Hikmah Pensyariatan Kurban

Tidak dapat kita pungkiri bahwa semua yang telah Allah Ta’ala ciptakan memiliki hikmah yang agung, entah kita ketahui maupun tidak, entah kita menganggap hal tersebut baik maupun buruk, entah Allah Ta’ala telah jelaskan di dalam kitab-Nya dan dalam Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun tidak, kita tetap meyakini bahwa di balik semua itu terdapat hikmah dan pelajaran yang sangat agung. Terlebih lagi syari’at yang telah Allah Ta’ala perintahkan kepada umat manusia, baik hukumnya wajib maupun sunnah. Suatu hal yang mustahil jika hal itu tidak memiliki hikmah alias sia-sia belaka. Maka, pada kesempatan kali ini, kita akan sedikit menyelami lautan hikmah pensyariatan kurban.

Menghidupkan Sunnah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam
Yaitu ketika Nabi Ibrahim ‘alaihis salam diperintahkan agar menyembelih buah hatinya sebagai tebusan yaitu Nabi Isma’il ‘alaihis salam ketika hari an-Nahr (‘Idul Adh-ha).Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Ia menjawab, ‘Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang yang sabar’. Maka ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya. Dan Kami panggil dia, ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mebenarkan mimpi itu’, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar” [Ash-Shaffat : 102-107]

Kita juga diperintahkan untuk mengikuti ajaran-ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif (lurus),” dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb.” [QS. An-Nahl: 123]

Dalam penyembelihan kurban terdapat upaya menghidupkan sunah ini dan menyembelih sesuatu dari pemberian Allah Ta’ala kepada manusia sebagai ungkapan rasa syukur kepada Pemilik dan Pemberi kenikmatan. Syukur yang tertinggi adalah kemurnian ketaatan dengan mengerjakan seluruh perintah-Nya.

Mencukupkan Orang Lain di Hari ‘Id
Ketika seorang muslim menyembelih kurbannya, maka ia telah mencukupi diri dan keluarganya; dan ketika ia menghadiahkan sebagiannya untuk teman, tetangga, dan kerabatnya, maka dia telah mencukupi mereka; serta ketika ia bersedekah dengan sebagiannya kepada fakir miskin dan orang yang membutuhkannya, maka ia telah mencukupi mereka dari meminta-minta pada hari yang menjadi hari bahagia tersebut.

Mengingat Kesabaran Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimas salam
Dengan kesabaran yang agung, mereka melakukan ketaatan pada Allah dan kecintaan pada-Nya melebihi anak dan diri sendiri. Pengorbanan seperti inilah yang menyebabkan lepasnya cobaan sehingga Nabi Isma’il ‘alaihis salam pun berubah menjadi seekor domba. Jika setiap mukmin mengingat kisah ini, seharusnya mereka mencontoh dalam bersabar ketika melakukan ketaatan pada Allah dan seharusnya mereka mendahulukan kecintaan Allah dari hawa nafsu, syahwatnya, dan selainnya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya hanya  orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” [QS. Az-Zumar:10]

Semoga melalui artikel sederhana ini, kita dapat memahami hikmah yang agung ini, yang dengannya semakin bertambah keimanan kita akan keagungan Allah Ta’ala dan  tingginya kemuliaan agama kita yang haq ini. Wallahu A’lam.

 

Penulis                 : Roni Nuryusmansyah al-Falimbany
Pemuraja’ah      : Tim asatidzah pemuraja’ah buletin dakwah An-Nashihah STDI Imam Syafi’i Jember
Artikel                   : kristalilmu.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *