Fikih Ringkas Hari Raya

Islam memiliki dua hari raya dalam setahun: hari raya Idulfitri yang jatuh pada tanggal 1 Syawal, pasca bulan Ramadan, dan hari raya Iduladha yang jatuh pada tanggal 10 Zulhijah (hari Nahr -penyembelihan), setelah hari Tarwiyah dan hari Arafah, sebelum tiga hari Tasyriq. Dinamakan id karena ia kembali dan berulang. Adapun hari raya dalam sepekan adalah hari Jumat.

Hukum salat hari raya
Ulama berbeda pendapat mengenai hukum salat hari raya:
[1] Sunnah muakkadah (sunah yang ditekankan); mazhab Malik dan Syafi’i.
[2] Fardhu kifayah; mazhab Hanabilah.
[3] Fardhu ‘ain; mazhab Abi Hanifah, inilah pendapat yang dipilih dan dinilai paling kuat oleh Ibnu Taimiyyah, wallahu a’lam.

Dalilnya karena Nabi memerintahkan semua manusia untuk hadir ke lapangan, meskipun wanita yang haid, dan menyuruh wanita yang tidak memiliki kerudung untuk meminjam kerudung saudarinya agar bisa turut hadir, sebagaimana terdapat dalam hadis Ummu Athiyyah. (HR. Bukhari dan Muslim)

Waktu salat hari raya
Mayoritas ulama mengatakan bahwa salat hari raya dimulai setelah meningginya matahari seukuran tombak (diperkirakan 10-15 menit setelah terbitnya matahari) sampai tergelincirnya matahari (masuknya waktu Zuhur). Berbeda dengan Syafi’iyyah yang memperbolehkan salat hari raya sejak terbitnya matahari.

Disunahkan untuk mengakhirkan sedikit salat Idulfitri agar manusia memiliki lebih banyak waktu untuk menyalurkan zakat fitri/fitrah dan disunahkan lebih menyegerakan salat Iduladha agar manusia lekas menyembelih hewan-hewan kurban mereka.

Tempat salat hari raya
Disunahkan salat di tanah lapang atau tempat terbuka lainnya, berdasarkan hadis Abu Said al-Khudri, bahwa Nabi biasa keluar untuk salat Idulfitri dan Iduladha menuju lapangan. (HR. Bukhari dan Muslim)

Diperbolehkan salat di dalam masjid, terlebih lagi jika ada uzur seperti turunnya hujan, kencangnya angin, sempitnya tempat, dan lain sebagainya.

Adapun bagi penduduk Mekah maka yang lebih utama adalah salat di Masjidil Haram.

Adab menuju salat hari raya
[1] Disunahkan mandi sebelum berangkat salat hari raya
[2] Berhias diri dan mengenakan wewangian (bagi laki-laki) dan mengenakan pakaian terbaik
[3] Makan sebelum berangkat salat Idulfitri (disunahkan kurma dengan bilangan ganjil) dan tidak makan sebelum berangkat salat Iduladha
[4] Bertakbir sejak keluar menuju tempat salat. Kaum laki-laki mengeraskan bacaan takbirnya, sedangkan perempuan cukup terdengar untuk dirinya dan yang di sampingnya.
Lafal takbir: Allaahu akbar, Allaahu akbar (boleh 3 kali), laa ilaaha illallaah, Allaahu akbar, Allaahu akbar, walillaahil hamd.
Waktu takbir: Untuk hari raya Iduladha mayoritas ulama berpendapat sejak pagi hari Arafah (9 Zulhijah) sampai petang hari Tasyriq terakhir (13 Zulhijah); tidak hanya dikhususkan setelah salat. Adapun untuk hari raya Idulfitri sejak berangkat untuk salat (ada yang mengatakan sejak malam lebaran) sampai salat Idulfitri.
[5] Keluarnya wanita meskipun tengah haid dan anak-anak kecil menuju tempat salat
[6] Disunahkan menempuh rute jalan pulang yang berbeda
[7] Disunahkan berjalan kaki kecuali ada hajat/keperluan
[7] Bersegera menuju tempat salat

Salat hari raya
Salat hari raya berjumlah dua rakaat, dengan tidak didahului salat qabliyah dan tidak pula diakhiri salat ba’diyah, tidak ada azan dan ikamat.

Di dalam rakaat pertama, bertakbir tujuh kali (selain/setelah takbiratul ihram). Ulama berbeda pendapat tentang apakah disyariatkan mengangkat tangan ketika takbir-takbir ini. Tidak disyariatkan bacaan khusus di antara takbir-takbir ini, akan tetapi ada atsar dari Ibnu Mas’ud disunahkan memuji dan menyanjung Allah. Di dalam rakaat kedua, bertakbir lima kali (selain/setelah takbir bangkit dari sujud ke rakaat kedua). Disunahkan membaca surah Al-A’la dan Al-Ghasyiah, atau Qaf dan al-Qamar.

Khutbah hari raya
Disyariatkan khutbah setelah salat hari raya dengan satu kali khutbah (sebagian ulama salaf menukil ijmak bahwa khutbah hari raya sama seperti khutbah salat Jumat: dua kali khutbah). Disunahkan memilih tema yang universal dan memiliki cakupan yang luas. Hendaknya pula mengkhususkan nasihat untuk kaum wanita.

Mendengar khutbah hukumnya tidak wajib dan bukan merupakan syarat sah salat hari raya, berdasarkan hadis Abdullah bin Saib, bahwa Nabi bersabda, “Siapa yang mau mendengarkan khutbah silakan duduk, dan siapa yang ingin pergi silakan pergi.” (HR. Abu Dawud, Nasa-i, dan Ibnu Majah)

Jika hari raya jatuh pada hari Jumat maka boleh bagi yang telah menghadiri salat hari raya untuk meninggalkan salat Jumat dan cukup salat Zuhur saja. (HR. Abu Dawud dan Nasa-i)

Ucapan selamat hari raya
Diperbolehkan mengucapkan selamat hari raya dengan ucapan taqabbalallahu minna wa minkum (semoga Allah menerima ibadah kita semua) dan selainnya.

Referensi:
– Shahih Fiqh as-Sunnah | Syekh Abu Malik Kamal
– al-Fiqh al-Muyassar | Kumpulan ulama
– al-Wajiz  fi Fiqh as-Sunnah wa al-Kitab al-Aziz | Syekh Abdul Azhim Badawi
– Ahkam al-Idain | Syekh Ali Hasan al-Halabi
– Minhaj al-Muslim | Syekh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iri

Palembang
Ahad, 9 Zulhijah 1437 H / 11 September 2016 M | 17:36
Selamat hari raya Iduladha 1437 H
Roni Nuryusmansyah & keluarga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *