Fikih Ringkas Lailatul Qadar

Pengertian
Lailatul qadar berasal dari dua kata: lailah yang artinya malam, dan: qadar yang memiliki beberapa arti, di antaranya kemuliaan, penetapan, dan sempit.

Lailatul qadar adalah malam kemuliaan karena malam turunnya awal Alquran, turunnya para malaikat, dan malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Lailatul qadar juga malam penetapan takdir makhluk selama setahun. Hal ini juga merupakan sebuah kemuliaan malam tsb, jadi kedua makna sesuai dan tidak bertentangan.

Lailatul qadar juga berarti malam yang sempit karena pada malam itu banyak malaikat turun (bahkan dikatakan semuanya) ke langit dunia sehingga langit dunia terasa sempit dan sesak dipenuhi malaikat. Hal ini juga merupakan suatu kemuliaan.

Lailatul qadar tetap ada sampai hari kiamat, dan tidak diangkat.

Keutamaan
Di antara keutamaan lailatul qadar, Allah menurunkan satu surah berkaitan dengannya, yaitu surah ke-97, Al Qadr, yang memiliki lima ayat. Di antara keutamaan yang terkandung dalam ayat tsb adalah:

1. Malam di mana Allah menurunkan (permulaan) Alquran ke dunia.

2. Malam di mana Allah menetapkan takdir makhluk selama setahun (takdir sanawi) yang diambil dari takdir azali di Lauh Mahfuzh.

3. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ibadah di malam tsb lebih baik dari 83 tahun 4 bulan di luar lailatul qadar, suatu waktu yang panjang, banyak umur kita tidak bisa melampaui. Di antara kekhususan umat ini umurnya pendek tapi banyak pelipatgandaan amal seperti di malam tsb.

4. Malam di mana malaikat turun membawa rahmat, kebaikan, keberkahan, dan ketenangan, karena di malam tsb banyak kebaikan dan keberkahan.

5. Malam yang disebut salam, malam kesejahteraan dan keselamatan, dari azab Allah dengan pengampunan.

Sebagian ulama berpendapat di antara keutamaannya adalah waktu yang mustajab untuk berdoa.

Waktu
Ulama sepakat lailatul qadar terdapat pada bulan Ramadan, karena Alquran turun di bulan Ramadan. Akan tetapi ulama berbeda pendapat tentang waktu tepatnya menjadi 40 pendapat lebih (Fathul Bari).

Jumhur berpendapat (dan ini paling utama) terdapat pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Lebih ditekankan lagi di malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir. Lebih ditekankan lagi malam ke-27 (hadis Ubay bin Kaab).

Akan tetapi yang lebih tepat adalah lailatul qadar berpindah pindah tiap tahunnya di sepuluh malam ganjil terakhir bulan Ramadan, menggabungkan semua hadis yang menyebutkan tanggal (di zaman Nabi pernah terjadi pada tanggal 21). Ini pendapat Muzani, Ibnu Khuzaimah, Nawawi, Ibnu Hajar, dan selainnya.

Dahulu Nabi pernah ingin mengabarkan tentang wahyu berupa kapan lailatul qadar, akan tetapi ada dua orang yang bertengkar, kemudian ilmu tentang kapan waktu tsb diangkat (akibat buruknya pertengkaran kebaikan hilang), sehingga tetap tersembunyi sampai saat ini.

Di antara hikmahnya agar kita lebih bersemangat menghidupkan semua malam. Jika lailatul qadar ketahuan dan tidak tersembunyi mungkin kita hanya menghidupkan satu malam saja.

Lebih baik adalah menghidupkan kesepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Karena ada juga sebagian ulama berpendapat apabila Ramadan 29 hari maka 10 malam pertama dimulai pada malam ke-20 sehingga ganjil urutan ke-1, 3, 5 dst jatuh pada malam genap: ke-20, 22, 24 dst.

Amalan
Nabi ketika masuk sepuluh malam terakhir mengencangkan ikat pinggangnya (tidak mendatangi istri istri beliau), menghidupkan malam (dengan ibadah), dan membangunkan keluarganya. (HR. Bukhari Muslim)

Di antara amal di lailatul qadar adalah:
1. Salat Isya dan salat Subuh berjamaah (karena keutamaan pahala salat semalam suntuk). Kadar minimal mendapatkan keutamaan lailatul qadar menurut beberapa ulama.
2. Salat malam (tarawih) dan ini yang sesuai dengan teks hadis: qiyam lailatul qadar. Keutamaannya diampuni dosa dosanya. Lebih baik berjamaah sampai imam selesai agar mendapatkan keutamaan pahala salat semalam suntuk.
3. Memperbanyak doa yang diajarkan Nabi kepada Aisyah: Allaahumma innaka ‘afuwwun, tuhibbul ‘afwa fa’fu’annii (tanpa tambahan karim)
4. Iktikaf di masjid agar bisa fokus beribadah. Akan tetapi ini bukan syarat mendapatkan lailatul qadar.
5. Memperbanyak ibadah lainnya secara umum. Seperti membaca Alquran (lebih baik minimal 100 ayat karena ada keutamaan pahala salat semalam suntuk), zikir, doa umum, istigfar, shalawat, dan lain sebagainya. Karena itu wanita haid nifas pun tetap bisa dapat keutamaan lailatul qadar.

Sebagian lagi menganjurkan mandi berhias memakai wewangian untuk menyambut lailatul qadar, mandi antara Magrib dan Isya, karena ada riwayat dari Nabi dan praktik ulama salaf. Akan tetapi sebagian lagi mengatakan bahwa itu bukan dalam rangka ibadah sehingga tidak dikatakan sunah.

Sebagian ulama menganjurkan untuk menghidupkan siang hari sepuluh terakhir bulan Ramadan sebagaimana malamnya.

Tanda
Di antara beberapa tanda yang disebutkan dalam hadis:
1. Udara sejuk, tidak panas dan tidak dingin
2. Hati terasa tenang, lapang, dan semangat beribadah
3. Terlihat di mimpi (terjadi pada sebagian sahabat)
4. Cahaya matahari esok pagi lemah dan tidak menyilaukan.

Di antara kekeliruan sebagian meyakini di antara tanda lailatul qadar adalah pepohonan bersujud, anjing tidak menggonggong, air laut yang asin menjadi manis/tawar, cahaya menyinari seluruh dunia, dst.

Akan tetapi sebaiknya kita tidak sibuk mencari tanda karena tak harus disyaratkan mengetahui lailatul qadar untuk mendapatkan keutamaannya. Cukup jaga salat wajib dan salat tarawih di sepuluh malam terakhir maka kita akan mendapatkan keutamaannya.

Semoga Allah tidak menghalangi kita untuk mendapatkan keutamaan lailatul qadar.

Roni Nuryusmansyah
Gubuk kecil, larut malam Rabu
19-20 Ramadan 1440 / 12 Mei 2020

Comments

  1. By Hamba Allah

    Reply

  2. Reply

    • By roni

      Reply

  3. Reply

    • By roni

      Reply

  4. By Regi

    Reply

    • By roni

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *