Hikmah: Dakwah Nabi ke Thaif

Waktu:
Bulan Syawal, tahun ke-10 dari kenabian, pasca wafatnya Abu Thalib dan Khadijah.

Bersama:
Berdua, bersama Zaid bin Haritsah, anak angkat Rasulullah ketika itu, berjalan kaki.

Tujuan:
Thaif, berjarak 60 mil (sekitar 90 km) dari kota Mekah, kampung Bani Tsaqif.

***

DAKWAH DI THAIF:
Rasulullah berdakwah kepada pemuka kabilah Tsaqif: Abd Yala’il, Mas’ud, dan Habib, ketiganya putra Amr bin Umair ats-Tsaqafi. Akan tetapi mereka tidak menerima, justru melecehkan dan mencaci maki. Rasulullah menerima perlakuan buruk mereka dan meminta agar mereka merahasiakan keberadaan beliau. Beliau berdakwah selama 10 hari kepada tokoh bani Tsaqif, akan tetapi semuanya berujung pengusiran.

Ketika Rasulullah hendak beranjak pergi, para tokoh bani Tsaqif memprovokasi kaumnya untuk menyakiti beliau. Mereka membentuk dua barisan, mencaci maki Nabi dengan ucapan tak senonoh, dan melempari beliau dengan batu sehingga kaki/tumit beliau berdarah. Zaid yang berusaha melindungi Nabi pun mengalami luka di kepalanya. Mereka terus mengejar Nabi dan Zaid sejauh 3 mil sehingga memaksa Nabi berlindung di kebun milik Utbah dan Syaibah, keduanya putra Rabi’ah.

Hikmah:
1) Disyariatkannya berdakwah kepada penguasa/pemuka kaum, atau tokoh masyarakat.
2) Bolehnya meminta seseorang untuk merahasiakan sesuatu jika ada maslahatnya.
3) Disyariatkan kita membela Rasulullah, adapun sekarang dengan membela sunah beliau.

***

ISLAMNYA ADAS
Di kebun tersebut, melihat Rasulullah yang bersedih dan terluka, Utbah dan Syaibah menyuruh budak Nasrani bernama Adas agar memberikan setangkai anggur kepada Rasulullah. Ketika melihat hal unik, yaitu ucapan basmallah Rasulullah sebelum makan, terjadilah percakapan:

“Ucapan itu sangat tidak biasa diucapkan oleh penduduk negeri ini.”
“Engkau berasal dari mana dan apa agamamu?”
“Saya penganut Nasrani dan berasal dari Nenawa.”
“Oh, kampung lelaki saleh, Yunus bin Matta.”
“Eh, dari mana engkau tahu hal itu? Apa yang engkau tahu tentang Yunus?”
“Beliau adalah saudaraku. Dia seorang Nabi, sama sepertiku.”
Ketika itu Adas langsung merangkul kepala Rasulullah, menciumnya, dan mencium tangan dan kaki beliau. Diriwayatkan Adas akhirnya masuk ke dalam Islam.

Ketika Adas menemui tuannya, terjadilah perbincangan.
“Bagaimana engkau ini, apa yang engkau lakukan barusan?!”
“Tuanku, tidak ada di muka bumi ini yang lebih baik dari laki-laki itu. Dia memberitahukanku sesuatu yang hanya diketahui oleh seorang Nabi.”
“Bagaimana engkau ini, wahai Addas! Jangan biarkan ia membuatmu keluar dari agamamu, karena agamamu itu lebih baik daripada agamanya.”

Hikmah:
1) Bolehnya menerima hadiah dari orang kafir/nonmuslim
2) Optimis dalam berdakwah, tidak meremehkan orang yang didakwahi meskipun hanya seorang budak
3) Anjuran mengamalkan adab dan etika islami, karena bisa jadi hal itu menjadi dakwah bagi orang lain
4)

***

MALAIKAT PENJAGA GUNUNG
Di Qarnul Tsa’alib (sekarang Qarnul Manazil), segumpal awan menaungi Rasulullah. Ternyata di baliknya ada malaikat Jibril yang mengabarkan bahwa Allah mengutus untuknya malaikat penjaga gunung. Setelah mengucapkan salam, malaikat tersebut menawarkan akan menimpakan gunung Akhsyabain (yaitu Abu Qubais dan Quaiquan di Mekah) sehingga ratalah kampung Thaif. Akan tetapi Nabi justru mendoakan agar Allah melahirkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang hanya beribadah kepada Allah dan tidak berbuat syirik kepada-Nya. Duhai…

Hikmah:
1) Akhlak memaafkan beliau yang luar biasa
2) Tujuan dakwah adalah untuk memberi petunjuk agar manusia bebas dari syirik menuju tauhid
3)

***

JIN
Di lembah Nakhlah, ketika Rasulullah berdiam di sana beberapa hari, Allah mengutus sekelompok jin untuk mendengarkan bacaan Alquran dari beliau sehingga mereka beriman. Dikisahkan hal ini ketika Nabi salat malam atau salat Subuh.(2)

Hikmah:
1) Menjaga salat malam (witir) meskipun di dalam safar/perjalanan jauh.
2) Adab mendengar Alquran adalah dengan diam menyimak.
3) Setelah menerima ilmu, tanggung jawab kita adalah menyampaikan. Seperti jin yang memberi peringatan.
4)

***

PULANG KE MEKAH
Saat hendak memasuki kota Mekah, Zaid bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana engkau bisa kembali ke kota Mekah sedangkan mereka, kafir Quraisy, telah mengusirmu?” Nabi pun menjawab, “Wahai Zaid, sungguh Allah yang akan menunjukkan jalan keluarnya. Allah akan menolong nabi-Nya dan agama-Nya.” Beliau pun malam itu bermalam di gua Hira, tempat wahyu turun pertama kali.

Beliau pun mengutus seorang utusan dari bani Khuza’ah untuk menemui Akhnas bin Syariq untuk memberikan jaminan keamanan dan perlindungan untuk beliau. Akan tetapi Akhnas menolak, “Aku hanyalah seorang sekutu, dan sekutu tidak memberikan perlindungan.” Begitu pula Suhail bin Amr. Ia mengatakan, “Bani Amir tidak memberikan perlindungan kepada bani Kaab.” Sampai akhirnya Muth’im bin Adi bersedia memberikan jaminan dan perlindungan untuk Rasulullah.

Rasulullah selalu mengingat jasa baik Muth’im bin Adi. Sehingga lima tahun kemudian, ketika Rasulullah berhasil menawan sebagian kafir Quraisy Mekah pada perang Badar, beliau bersabda, “Seandainya Muth’im bin Adi masih hidup, lalu ia datang memintaku membebaskan tawanan ini, maka aku pasti akan bebaskan mereka semua.”

Hikmah:
1) Optimis dan baik sangkanya Nabi kepada Allah, dan tidak putus asa
2) Akhlak yang mulia: mengingat kebaikan/jasa orang lain.

Sumber referensi:
1) Fiqh as-Sirah – Syaikh Zaid Abdul Karim Az-Zaid
2) Ar-Rahiq al-Makhtum – Syaikh Shafiyurrahman Mubarakfury
3) At-Ta’liq ‘ala ar-Rahiq al-Makhtum
4) As-Sirah an-Nabawiyah fi Dhau al-Mashadir al-Ashliyah

__________
Palembang
Ahad siang, 12 Rajab 1438 H / 9 April 2017 M | 11:11
Semangat dakwah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *