[Hikmah] Mengapa Bayi Menangis Ketika Dilahirkan?

Banyak saya jumpai beberapa pertanyaan ‘unik’ yang dilontarkan beberapa netter di berbagai media sosial. Baik hal itu di grup Islam yang sarat akan ilmu maupun di grup menyeramkan yang isinya hanyalah debat tanpa ilmu ala byzantium. Bahkan di forum umum maupun forum khusus tanya jawab, pertanyaan ‘unik’ seperti ini pun pernah saya temui. Satu di antaranya adalah sebuah pertanyaan yang secara logika masuk dalam tinjauan medis, tapi sejatinya juga masuk dalam ruang lingkup syariat. Apakah pertanyaan tersebut?

“Mengapa bayi menangis ketika dilahirkan?”

Jika kita menilik syariat Islam dengan pandangan yang moderat, maka akan kita dapati bahwa Islam telah lama mendahului berbagai penelitian dan eksperimen dari pakar medis yang bergulat di dunia kedokteran dalam mengungkap berbagai fenomena yang menjadi misteri bagi umat manusia. Salah satu contohnya adalah proses penciptaan manusia. Begitu juga proses terjadinya hujan, peredaran bulan bintang, penyerbukan bunga melalui perantara angin, manfaat bintang-gemintang dalam pelayaran, dan masih banyak lagi. Bahkan, hadis sahih yang awalnya dianggap tidak sesuai dengan teknologi maupun ilmu kedokteran seperti hadis lalat[1] justru terbukti kebenarannya dari segi ilmu medis kontemporer.

Hal ini tidak hanya terjadi di dunia kedokteran saja. Akan tetapi juga meliputi berbagai aspek ilmu pengetahuan, tak terkecuali ilmu astronomi yang dahulu sangat saya gemari. Kabar terakhir yang beredar di dunia maya adalah bahwa NASA mengakui bahwa matahari akan terbit dari barat, setelah jauh sebelumnya mengakui bahwa bulan memang pernah terbelah di masa silam sebagaimana merupakan salah satu mukjizat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang pernah membelah bulan.

Dan sudah menjadi kewajiban seorang mukmin untuk mengimani, meyakini, dan membenarkan semua kabar yang diberitakan dalam kitab suci maupun yang disampaikan oleh lisan para Nabi berupa hadis-hadis sahih. Di antaranya adalah hadis yang mengungkap misteri tangisan bayi tatkala keluar dari rahim ibunya:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,
“Tidak ada seorang bayi yang dilahirkan melainkan setan menyentuhnya ketika dia lahir, sehingga bayi itu menangis dengan keras disebabkan sentuhan setan terhadapnya, kecuali Maryam dan putranya (Nabi Isa ‘alaihissalam).”[2]

Ulama hadis memasukkan hadis ini dalam bab keutamaan Nabi Isa ‘alaihissalam. Hal itu dipertegas oleh Imam Nawawi rahimahullah dalam perkataannya, “Ini adalah keutamaan Nabi Isa ‘alaihissalam dan ibunya, Maryam.”[3]

Akan tetapi Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berpendapat bahwa seluruh Nabi pun mendapatkan hal demikian. Beliau berkata, “Sesungguhnya para Nabi juga dilindungi dari setan dalam segala sisi.”[4]

Dalam lafal yang berbeda, beliau bersabda,
 “Setiap anak keturunan Adam ditusuk oleh setan dengan jari-jemarinya ketika ia lahir kecuali Isa bin Maryam. Setan itu datang lalu menusuk dari balik hijab.”[5]

Di versi lain, beliau bersabda,
“Teriakan bayi ketika dia lahir disebabkan oleh ‘nazhghah’ dari setan.”[6]

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Makna nazghah adalah sentuhan dan tusukan.”[7]

Hadis-hadis ini merupakan berita sekaligus jawaban untuk mereka yang sibuk bertanya mengapa bayi menangis ketika dilahirkan. Ternyata hal itu disebabkan oleh tusukan setan kepada setiap keturunan Adam yang terlahir ke dunia sebagai simbol permusuhan dan kebencian. Karena sejatinya, permusuhan terdahsyat sepanjang sejarah adalah peperangan antara bani Adam dan setan laknatullah.

Ada berbagai artikel yang menjelaskan alasan mengapa bayi menangis tatkala dilahirkan secara medis. Saya bahkan pernah bertanya perihal ini kepada beberapa kenalan yang di antaranya merupakan mahasiswa jurusan kedokteran tingkat akhir di Universitas ternama di ibu kota. rata-rata jawabannya sama, seputar masalah pernafasan dan paru-paru. Namun, di sini saya hanya mencukupkan dengan pemaparan dari sudut pandang Islam. Karena tidaklah syariat Islam menjelaskan suatu hal melainkan ada hikmah yang mampu kita petik.

Ketika mendengar teriakan bayi ketika dilahirkan, seharusnya kita merenungi betapa dahsyatnya permusuhan antara umat manusia dan setan. Mereka dengan gigihnya terus menggoda manusia, menjerumuskan mereka agar menjadi penghuni neraka sebagaimana mereka. Mereka berjuang menerapkan berbagai strategi guna membuat manusia menyimpang dari jalan yang lurus. Karenanya, kita harus mematri dalam jiwa permusuhan tersebut dengan sesungguh-sungguhnya sebuah permusuhan. Betapa banyak manusia yang tahu, percaya, bahkan yakin bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Tapi amat sedikit yang telah memperlakukan mereka sebagai musuh yang sebenarnya.

Terkadang kita sadar bahwa setan memiliki strategi dan langkah-langkahnya untuk menyesatkan manusia namun enggan untuk menjauhinya. Coba lihat, kita tahu pasti bahwa setan menebarkan budaya maksiat. Lalu berapa dari kita yang telah menabuh genderang perang, mengangkat senjata tinggi-tinggi dan dengan lantang meneriakkan kata “tidak untuk maksiat”? Realitanya, banyak di antara kita yang tahu bahwa setan adalah musuh namun secara perlahan justru mengikuti bisikannya. Sungguh ironis.

Karena itu, sudah seharusnya kita berusaha agar tidak ikut tergoda dengan berbagai hiasan dan kenikmatan yang ditawarkan oleh setan karena hakikatnya itu hanya menggiring kita kepada lembah neraka Jahannam. Dan sudah sepantasnya bagi kita makhluk yang lemah untuk selalu meminta pertolongan kepada Allah agar terhindar dari godaan setan yang selalu membisikkan tipu dayanya kepada telinga kita, dan menjanjikan kenikmatan semu di dalam benak kita.

Itulah hikmah yang bisa kita kutip dari kejadian krusial saat seorang bayi terlahir, untuk kali pertama menatap dunia, tempat persinggahannya sebelum kampung akhirat sana. Kita harus memperlakukan setan sebagai musuh yang nyata senyata matahari di siang hari tiada mendung.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya,
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, karena itu anggaplah ia sebagai musuhmu.”
(QS. Faathir: 6)

Rabu, 26 Shafar 1434 H / 9 Januari 2013 M
Ketika bumi tergenang air hujan
*Hari-hari diapit dua pekan UAS

Penulis: Roni Nuryusmansyah
Artikel: www.kristalilmu.com

__________
[1] Hadis yang bermakna, “Apabila seekor lalat jatuh ke dalam minuman seseorang di antara kalian, maka benamkanlah lalat tersebut kemudian keluarkanlah. Sebab, salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat penawarnya.” HR. Bukhari, no. 3320, dalam Shahih Bukhari, 2/358, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah – Beirut.
[2] HR. Bukhari, no. 4548, dalam Shahih Bukhari, 3/162, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah – Beirut, dan HR. Muslim, no. 2366, dalam Shahih Muslim, hal. 990, Dar al-Kutub al-Arabi – Beirut.
[3] HR. Bukhari, no. 3286, dalam Shahih Bukhari, 2/351, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah – Beirut.
[4] Ikmal al-Mu’allim Syarhu Shahih Muslim, oleh Al-Qadhi ‘Iyadh, 7/169, Maktabah Syamilah
[5] Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, oleh Imam Nawawi, 15/120, Maktabah Syamilah
[6] HR. Muslim, no. 2367, dalam Shahih Muslim, hal. 990, Dar al-Kutub al-Arabi – Beirut.
[7] Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, oleh Imam Nawawi, 8/94, Maktabah Syamilah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *