Darah Manusia, Suci Atau Najis?

Sebagian ulama berpendapat bahwa darah manusia itu najis.

Mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala:

أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا

“Atau darah yang mengalir…” (QS. Al-An’am: 145)

Begitu juga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berpesan kepada wanita yang mengidap istihadah

وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِى عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّى

“Dan apabila darah haid itu telah berhenti, maka mandilah, bersihkanlah darah dari tubuhmu, kemudian salatlah.”[1]

Beliau juga berkata mengenai darah haid yang mengenai pakaian,

تَحُتُّهُ ثُمَّ تَقْرُصُهُ بِالْمَاءِ ثُمَّ تَنْضَحُهُ ثُمَّ تُصَلِّى فِيه

“Keruklah darah itu kemudian bilas dengan air, lalu siram dan cucilah, lantas salatlah dengan pakaian tersebut.”[2]

Berdasarkan hadis-hadis di atas mereka berpendapat najisnya darah manusia.

Sebagian ulama mengatakan darah yang keluar dari jasad manusia bukanlah najis kecuali darah haid.

Hal itu dikarenakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk mencuci darah haid. Adapun selain itu maka bukanlah najis.

Mereka berdalil dengan beberapa alasan:

  1. Asal segala sesuatu adalah suci
  2. Jika tangan seorang manusia dipotong maka potongan tangan tersebut suci. Nah, jika anggota badan yang terpisah dari jasad saja suci, maka darah lebih layak untuk dikatakan suci.Adapun darah haid maka ia dinyatakan najis berdasarkan hadis, karena ia merupakan darah yang busuk lagi kotor. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepada wanita yang mengidap istihadah,

    إِنَّمَا ذَلِكِ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِالْحَيْضَةِ

    “Sesungguhnya itu hanyalah darah penyakit dan bukan darah haid.”[3]

    Beliau membedakan antara darah penyakit dan darah haid. Hal itu telah diketahui dikarenakan kotor dan busuknya darah haid.

  3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memerintahkan para sahabat untuk memandikan syuhada yang berlumuran darah. Sekiranya darah itu najis maka ia akan memandikannya serta menghilangkan darah dari jasadnya karena darah itu najis. Tidak mungkin seorang syahid menemui Tuhannya sedangkan ia berlumuran najis.
  4. Dahulu kaum muslimin salat dalam keadaan terluka. Terlebih lagi dua orang sahabat yang diutus oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memata-matai musuh. Seseorang di antara mereka berdua salat dan yang lainnya berjaga-jaga. Saat itu seorang di antara mereka ditikam dalam keadaan salat sehingga darah mengalir dari tubuhnya. Akan tetapi ia tetap melanjutkan salatnya hingga selesai[4]. Seandainya darah itu najis, ia tidak akan meneruskan salatnya.
  5. Tidak adanya dalil yang menunjukkan najisnya darah manusia kecuali darah haid. Perbedaan antara darah haid dan darah alami ditinjau dari banyak sisi. Tidak sama dalam zatnya, juga tidak dalam hukumnya. Haid membuat seorang wanita wajib meninggalkan salat, puasa, mandi, dan tidak digauli oleh suami, serta hal-hal lain yang berkaitan dengan hukum. Darah haid itu busuk aromanya dan hitam pekat warnanya.

Maka pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah darah manusia itu suci, tidak najis, selain darah haid saja. Hal itu disebabkan tidak adanya dalil yang menunjukkan kenajisannya.

Adapun bantahan terhadap dalil yang berpendapat najisnya hadis dengan ayat,

أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا

“Atau darah yang mengalir…,” maka kita jelaskan kepada mereka bahwa yang dimaksud adalah darah yang mengalir dari hewan yang dimakan. Karena Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا

“Katakanlah, ‘Tidak kudapati di dalam apa yang telah diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan makanan bagi yang ingin memakannya, kecuali bangkai hewan, darah yang mengalir…” (QS. Al-An’am: 145)

Tidak terlintas di dalam benak orang yang membaca ayat ini bahwa maksudnya darah manusia, dan tidak pula yang dimaksud darah secara mutlak. Akan tetapi darah hewan yang dimakan.[5]

Catatan kaki:
[1] Muttafaqun ‘alaih: Bukhari, kitab haid, bab istihadah, dan Muslim, kitab haid, bab wanita yang istihadah dan mandi serta salatnya
[2] Muttafaqun ‘alaih: Bukhari, kitab wudu, bab mencuci darah, dan Muslim, kitab taharah, bab najisnya darah dan cara mencucinya
[3] Muttafaqun ‘alaih: Bukhari, kitab haid, bab apabila haid dalam sebulan tiga kali haid, dan Muslim, kitab haid, bab wanita yang istihadah dan mandi serta salatnya
[4] HR. Ahmad, dalam Musnad-nya, musnad Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Abu Dawud, kitab taharah, bab wudu dari darah, dan Baihaqi, dalam Sunan-nya al-Kubra, kitab taharah, bab meninggalkan wudu saat keluarnya darah dari selain tempat keluarnya hadas. Syekh Albani rahimahumullah al-jami’ menilai hadis ini hasan.
[5] Syekh (penulis) berkata di asy-Syarh al-Mumti’, “Jika seseorang berkata bahwa darah manusia itu suci selama tidak keluar dari dua lubang maka perkataan itu kuat.”

*) Diterjemahkan secara bebas dari kitab Mudzakirah al-Fiqh, karya Syekh Utsaimin, Kitab Ath-Thaharah, hal. 86-88,  Jilid pertama, Penerbit Darul Islam lin Nasyri wat Tauzi’ -Mesir-, 1428 H / 2008 M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *