Hakikat Sabar

Sabar adalah satu di antara sekian banyak akhlak dan perangai terpuji yang menempati kasta tinggi di dalam Islam. Hal itu dikarenakan ketika berbicara tentang sabar, tak akan lepas dari selaksa keutamaan dan kenikmatan surga yang dijanjikan. Tidaklah termaktub kata ‘sabar’, melainkan digandengi pujian dan ganjaran yang disiapkan. Jika dalil dari Al-Qur’an dan hadis yang berbicara tentang keutamaan sabar dikumpulkan, maka akan dihasilkan sebuah buku yang tebal beratus-ratus halaman.

Karena itu, pada kesempatan kali ini, kita tidak akan menguraikan panjang lebar tentang keutamaan sabar. Akan tetapi, melalui buletin sederhana ini, sejenak kita akan sedikit mengupas hakikat kesabaran itu sendiri.

Terminologi Sabar
Tak ada definisi baku yang pasti mengenai sabar itu sendiri. Para ulama memiliki pendapat yang berbeda-beda dalam mendefinisikannya. Meskipun begitu, mereka selalu mengaitkan kesabaran dengan ketenangan hati di saat tertimpa cobaan, bertahan di atas ketaatan, dan tegar membelakangi kemaksiatan.

Dapat disimpulkan secara garis besar bahwa sabar berarti menahan diri dari hal-hal yang dicenderungi nafsu, berlaku tenang di berbagai keadaan, menahan lisan dari berkeluh kesah saat musibah membuat jiwa terasa resah dan gelisah, menahan anggota badan untuk tidak melanggar batasan-batasan, dan selalu bertahan menetapi ketaatan.

Sabar ibarat gembok yang mengunci lisan untuk tidak berkeluh kesah mengutuk takdir. Ibarat rantai yang membelenggu anggota badan agar tidak menampakkan perlawanan dan pertentangan akan keputusan Allah. Ibarat bendungan yang menahan hati dari derasnya perasaan marah, kesal, dan dongkol, serta berbagai macam kemelut perasaan lainnya yang bergumpal-gumpal.

Sabar memang begitu istimewa dan spesial. Bahkan ia disebut sebagai pilar kebahagiaan insan. Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah menuturkan di dalam kitabnya Qawaidul Arba’, bahwa pilar kebahagiaan itu ada tiga: ketika ia mendapat kenikmatan, ia bersyukur, ketika ditimpa musibah, ia bersabar, dan ketika melakukan dosa, ia beristigfar.

Macam-Macam Sabar
Para ulama membagi sabar menjadi tiga jenis:

[1] Sabar dalam menjalankan perintah Allah

Yaitu sabar di atas ketaatan dan penghambaan kepada-Nya. Kesabaran ini sering kali diiringi dengan keikhlasan dikarenakan ia selalu konsisten di atas ketaatan. Tak peduli pujian atau hinaan, saat sendiri atau di tengah keramaian, saat terjangkiti sakit atau fisik segar bugar, ia selalu mampu bersabar untuk menyusuri tiap jalan kebaikan. Rasa harap akan keridaan Allah dan surga yang dijanjikan bagi orang yang bertakwa menjadi pelecut semangatnya untuk senantiasa bersabar mengaplikasikan segala nilai-nilai Islam dalam setiap sendi kehidupan.

[2] Sabar dalam menjauhi larangan Allah dan pelbagai hal yang diharamkan oleh syariat.

Kesabaran itu dihasilkan dari kuatnya keimanan seseorang terhadap ma’rifatullah. Rasa takut akan siksa Allah yang teramat pedih berupa api neraka yang menyala-nyala menjadikannya khawatir untuk memaksiati Sang Pencipta. Hal itu dikarenakan ia betul-betul memahami bahwa Allah senantiasa mengawasi dan ia betul-betul percaya tiada tempat yang tak mampu dilihat oleh-Nya.

[3] Sabar dalam menghadapi ketentuan takdir.

Kesabaran ini tumbuh dikarenakan keyakinan terhadap pahala yang Allah Ta’ala janjikan bagi seorang hamba yang ditimpa masalah dan musibah. Ia memandang kepada kenikmatan yang masih tersisa dan meremehkan kenikmatan yang telah dicabut darinya. Ia mempercayai bahwa musibah yang ia terima baik baginya, dan di balik itu semua terselip hikmah dan rencana yang indah, meskipun ia tak tahu apa bentuknya.

Cintanya kepada Allah membuatnya memandang musibah sebagai perwujudan cinta Allah terhadapnya. Ia lantas berprasangka baik, menganggap musibah sebagai penghapus dosa atas kesalahan di masa lampau, atau sebagai pengingat atas kelalaiannya selama ini. Cobaan yang ia terima tidak melahirkan kebencian di dalam hatinya. Justru cinta kepada Rabb-nya semakin berbunga-bunga.

Allah Ta’ala menyebutkan kriteria pemilik kesabaran jenis ini bahwa mereka menyadari bahwa segala yang ada hanyalah titipan semata. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun’ (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sungguh hanya kepada-Nyalah kami akan kembali).” (QS. Al-Baqarah: 155-156)

Hakikat Kesabaran
Hakikat kesabaran memang tak terlepas dari ‘menahan diri’. Ya, kesabaran menjadikan seseorang hamba mampu menahan diri ketika diperlakukan buruk oleh orang lain. Ia bahkan membalasnya dengan kebaikan dan ini sungguh akhlak yang sangat mengagumkan. Bukan karena ia tidak memiliki kemampuan untuk membalasnya dengan hal serupa, justru sejatinya ia teramat mampu untuk membalas perbuatan buruk tersebut dengan hal setimpal.

Kesabaran pulalah yang menjadikan seorang hamba mampu menahan diri untuk tidak berprasangka buruk walaupun ia ditimpa takdir yang notabene dipandang buruk. Bahkan pahit dan getirnya kehidupan tak menyurutkan langkahnya untuk selalu berada di atas ketaatan. Justru hal itu menjadikannya lebih mendekatkan diri kepada Rabb semesta alam. Karena itu, sabar merupakan akhlak yang sangat berpengaruh dalam memperbaiki kualitas dan kuantitas ketaatan diri seorang hamba. Di sisi lain, sabar menjadi tameng yang kokoh melindungi seorang hamba dari ratapan di kala duka dan dosa yang mengantarkan kepada api neraka.

Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitabnya, Madarijus Salikin, menuturkan bahwa jiwa atau nafsu itu memiliki dua kekuatan: ofensif dan defensif. Hakikat kesabaran itu adalah ketika aspek ofensif digunakan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat dan aspek defensif dikontrol untuk menahan diri dari hal-hal yang membahayakan. Di antara manusia, ada seseorang yang bisa bersabar di atas ketaatan, mengekang nafsunya dan mendorongnya agar betah untuk mendirikan amal kebaikan yang berbuah pahala. Akan tetapi ketika ia ditimpa cobaan, musibah, kehilangan, ia tak mampu bersabar dan berubah menjadi manusia yang rapuh dan lemah.

Ada yang mampu bersabar meski dihantam berbagai prahara, namun sulit baginya bersabar mengerjakan kewajiban kepada Rabb-nya. Ada yang mampu bersabar menahan diri dari emosi, namun ketika ia melihat aib dari saudaranya, ia justru tak kuasa menahan lisannya dari gibah yang keji. Ada juga yang bisa bersabar mengerjakan puasa sunah dan salat malam, akan tetapi ia tidak mampu bersabar dari melihat hal-hal yang diharamkan.

Kesabaran yang indah
Kesabaran yang indah adalah ketika seorang hamba hanya mengadukan kesusahannya kepada Allah Ta’ala semata. Tidak sebatas itu, ia kemudian berusaha dan berupaya mencari solusi terbaik dari problematika yang ia hadapi tanpa mengeluh kepada siapapun. Inilah kesabaran dalam level tertinggi yang sulit tertanam kokoh di dalam hati setiap insan.

Selayaknya bagi seorang muslim untuk memandang persoalan dengan bijaksana. Jangan terlalu melankolis. Jangan suka mendramatisir suatu persoalan yang sejatinya sepele dan remeh. Sering kali suatu persoalan sederhana berubah menjadi prahara lantaran kurang sabar dalam menyikapinya sehingga terkesan radikal dan tergesa-gesa.

Satu hal yang perlu diperhatikan, bahwa berkeluh kesah tidak selalu menafikan kesabaran. Allah Ta’ala menggambarkan sosok Nabi Ayyub ‘alaihissalam dalam firman-Nya yang artinya, “Sesungguhnya Kami mendapati Ayyub adalah seorang yang penyabar.” (QS. Shad: 44). Namun, di samping itu Nabi Ayyub pun mengatakan, “Sungguh, aku telah ditimpa oleh suatu penyakit.” (QS. Al-Anbiya: 83)

Oleh karena itu, para ulama membagi keluh kesah menjadi dua macam. Pertama, keluh kesan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan ini tidaklah menafikkan kesabaran, sebagaimana perkataan Nabi Ya’kub ‘alaihissalam, “Hanya kepada Allah-lah, aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku ini.” (QS. Yusuf: 86). Itulah realisasi dari perkataannya, “Maka kesabaranku adalah kesabaran yang indah.” (QS. Yusuf: 83). Inilah juga yang dilakukan oleh Nabi Ayyub ‘alaihissalam pada cerita sebelumnya, berkeluh kesah kepada Allah.

Kedua, berkeluh kesahnya seorang yang tertimpa musibah dengan tutur kata maupun tingkah lakunya. Ini tidaklah tegak lurus dengan garis kesabaran, melainkan berlainan arah dan berbanding terbalik dengannya. Beda halnya jika mengutarakan permasalahan sebagai upaya untuk meminta solusi.

Antara Rida dan Sabar
Terdapat sedikit perbedaan antara rida dan sabar. Seorang yang sabar, ketika ia ditimpa musibah, ia mampu menahan amarah dan mengendalikan emosinya yang meluap-luap. Tidak mengekspresikannya dengan mimik wajah, tidak pula dengan keluh kesah. Ia tidak mengumpat dan mencela takdir, namun di dalam hatinya masih bercokol sedikit perasaan berat dan tidak senang atas musibah yang menimpanya.

Sedangkan orang yang rida, ia menghadapi segala yang terjadi dengan hati seluas samudera. Ia tak merasa terbebani dengan apa yang telah tergores di Lauh Mahfuzh. Baginya, dengan atau tanpa musibah, perasaannya tetap sama-sama rida. Inilah yang menjadi keunggulan rida ini dibandingkan sabar.

Akhir kata, kita memohon kepada Allah agar Dia mengaruniakan kita semua hati seluas samudera. Sehingga segala yang jatuh menghujamnya tak menjadikannya keruh. Kita juga memohon agar Dia menganugerahi kita manisnya kesabaran di kala pahitnya keadaan dan indahnya sabar di atas ketaatan di kala kemaksiatan terlihat begitu menggoda dan menawan.

Penulis: Roni Nuryusmansyah
Editor: Ust. Yulian Purnama
Akurator: Ust. Muhammad Yassir, Lc

*) Tulisan ini pertama kali dimuat oleh Buletin Al-Hikmah, edisi 47 tahun I, Mei 2013, Masjid Al-Barkah, Cileungsi, Bogor

Dapat didownload di:
https://ia600803.us.archive.org/28/items/BuletinAlHikmah/1-47.pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *