Ilmu Pengetahuan Bangsa Arab Sebelum Islam

Tak dapat dipungkiri, sebelum Islam datang, bangsa Arab mengalami keterpurukan. Mereka terjebak dalam kejahilan sehingga menyembah berhala, pohon, tempat yang dikeramatkan, bintang, dan benda langit lainnya. Mengenaskan. Belum lagi kemaksiatan-kemaksiatan lainnya yang mengungkung kehidupan Jahiliyah.

Terlepas dari hal itu, tentu Allah memiliki alasan mengutus nabi akhir zaman dari bangsa ini. Allah memuliakan bangsa Arab dengan diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam salah satunya karena mereka memiliki banyak keutamaan. Di antaranya, bangsa Arab adalah bangsa yang memiliki beragam ilmu pengetahuan yang menjadi cikal bakal dunia pengetahuan modern setelahnya. Insya Allah pada kesempatan ini, kita akan membahas sejenak ilmu pengetahuan bangsa Arab sebelum Islam.

Segi Ilmu Pengetahuan
Salah besar jika kita mengatakan bangsa Arab adalah bangsa yang bodoh dari segi ilmu pengetahuan. Bahkan dapat dikatakan bahwa mereka memiliki latar belakang ilmu pengetahuan yang membanggakan kala itu. Sejarah mencatat kurang lebih beberapa ilmu pengetahuan yang dikuasai bangsa Arab. Di antaranya,

Pertama, cikal bakal ilmu astronomi. Bangsa Arab pada awalnya menjadikan ilmu ini sebagai media untuk menentukan arah bagi musafir yang berjalan jauh dan pelaut yang mengarungi samudra. Melalui media ini dikenal perputaran waktu dan penanggalan.

Akan tetapi sejalan beriringnya waktu, ilmu astronomi mengalami pergeseran. Sebagian pecinta mistis mengaitkan fenomena langit terhadap nasib dan karakter anak manusia dan selainnya. Alhasil, lahirlah ilmu astrologi yang merupakan bagian dari ilmu metafisika. Lalu muncullah para dukun, ahli nujum, dan peramal yang kala itu membanjiri masyarakat Arab.

Kedua, cikal bakal ilmu meteorologi dan geofisika. Bangsa Arab mempelajari kondisi atmosfer bumi yang berguna sebagai indikator dalam menentukan prakiraan cuaca. Ilmu ini awalnya hanyalah ilmu mengenai awan, baik itu jenisnya, letaknya, dan semisalnya, untuk mengetahui dekatnya waktu hujan. Namun ilmu ini kemudian berkembang sehingga berfungsi menentukan prakiraan cuaca. Begitu juga dalam ilmu geofisika yang mempelajari bumi melalui pendekatan ilmu fisika yang juga berfungsi mengetahui prakiraan cuaca.

Kita ketahui bersama bahwa bangsa Arab adalah petualang padang pasir yang melegenda. Bahkan sebagian mereka dari masyarakat Badui adalah kaum nomaden yang hidupnya berpindah-pindah. Oleh karenanya, mereka sangat bergantung pada cuaca. Terlebih lagi mereka memiliki musuh besar yang bernama Haboob alias badai gurun yang bisa mengancam kapan saja ia suka.

Ketiga, ilmu nasab. Ilmu inilah yang menjadikan sejarah bangsa Arab begitu kuat. Bangsa Arab sangat menghormati nasab. Mereka bisa menyebutkan nasab mereka hingga keturunan yang tak terhingga. Konon seorang peranakan Arab yang tidak bisa menyebut nasabnya hingga minimal sampai kepada kakeknya yang keempat atau kelima dianggap melecehkan nasabnya sendiri. Berbeda dengan kita, orang Indonesia, yang sebagian besar tidak tahu siapa nama kakek dari ayah kita.

Keempat, ilmu mencari jejak dan cikal bakal ilmu deduksi yang berguna dalam dunia perdetektifan. Ilmu ini disebut ilmu qifayah yang sering dikaitkan dengan teori menjajaki nasab dan keturunan, penilaian asal usul seseorang melalui berbagai perangkat dan media yang dapat digunakan kala itu. Bangsa Arab sangat lihai mencari jejak. Salah satunya dengan jejak kaki. Mereka bisa membedakan berbagai jenis jejak kaki, dari manusia hingga hewan melata. Hebatnya lagi, mereka bisa mengetahui siapa pemilik jejak kaki itu, berapa usianya, berapa lama ia telah meninggalkan tempat tersebut dan semisalnya. So amazing!

Mereka jika dapat mengenali jejak dengan segala apa yang ada di sekitar mereka, mulai dari biji kurma, ranting kering, darah yang berceceran, keringat, kotoran, atau ludah yang mengering di bebatuan, bulu binatang, dan apa saja yang ditinggalkan si pemilik jejak tersebut.

Selain peninggalan ilmu pengetahuan di atas, bangsa Arab juga meninggalkan catatan sejarah melalui karakter mereka yang unik. Insya Allah pada pertemuan selanjutnya kita akan membahas karakter bangsa Arab.

Jumat mubarak, di saat aku harus bergegas meminjam buku catatan..

10 Safar 1435 H / 13 Desember 2013 M

Penulis: Roni Nuryusmansyah
Artikel: www.kristalilmu.com

Daftar Pustaka:
Basyir, Abu Umar. 2012. Mutiara Hikmah Sejarah Rasulullah. Shafa Publika: Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *