Fikih Ringkas Buang Hajat

Pengertian Istinja
Istinja artinya membersihkan kotoran dari tempat keluarnya dengan air atau selain air seperti batu dll. Tidak disyaratkan niat untuk beristinja.

Hukum Istinja
Istinja hukumnya wajib apabila terdapat sebabnya yaitu keluarnya kotoran menurut pendapat jumhur ulama. Siapa yang tidak mampu beristinja dengan sendirinya, maka wajib bagi seseorang untuk membantunya beristinja menurut jumhur ulama.

Cara Istinja
Apabila buang air besar maka cukup dibersihkan lingkaran lubang duburnya dan bagian yang terkena najis.
Apabila buang air kecil maka cukup dibersihkan lubang kencingnya saja dan bagian yang terkena najis.

Hal Yang Mengharuskan Istinja
1. Keluarnya air kencing dan kotoran (feses) menurut jumhur.
2. Keluarnya madzi menurut jumhur. Menurut jumhur cukup dibersihkan lubang kemaluannya (tidak harus membersihkan kemaluan dan kedua buah kemaluan) dan yang terkena najis.
3. Keluarnya wadi menurut jumhur karena diserupakan dengan air kencing.
4. Keluarnya darah dari kemaluan wanita seperti darah istihadhah menurut jumhur ulama.

Adapun buang angin atau kentut, dan keluarnya benda kering yang suci seperti kerikil, maka tidak menyebabkan istinja. Begitu juga tidur, tidak menyebabkan istinja.

Bagi yang mengeluarkan najis secara terus-menerus seperti wanita yang istihadhah atau penyakit kencing terus-menerus, maka dia wajib menjaga diri dari terkena najis, dan tidak harus beristinja setiap kali hendak salat.

Boleh berwudu terlebih dahulu (setelah buang hajat) sebelum beristinja menurut jumhur ulama.

Adab Buang Hajat
1. Berdoa sebelum masuk tempat buang hajat: Allaahumma innii a’uudzu bika minal khubutsi wal khobaaits.
2. Mendahulukan kaki kiri ketika masuk dan kaki kanan ketika keluar.
3. Tidak berzikir kepada Allah ketika buang hajat.
4. Tidak membawa sesuatu yang tertulis zikir kepada Allah seperti Alquran dll ke tempat buang hajat.
5. Tidak berbicara ketika buang hajat.
6. Menjauh dari pandangan manusia ketika di tempat terbuka menurut jumhur.
7. Menutup aurat dari pandangan manusia ketika buang hajat.
8. Tidak menghadap dan membelakangi kiblat ketika buang hajat di tempat terbuka menurut jumhur.
9. Tidak menghadap angin yang berhembus ketika buang air kecil.
10. Tidak buang hajat di masjid.
11. Tidak buang hajat di atas kuburan.
12. Tidak buang hajat di tempat berinteraksi dan bernaungnya manusia, seperti bawah pohon yang rindang dan berbuah.
13. Tidak buang hajat di lubang atau sarang di tanah.
14. Tidak buang hajat di pemandian atau kolam renang yang tergenang, tidak ada jalur air keluar.
15. Tidak berlama-lama di tempat buang hajat di luar kebutuhan
16. Berdoa setelah keluar dari tempat buang hajat: GhufroonaKa

Sifat Istinja
Jumhur berpendapat tidak disyaratkan bilangan tertentu ketika istinja. Jika kotoran tsb hilang dengan sekali basuh misalnya maka itu sudah mencukupi.

Hukum asal istinja adalah sambil duduk. Akan tetapi diperbolehkan kencing atau buang air kecil sambil berdiri selama aman dari percikan air kencing dan pandangan manusia.

Hukum asal istinja dengan tangan kiri. Jumhur berpendapat dimakruhkan beristinja dengan tangan kanan. Akan tetapi pendapat yang lebih tepat adalah hal tsb diharamkan.

Tidak disyariatkan memijat kemaluan setelah kencing.

Sifat Istijmar
Istijmar artinya beristinja atau membersihkan kotoran dari tempat keluarnya dengan batu atau yang semisalnya (selain air). Istijmar hukumnya mubah untuk membersihkan kotoran dari tempat keluarnya.

Diperbolehkan istijmar dengan apa saja yang suci dan bisa membersihkan misalnya kain, tisu, dll, selama bukan sesuatu yang dimuliakan seperti mushaf, peci, makanan, dll.

Syarat istijmar:
1. Dengan tiga batu, atau satu batu dengan tiga sisi.
2. Dengan sesuatu yang suci menurut jumhur. Tidak diperbolehkan istijmar dengan kotoran kering hewan yang haram dimakan.
3. Dengan sesuatu yang bisa membersihkan.
4. Bukan sesuatu yang cair.
5. Bukan tulang dan kotoran kering menurut jumhur ulama.

Disunahkan istijmar dengan bilangan ganjil. Jika tiga kali tidak cukup, maka lima, tujuh, dst.

Bekas najis yang tersisa setelah istijmar dimaafkan.

Roni Nuryusmansyah

Sumber: dorar.net

Talang Jambe
Kamis, 25 Zulkaidah 1441 / 16 Juli 2020
Hari pertama naik seli 🚲

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *