Hanya Satu Kalimat

Saya menyebutkan beberapa kisah para ulama untuk mengasah semangat mereka. Karena hal itu dapat menjadi pemicu untuk meninggalkan berputus asa, rasa menyerah, serta untuk tidak meremehkan diri (minder). Karena sebagian manusia menanam keputusasaan di dalam dirinya, bersandar dengannya, membuka peluang serta jalan bagi keputusasaan agar menguasai dirinya.

Telah berlalu wejangan semisal ini agar hendaknya seseorang memperbanyak membaca sejarah para ulama salaf (terdahulu). Karena di dalam hal itu terdapat kebaikan yang banyak, agar engkau mengetahui kadar kemampuan, perhatian, serta semangatmu. Janganlah engkau meremehkan sesuatupun. Allah Ta’ala telah memberikanmu akal beserta anggota badan untuk membantumu menggapai asa.

Seorang penyair berkata,
Jadilah pemuda yang kakinya menginjak tanah basah..
Sedangkan semangatnya berada di bintang Tsurayya..

Sungguh, janganlah engkau meremehkan kebaikan secuilpun. Karena sesungguhnya sebagian insan ada yang semangatnya membara dan tergugah kepercayaan dirinya  hanya karena sebuah kalimat saja. Saya akan menyebutkan tiga kisah tentang bagaimana pengaruh dari sebuah kalimat.

Kisah Pertama
Kitab Shahih Bukhari adalah kitab yang paling sahih di dalam Islam setelah Al-Qur’an Al-Karim. Kitab ini apabila nama seorang rawi disebutkan di dalamnya mengeluarkan suatu riwayat, maka (seolah-olah) dia telah berhasil melewati Sirath. Apabila disebut “riwayat Bukhari” maka terbersit rasa kagum di dalam jiwa. Apa sebab penulisannya? Hanya karena satu kalimat di dalam suatu majelis! Kalimat itu didengar oleh telinga Imam Bukhari, lalu Allah Ta’ala memudahkannya  untuk menulis kitab tersebut yang mengangkat kedudukannya di dalam tingkatan yang tinggi. Alasan penulisan kitab Shahih Bukhari disebutkan ada tiga alasan.

Sebab yang paling masyhur adalah sebuah kisah. Suatu ketika Imam Bukhari duduk di majelis Ishaq bin Rahawaih. Dia pun berkata “Sekiranya seseorang di antara kalian menulis sebuah kitab berisi kumpulan hadis-hadis sahih dari sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Hanya satu kalimat! Ishaq mengatakan perkataan tersebut lalu menyentuh jiwa Imam Bukhari. Kemudian Imam Bukhari pun menulis kitab yang agung tersebut sehingga menjadi kitab yang paling sahih di antara kutubus sittah secara mutlak. [1]

Kisah Kedua
Imam Dzahabi adalah seorang imam terkemuka. As-Subki (salah satu murid Adz-Dzahabi) menuturkan perihal beliau, “Adapun guru kami, Abu Abdillah (kunyah Imam Adz-Dzahabi), tidak ada yang setara dengannya. Beliau gudang perbendaharaan ilmu. Tempat kembali jika masalah menerpa. Beliau adalah imam dari segi hafalan. Emasnya zaman baik secara makna dan lafal. Syaikh dalam bidang jarh wa ta’dil. Pemuka para tokoh pada setiap jalan. Seolah-olah umat ini dikumpulkan di atas tanah yang luas, lalu beliau melihatnya, kemudian dia mulai mengabarkan tentang suatu riwayat sebagaimana orang yang hadir mengabarkan..”[2]

Sebab beliau menuntut ilmu hadis adalah sebuah kalimat. Beliau mengisahkannya sendiri perihal Imam Al-Barzali bahwasanya ketika imam tersebut melihat tulisannya, Imam itu berkata kepadanya, “Sungguh, tulisanmu ini serupa dengan tulisan para ahli hadis.” Adz-Dzahabi melanjutkan, “Maka Allah Ta’ala pun menanamkan di dalam jiwaku rasa cinta kepada ilmu hadis.”[3]

Maka lihatlah pengaruh apa yang ditimbulkan oleh satu kalimat ini terhadap Imam Adz-Dzahabi? Beliau menjelma menjadi seorang ulama hadis, seorang huffadz, dan seorang ahli jarh wa ta’dil.

Kisah Ketiga
Terdapat sebuah cerita yang disebutkan oleh Muhammad bin Nashr di dalam Mukhtashar Qiyam Al-Lail. Dia mengisahkan bahwa dahulu Shilah bin Asyyam (seorang tabi’in) keluar ke sebuah daratan (di pinggir kota) untuk beribadah. Beliau melewati beberapa gerombolan pemuda yang bersenda gurau. Maka beliau menghampirinya sembari berkata, “Bagaimana pendapat kalian tentang ihwal suatu kaum yang tengah menempuh perjalanan jauh, namun mereka menyimpang berbelok dari jalan di siang hari dan terlelap di malam hari. Lantas kapankah perjalanan mereka tiba sampai tujuan?”  Beliau selalu mengucapkan kalimat yang sama tiap kali berpapasan dengan mereka. Hingga suatu hari, beliau kembali mengulang ucapan yang sama. Seorang pemuda di antara mereka tersentak dan berkata, “Demi Allah, duhai kawan, yang dia maksudkan tidak lain dan tidak bukan adalah kita. Kita bersenang-senang di siang hari dan tidur pulas di malam hari.” Pemuda itu pun lalu mengikuti Shilah dan tidak pernah sekalipun absen bersamanya menuju daratan. Dia beribadah bersamanya hingga ajal menjemputnya.[4]

Jadi, janganlah meremehkan kebaikan sedikitpun. Kerap kali saat engkau membaca sebuah kitab kecil, atau menghadiri majelis ilmu untuk penuntut ilmu pemula, engkau mendengar sebuah kalimat yang menggerakkan sesuatu di dalam dirimu yang tak diketahui batasnya. Engkau pun memperoleh kebaikan dari ilmu tersebut…

 

Sabtu, 12 Rabi’ul Akhir 1434 H / 23 Februari 2013 M
Saat di depan asrama terbentang reruntuhan-reruntuhan bangunan yang berserakan centang-perenang

 

Penerjemah: Roni Nuryusmansyah
Artikel: www.kristalilmu.com

 

*) Dialihbahasakan secara bebas dari kitab Ma’alim fii Thariq Thalabi al-‘Ilmi, karya Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdillah As-Sadhan, hal. 76-78, cetakan ke-5, 1431 H/2010 M, Darul Qabas, Riyadh – Saudi Arabia.

 

__________
[1] Hady as-Sary, hal. 9;
[2] Siyar A’lam An-Nubala’ 1/169 dalam muqadimah;
[3] Ibid, 1/36;
[4] Mukhtashar Qiyam al-Lail, hal.37

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *