Berburu Berkah di Pagi Hari

Di pagi pertama di tahun baru, 2012, sebuah tahun dengan bilangan yang dapat dibagi dengan empat atau yang disebut dengan tahun kabisat, seperti biasa aku bangun di pagi hari. Masih terngiang bunyi bising dari petasan dan kembang api semalam yang membuat aku sedikit diserang insomnia. Hari itu hari libur yang juga bertepatan dengan hari Ahad, hari libur pekanan. Setelah aku cek, setidak-tidaknya ada lima libur nasional yang bertepatan dengan hari Ahad. Berita buruk bagi para pendamba hari libur. Biasanya kalo hari libur, statistik blogku menaik drastis. Tapi anehnya, matahari telah tinggi namun pengunjung blogku masih seperti itu saja. Empat orang tok. Biasanya, sebelum matahari terbit, sudah ada sepuluh pengunjung yang nongkrong di beranda blogku. Setelah aku analisis, oh, perayaan malam baru semalamlah biang keroknya.  Bergadang hingga larut malam sampai kebablasan dan akhirnya tidur pulas dari pagi hingga siang menjadi rutinitas masal pergantian tahun.

Tahukah, ternyata tidur pagi bukan kebiasaan pendahulu kita. Para pedagang sukses membuka tokonya di pagi hari. Para pedagang sayur lebih pagi lagi. Ibu rumah tangga bangun pagi buat menyiapkan sarapan untuk keluarga. Terlebih lagi, para ulama memanfaatkan waktu pagi dengan berdzikir, beramal shaleh, dan mendekatkan diri kepada Allah, satu-satunya Dzat yang berhak disembah. Bahkan Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah suatu saat shalat shubuh. Kemudian (setelah shalat shubuh) beliau duduk sambil berdzikir kepada Allah Ta’ala hingga pertengahan siang. Kemudian berpaling padaku dan berkata, ‘Ini adalah kebiasaanku di pagi hari. Jika aku tidak berdzikir seperti ini, hilanglah kekuatanku’ –atau perkataan beliau yang semisal ini-.”[1]  Bertentangan memang dengan fenomena yang marak terjadi di masyarakat kita. Toko-toko buka ketika matahari telah jauh dari tempat pembaringannya. Pemuda-pemudi terbuai dalam tidurnya yang panjang hingga matahari terbit. Tak heran jika terlambat menjadi hal yang lumrah. Macet pun menjadi alasan. Kontras, seperti langit dan bumi, seperti kanvas hitam dan putih.

Hm, kira-kira apa resep mereka yang bangun pagi begitu semangat dan termotivasi untuk bangun pagi? Ternyata, mereka berburu berkah di pagi hari. Ini bukan khurafat murahan atau intuisi kacangan. Tapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendirilah yang telah memanjatkan doa, “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”[2] Mengapa pagi hari? Karena pagi harilah waktu dimulainya berbagai aktivitas manusia dan padanya seseorang merasakan semangat setelah terbangun dari istirahat. Sebagai penerapan langsung dari doanya, ketika Nabi hendak mengutus pasukan perang, maka Beliau mengutusnya pada pagi hari agar mereka mendapat keberkahan dan meraih pertolongan serta kemenangan. Bahkan, Shakhr al-Ghamidiy radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang meriwayatkan hadits ini dan juga seorang pedagang langsung membuktikan kebenaran doa Nabi tersebut. Tidaklah ia mengirimkan barang dagangannya melainkan di pagi hari sehinggga ia memperoleh keberkahan Allah. Perniagaannya sukses besar dan hartanya pun melimpah ruah. Sebuah pelajaran penting yang seharusnya dipetik oleh para pengusaha muslim. Berdasarkan hadits di atas pulalah sebagian ulama menghukumi makruhnya tidur di pagi hari. Bahkan bisa menjadi haram jika dilakukan dengan sengaja sehingga melalaikan kewajiban sholat Subuh.

Hadits di atas pun menjadi bukti nyata bahwa Islam tidak mengajarkan kepada umatnya untuh hidup bermalas-malasan, semangat tempe, dan bercita-cita rendah. Sebaliknya, Islam mengajarkan kepada umatnya untuk hidup produktif, penuh semangat, kerja keras, pantang menyerah, berjiwa besar dan gigih untuk mewujudkan cita-citanya walau setinggi langit. Hadits ini juga menjadi bukti akan terkabulnya doa Nabi sehingga jadilah pagi hari sebuah waktu yang penuh dengan keberkahan. Jadi, tak selayaknya kita begadang malam untuk hal yang tidak bermanfaat sehingga membiarkan berkah waktu pagi hilang begitu saja dipatok ayam. Karena dengan tidak begadang malam, kita lebih mampu untuk bangun lebih pagi sehingga siap untuk berburu berkah di pagi hari dengan cara memaksimalkan waktu pagi dalam hal yang bermanfaat, baik untuk dunia maupun akhirat.

8 Shafar 1433 H / 2 Januari 2012 M
Pagi hari yang penuh berkah

Penulis: Roni Nuryusmansyah
Artikel: www.kristalilmu.com

 

__________
[1] Al Wabilush Shoyib min Kalamith Thoyib
[2] HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa-i, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Albani

Comments

  1. Reply

    • By Roni Nuryusmansyah -admin-

      Reply

  2. By Lisna

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *