karena diciptakan dari api. Api itu lebih mulia daripada sesuatu yang diciptakan dari tanah. Makhluk laknat itu memandang asal dari unsurnya, tanpa memandang pemuliaan dan pengagungan dari Allah Ta’ala. Yakni bahwa Allah Ta’ala menciptakan Adam dengan tangannya sendiri, meniupkan roh kepadanya. Iblis telah membuat sebuah analogi yang rusak untuk menentang nas firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Maka bersujudlah kalian kepadanya.” (QS. Al-Hijr: 29)

Ia mengambil sikap yang ganjil di tengah kalangan malaikat dengan enggan bersujud. Oleh sebab itu, ia dicampakkan dari rahmat Allah, yakni diputuskan harapannya untuk mendapatkan rahmat. Iblis laknatullah ‘alaih keliru dalam membuat analogi dan klami bahwa api itu lebih mulia daripada tanah.

Juga, karena tanah itu memiliki karakter kuat, penyabar, kalem dan teliti. Karena tanah adalah tempat bercocok tanam, tempat tumbuh dan tempat perbaikan. Sementara api memiliki karakter membakar, merusak, dan terburu-buru. Oleh sebab itu iblis sendiri berkhianat terhadap unsur dirinya. Sementara Adam ‘alaihissalam mengambil manfaat dari unsur dirinya untuk kembali kepada Allah Ta’ala, pasrah, bertawakal, tunduk dan berserah diri terhadap perintah-Nya, mengakui kesalahan dan bertaubat serta memohon ampunan.”[4]

Salah seorang ulama menjelaskan, “Sesungguhnya segala yang tersisa dari masa lalu menjadi pelajaran, dan segala yang berakhir dari sebelumnya menjadi peringatan. Orang yang bahagia adalah orang yang tidak tertipu oleh rasa tamak dan tidak cenderung kepada tipu daya. Orang yang selalu mengingat mati pasti akan lupa berangan-angan. Sementara orang yang panjang angan-angannya pasti akan lupa beramal, lengah terhadap datangnya ajal.”

Kata al-ghurur disebutkan dengan lafal kata mubalaghah karena banyak terjadi.[5]

Kaidah amalan menurut para ulama adalah bahwa yang dinilai bukan hanya amalnya, tetapi pada penyucian amal tersebut dari noda yang mengotorinya. Itu berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Allah menciptakan hidup dan mati, untuk menguji kalian, siapakah di antara kalian yang terbaik amalannya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Jenis lupa diri yang lain, ketika seseorang memiliki jabatan dan kedudukan tertentu, sibuk mengejar target-target khusus selama mengemban jabatan tersebut, sehingga melupakan tugas-tugas pokok yang harus diembannya dalam rumah tangga misalnya. Lupa kewajiban sebagai ayah, sebagai suami, bahkan sebagai makhluk sosial tingkat rendah yang harus berinteraksi dengan para tetangga.

Atau mungkin bahkan melupakan tugas-tugas dalam mengemban jabatannya sendiri, karena sibuk mengejar target-target keduniaan. Dan jenis yang satu ini justru menjadi penyakit kebanyakan orang yang mengejar posisi dan jabatan. Di mana yang menjadi tujuan mereka pada umumnya bukan sosok prestasi atau jabatan tersebut, tapi peluang dan fasilitas yang akan diperoleh saat memangku jabatan itulah yang menjadi sasaran utamanya. Anda bisa bayangkan, seandainya untuk memangku jabatan sebagai gubernur, menteri atau presiden misalnya, seseorang disyaratkan untuk justru mengorbankan sebagian hartanya, tidak boleh memanfaatkan kesempatan itu untuk membuka peluang bisnis, harus berjuang demi orang banyak, sementara ia hanya menerima gaji kecil, bahkan bila perlu lebih kecil dari gaji pegawai negeri golongan paling rendah, dan berbagai syarat mulia lainnya, kira-kira siapa saja yang masih berambisi untuk menjadi gubernur atau presiden?

Jadi, ada banyak hal dalam tumpukan aktivitas yang bisa membuat kita semakin dewasa, semakin berpikir akan tanggung jawab kita, semakin mengurung kita dalam nuansa berpikir, dalam cita-cita dan ambisi yang positif, namun ada kalanya justru sebaliknya: membuat kita semakin lupa diri, semakin tak tahu di mana kita berpijak, dan ke arah mana kita melangkah, lupa akan tujuan hidup dan tujuan kita menggali berbagai aktivitas.

Bahasa lain menyebut kondisi itu sebagai lupa daratan. Orang yang lupa diri atau lupa daratan, tak lagi mampu mengoptimalkan potensi diri untuk meraih berbagai kemaslahatan bagi diri kita sendiri dan orang lain. Dengan ungkapan berbeda bisa dikatakan bahwa orang yang lupa diri tak akan mampu ‘menolong diri sendiri’, apalagi orang lain. Ia akan menjadi orang yang paling tidak berguna untuk siapapun. Di mana ia berada, ia hanya akan menjadi beban dan kesulitan bagi orang lain. Karena sebagai apapun ia bekerja, ia akan sulit diberi kepercayaan. Tugas apapun yang dia emban, sudah dapat dipastikan akan terabaikan begitu saja. Ketika Islam amat mengecam orang yang melupakan hal-hal yang bermanfaat bagi manusia, besar maupun kecil, maka orang yang LUPA DIRI dapatkan disebut sebagai jenis manusia yang paling dikecam dalam Islam.

Penulis: Ustadz Abu Umar Basyier

*) Disalin ulang oleh Roni Nuryusmansyah dari buku Ustadz Abu Umar Basyier berjudul “Laa Tansa Don’t Forget”, hal. 133-144, cetakan pertama, Januari 2012, penerbit Shafa Publika.

Rabu, 2 Rabi’ul Akhir 1434 H / 13 Februari 2013 M
Ketika waktu tidur siang telah tiba..

Catatan:
Buku Laa Tansa Don’t Forget karya Ustadz Abu Umar Basyier ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca mengingat buku ini sarat peringatan agar kita tidak melupakan banyak hal yang seharusnya tidak dilupakan. Selain itu, buku ini cukup unik karena tiap bab diawali dengan kalimat “jangan lupa…”. Alhamdulillah, buku ini bisa mudah didapatkan di Gramedia [saya membeli buku ini di TB. Gramedia Jember], toko buku yang menjual buku berlabel Islam, dan toko buku online. Selamat membaca!

__________
[1] Diriwayatkan oleh Al-Haitsami dalam Majma’uz Zawaaid X: 229. Diriwayatkan juga oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dengan sanad hasan. Tapi Syaikh Al-Albani menyatakan hadis ini lemah dalam Dha’if Al-Jami’ Ash-Shaghir (8083), dengan lafal ini. Tapi makna hadis ini ada pada banyak hadis-hadis sahih.
[2] Tahdzib Ihya’ Ulumuddin (II: 146)
[3] Lihat Talbis Iblis oleh Ibnul Jauzi, hal. 129.
[4] Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (XIV: 82)
[5] Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an oleh Qurthubi (XVII: 237)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *