Dawai Kesedihan

Terkadang..
Mendungnya awan tak peduli dengan cerahnya mentari..
Ia mengubah pagi yang semestinya indah menjadi gulita yang menjamah..
Tak terduga!

Terkadang..
Amukan badai tak peduli dengan birunya lautan..
Ia mengubah tenangnya samudera menjadi getir yang membahana..
Kelu tak terkira!

Di saat dua insan hanyut dalam hakikinya persahabatan..
Duka itu datang..
Perpisahan menjadi suatu jalan yang tak kuasa terelakkan..

Di saat pasutri terbius dalam cinta dan kasih sayang sejati..
Duka itu datang..
Kematian hadir mengubah segalanya tanpa pernah peduli..

Dawai kesedihan kan selalu terdengar..
Selama lencana hidup masih kau sematkan..
Lantunan bait-bait syair syahdu..
Merasuk qalbu merangkai derita..

Tak usah kau bermimpi hidup tanpa sendu..
Karena kau tak tahu rasanya bahagia jika tak pernah menitikkan air mata..
Tak usah kau perdengarkan keluh kesah..
Tapi kuatkan hati dan bersabarlah..

Berharaplah dari semua kesedihan yang kau alami..
Allah akan menggantinya, dengan sesuatu yang jauh lebih berarti..
Meski tidak untuk saat ini..
Meski itu di akhirat nanti..

Penulis: Roni Nuryusmansyah
Artikel: www.kristalilmu.com

*)  Puisi ini ditulis secara bebas sekitar dua tahun yang lalu, di halaman paling belakang dari buku catatan hadits Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, ketika sedang duduk di depan perpustakaan, rehat sejenak dari tugas jaga perpustakaan.
Akhirnya, saya rampungkan hari Rabu, 17 Dzulqo’dah 1433 H / 3 Oktober 2012 M, dengan sedikit diedit dan ditambahkan beberapa bait di akhirnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *