Fikih Ringkas Qunut Witir

Qunut Salat Witir

Qunut adalah sebuah doa yang dibaca di saat tertentu ketika sedang berdiri dalam salat.

1. Disunahkan qunut dalam salat witir. Ini pendapat jumhur para ulama, inilah yang lebih tepat. Meskipun demikian mereka berbeda pendapat tentang kapan waktu disunahkannya. Adapun Hanafiyah mewajibkannya.

Di antara dalil disyariatkannya qunut witir adalah doa qunut witir yang diajarkan Rasulullah kepada cucu beliau Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah)

2. Waktu qunut salat witir adalah di sepanjang tahun, karena witir disyariatkan sepanjang tahun dan qunut adalah bagian dari doa witir. Ini pendapat madzhab Hanafiyah dan Hanabilah yang dipilih Nawawi, Ibnu Hazm, Ibnu Hajar, Syaikh Albani, Syaikh Ibnu Baz, dan Syaikh Utsaimin.

Akan tetapi tidak disyariatkan qunut witir tiap malam sepanjang tahun, lebih baik sesekali dikerjakan dan sesekali ditinggalkan. Adapun dalam madzhab Syafi’i disunahkan qunut witir hanya di paruh kedua bulan Ramadan saja, akan tetapi ini kurang tepat karena dalil menunjukkan keumumannya tanpa terkait waktu tertentu.

3. Disyariatkan mengaminkan doa qunut witir. Ini pendapat madzhab Syafi’iyah dan Hanabilah yang dipilih Syaikh Utsaimin dan Lajnah Daimah. Bahkan Ibnu Qudamah menukil ijmak akan hal ini dalam Al Mughni. Oleh karena itu disunahkan mengeraskan bacaan qunut baik ketika jadi imam maupun salat sendirian.

Akan tetapi hendaklah makmum memperhatikan mana doa yang diaminkan dan mana yang berupa pujian dan sanjungan yang tidak diaminkan.

4. Qunut witir dikerjakan setelah rukuk, boleh juga sebelum rukuk. Ini pendapat madzhab Hanabilah yang dipilih Ibnu Hajar, Syaikh Ibnu Baz, dan Syaikh Utsaimin. Pendapat ini menggabungkan dua pendapat yang ada antara sebelum rukuk atau setelah rukuk.

5. Bacaan dalam qunut yang berasal dari Rasulullah di antaranya:

اللهمَّ اهْدِني فيمَن هدَيْت، وعافِني فيمَن عافَيْت، وتولَّني فيمَن تولَّيْت، وباركْ لي فيما أَعطَيْت، وقِني شَرَّ ما قَضَيْت؛ فإنَّك تَقْضِي ولا يُقْضَى عليك، وإنَّه لا يَذلُّ مَن والَيْت، تباركتَ ربَّنا وتَعالَيْت

Dan ada juga bacaan lain yang sahih dari Rasulullah dan para sahabat.

Boleh berdoa dengan doa apa saja, hanya saja lebih baik menggunakan lafal yang berasal dari Rasulullah atau para sahabat.

6. Disunahkan mengangkat tangan ketika qunut witir. Ini pendapat madzhab Syafi’iyah dan Hanabilah yang dipilih Syaikh Albani, Syaikh Ibnu Baz, dan Syaikh Utsaimin.

7. Tidak disyariatkan mengusap wajah seusai qunut witir. Ini pendapat madzhab Syafi’iyah yang dipilih Ibnu Taimiyah, Syaikh Ibnu Baz, dan Syaikh Utsaimin. Adapun hadis yang menyebutkan mengusap wajah adalah hadis hadis yang lemah.

8. Disunahkan membaca shalawat setelah doa qunut. Ini pendapat madzhab Syafi’iyah dan Hanabilah. Tak ada bacaan shalawat tertentu.

10. Hendaknya meninggalkan hal-hal berikut ini:
– Berlebihan mengangkat suara ketika qunut
– Mengangkat suara dengan tangisan berlebihan
– Memberatkan diri untuk berirama dan bersajak
– Memanjangkan bacaan doa jika hal itu memberatkan jamaah.

Sumber: https://dorar.net/feqhia/1255

Roni Nuryusmansyah

Jumat subuh, Talang Jambe
22 Ramadan 1441 / 17 Mei 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *